Monthly Archives: May 2012

Menuju Era Kapitalisme Terjejaring (Dunia, Kehidupan, Jejaring Produksi)

Standard

Menuju Era Kapitalisme Terjejaring,

atau Bagaimana Dunia dan Kehidupan Menjadi Jejaring Produksi[1]

Hizkia Yosie Polimpung

Pasca-Fordisme

Di sekitar 1970an, kapitalisme model Fordis di banyak negara industri maju mulai bermutasi ke variannya yang disebut-sebut sebagai pasca-Fordis. Secara umum, pola manajerial yang tadinya terotomasi, kaku dan tersentralisir, kini berubah menjadi lebih fleksibel, longgar dan terdesentralisir. Namun demikian, perubahan tersebut tidak seharusnya dipahami secara kuantitas saja, melainkan kualitas-nya, atau dengan kata lain, paradigma atau logika yang mendasarinya. Mutasi pasca-Fordisme membawa perubahan fundamental bagi beroperasinya kapitalisme itu sendiri. Restrukturisasi hampir di segala sektor adalah efek dari mutasi ini. Namun demikian, dua yang akan diberi porsi pembahasan di sini adalah pada modus produksi dan manajemen pekerja.

Sebelum masuk pada pembahasan kedua variabel tersebut, ada baiknya dibahas sedikit mengenai asal-usul transisi tersebut secara singkat.[2] Untuk memotong cerita, singkatnya terjadi krisis pada manajemen Fordisme saat marak terjadi protes bahkan pemogokan oleh buruh. Buruh yang mulai menyadari peran vitalnya dalam proses produksi kapitalis, mulai merapatkan barisannya, memperkuat serikat buruh dan menaikkan posisi tawarnya di hadapan pihak manajemen. Para buruh menolak kerja overtime yang kerap diperintahkan demi meningkatkan produktivitas pabrik (mengingat saat itu produksi massal menjadi ujung tombak bagi kapitalisme). Alhasil pemogokan terjadi di mana-mana.[3] Efeknya tentu detrimental bagi pihak manjemen: produksi terhenti, akumulasi kapital terganggu, profit mandek. Di sini kapitalisme berada di ambang transisi.

Sejarah menunjukkan, politik-ekonomi neoliberal turut membantu menyelesaikan krisis ini. Serikat buruh dibubarkan, sistem kerja kontrak (outsource) diperkenalkan, relokasi industri difasilitasi dan berbagai instrumen hukum untuk memperkuat manajemen vis a vis buruh dikeluarkan. Semuanya demi satu hal: menciptakan iklim bisnis yang kondusif. Namun demikian yang menarik adalah apa yang terjdai di dalam pabrik kapitalisme itu sendiri. Transformasi paradigmatik melanda pola manajerial kapitalisme yang kesemuanya dilakukan tidak hanya untuk keluar dari problem pemogokan buruh ini, melainkan juga untuk mencegah tragedi serupa di kemudian hari. Tepat pada konteks inilah kita sebaiknya meletakkan dan memahami rupa-rupa transformasi—yang kali ini di bahas adalah pada lini produksi dan manajemen pekerja—dalam logika kapitalisme, yaitu untuk menundukkan para pekerja dan membuat mereka kembali bekerja.[4]

Restrukturisasi logika produksi kapitalisme sangat ditentukan dari caranya menyelesaikan setiap krisis yang melandanya. Setiap gestur untuk menyelesaikan krisis tersebut akan senantiasa diiringi dengan munculnya teknologi[5] baru, baik itu di lini produksi maupun di lini manajemen buruh.

Di lini produksi setidaknya terjadi beberapa transformasi: pertama, pada sifat produksinya yang tidak lagi berupa produksi massal dan in advance, melainkan eksklusif dan just in time. Produksi kini mensyaratkan komunikasi konstan dengan para konsumen di luar sana. Saat konsumen memesan, barulah produk diproduksi. Kedua, bentuk produk yang diproduksi pun mulai mengalami variasi jika bukan perubahan ke arah yang lebih berorientasi jasa—mulai kesehatan, pendidikan, konsultan, transportasi, keuangan, hiburan, komunikasi dan periklanan. Ketiga, kualitas produk yang tidak lagi bernilai material, melainkan mulai bersifat imaterial. Hal ini terlihat dengan bergesernya nilai suatu barang dari nilai guna ke nilai simbolik.[6] Konten dan sifat kultural, informasional dan afektif yang tadinya tersier, perlahan mulai menggantikan konten dan sifat instrumental dan industrial dari suatu produk yang tadinya primer.

Di sisi manajemen pekerja juga terjadi beberapa transformasi. Pertama, pekerja yang tadinya spesifik mengerjakan satu bagian saja, kini mulai disyaratkan untuk mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus dan mampu bertahan di bawah tekanan; singkatnya, fleksibilitas mulai muncul sebagai suatu bentuk kerja “modern.” Kedua, seiring dengan bergesernya produksi ke bentuk yang lebih imaterial, maka ia mensyaratkan jenis pekerja baru, atau yang disebut sebagai pekerja imaterial.[7] Pekerja imaterial ini tentu mensyaratkan kualifikasi yang lebih dari pada pekerja material konvensional; ia diharapkan berpendidikan, memiliki kemampuan khusus tertentu, singkatnya terspesialisasi. Ketiga, terkait ruang dan waktu kerja yang tadinya fix, seiring dengan fleksibiliasasi dan spesialisasi, mulai menjadi longgar dan tidak menentu: seseorang bisa bekerja di rumah, kafe, taman dengan pakaian apapun dan tidak harus seragam, dan bisa kapanpun: yang penting pekerjaan selesai. Keempat, pola koordinasi pun menyaksikan perubahan yang cukup dramatis: pola assembly line kini digantikan dengan pola jaringan semenjak para pekerja berpencar kemana-mana (mencari konsumen, menjajakan produk, dst.).[8]

Daftar-daftar ini bisa bertambah panjang, namun alasan fokus membuat saya membatasi sampai di sini saja.[9] Fokus yang ingin saya soroti pada tulisan ini adalah bagaimana transformasi ini turut mensyaratkan kehadiran faktor lainnya, yaitu teknologi informasi dan komunikasi. Bagaimanakah mendekatkan bagian produksi, bagian pemasaran dengan konsumen? Atau bagaimana mengkoordinasikan tim-kerja dalam konteks pola jaringan? Menciptakan beragam iklan pemasaran? Mendesain suatu bungkus produk? Menangkap animo pasar? Menjawab keluhan konsumen? … jawabannya hampir sama semua: melalui media komunikasi. Komunikasi dengan demikian masuk dan memainkan peran vital baik bagi produksi maupun manajemen pekerja dalam kapitalisme pasca-Fordis. Tulisan ini akan memberikan selayang pandang kiprah komunikasi dalam kapitalisme: perannya dan implikasi yang dihasilkannya.


Evolusi mutakhir komunikasi

Komunikasi-diri massa

Saat kapitalisme membutuhkan komunikasi, maka bisa dimaklumi perkembangan infrastruktur dan teknologi komunikasi berkembang pesat.[10] Departemen penelitian dan pengembangan (litbang) dari masing-masing perusahaan mengembangkannya. Belum lagi mulai bermunculan perusahaan-perusahaan yang khusus menyediakan jasa dan produk komunikasi tersebut: mulai dari telepon, intercom, komputer, intranet, internet, telepon seluler, smart phone, BlackBerry, iPad, dst. Setidaknya bisa dilihat di sini bahwa perkembangan teknologi komunikasi tidak lepas dari konteks spesifik zamannya, yaitu saat ia menjadi faktor vital bagi produksi kapitalisme. (Hal ini penting untuk menghindari pandangan bahwa kemajuan teknologi adalah sesuatu yang niscaya sifatnya).

Perkembangan pesat teknologi komunikasi ini sering disebut sebagai revolusi teknologi komunikasi dan informasi. Salah satu terobosan dalam revolusi ini adalah dengan diciptakan dan diproliferasikannya internet. Internet sendiri pertama kali muncul pada tahun 1969, namun baru mulai dipakai secara luas baru sekitar 20 tahun kemudian. Pengguna internet pun meningkat: pada 1995 berada pada kisaran 40 juta, sementara pada 2008 mencapai angka 1,4 miliar; begitu pula dengan digital divide antara negara “maju” dan berkembang yang semakin menyusut: 80,6:1 pada 1997 menjadi 5,8:1 pada 2007. Korelat teknologi jaringan internet lain yang juga memainkan peran vital adalah teknologi nirkabel (wireless) yang memungkinkan mobilitas sembari terkoneksi ke internet. Dimulai pada sekitar 1990 dengan pengguna sekitar 1,6 juta menjadi 3,8 miliar orang pada 2008 yang diperkirakan mencapai 52% total populasi dunia.[11]

Lantas pertanyaannya kemudian, bagaimanakah revolusi aparatus komunikasi ini berdampak pada prinsip dan hakikat komunikasi itu sendiri? Terkait dampak internet, Castells menggambarkan, “[i]nternet [… ] is the communication fabric of our lives, for work, for personal connection, for social networking, for information, for entertainment, for public services, for politics, and for religion.”[12] Singkatnya, komunikasi identik dengan kehidupan itu sendiri. Para pengguna internet, tidak lagi sekedar “menggunakan,” lebih dari itu, mereka hidup dengan internet. Sehingga sebenarnya, sekali lagi dari Castells, menjadi problematik apabila adalah mobilitas yang dituju oleh teknologi komunikasi nirkabel; lebih dari itu: ‘konektivitas abadi’.[13]

Salah satu fitur perkembangan yang berperan signifikan dalam membentuk modus hidup internet adalah teknologi web 2.0. Web 2.0 merupakan upgrade web sebelumnya yaitu dalam hal interaktivitas. Web 2.0 memungkinkan umpan-balik yang interaktif antara pengguna dengan developer website. Menjadi semakin populer saat Web 2.0 menjelma ke blog (WordPress, Blogspot, dll.) dan situs-situ jaringan sosial (Friendster, MySpace, Facebook, dst.) melalui teknologi UGC, yaitu user-generated content. Melalui UGC, developer hanya menyediakan platform, sementara konten dari website tersebut diisi oleh pengguna. Tidak hanya itu, para pengguna bisa saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Hal ini pun berikutnya membawa kita pada kultur berbagi (sharing) dan menandai (tagging). Melalui Web 2.0 dan UGC, kehidupan sosial pelan-pelan dipindahkan ke dunia internet. Seperti kata Sean Parker dalam film Social Network (2010), “It is the true, the digitalization of your life. […] We lived on farms. And then we live in cities, and now we are going to live on the internet.” Pertimbangkan juga yang disampaikan pemeran Mark Zuckerberg tentang Facebook, “I’m talking about taking the entire social experience of college and putting it online.”[14]

Memahami komunikasi di era jaringan internet seperti ini, ditambah kenyataan tentang penggunaan internet yang tidak lagi sekedar instrumental melainkan lebih pada modus kehidupan, maka kita perlu memikirkan ulang model-model komunikasi yang ada. Hal ini demikian karena perkembangan di aras material akan berkorelasi positif apa pada pekembangan di aras ideasional. Melalui teknologi Web 2.0 dan UGC-nya, telah dimungkinkan sekaligus dilahirkan suatu bentuk komunikasi yang baru, yaitu komunikasi diri-massa (mass self-communication).[15] Jika sebelumnya telah dikenal komunikasi interpersonal, komunikasi publik dan komunikasi massa, maka kini kita menyaksikan muncul dan semakin maraknya komunikasi-diri massa. Komunikasi-diri massa masih merupakan varian komunikasi massa, hanya saja ia lebih maju dalam hal mengatasi keterbatasan yang diderita komunikasi massa konvensional: yaitu se-arah.

Jadi, komunikasi-diri massa memiliki elemen komunikasi massa, dalam hal ia berpotensi mencapai audiens yang jumlahnya tak terbatas, dimanapun itu dan kapanpun. Namun demikian, ia merupakan komunikasi-diri baik dalam proses perangkaian pesan, pengarahan, penyuntingan, dst., maupun dalam hal sifatnya yang merupakan sebentuk ekspresi diri. Melalui Facebook, misalnya, seseorang bisa memilih fotonya yang paling cool, memasang status yang njelimet, memajang info diri yang tampak “intelek,” dst. Tidak bisa dipungkiri, hari ini, komunikasi-diri massa berikut aparatus teknologinya telah berceceran dimana-mana.

Lalu bagaimana menjelaskan ini semua dalam kaitannya dengan kapitalisme? Untuk menjabarkan jawaban pertanyaan ini, saya mengajukan argumentasi bahwa pertama-tama komunikasi beserta aparatus teknologinya hadir untuk memfasilitasi kapitalisme, namun berikutnya ia berkembang menjadi sesuatu yang melekat sekaligus konstitutif bagi kapitalisme itu sendiri. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada mulanya adalah komunikasi kapitalis, namun akhirnya bermutasi menjadi kapitalisme komunikatif. Untuk kepentingan tulisan ini, saya akan menekankan pembahasan pada yang kedua.


Komunikasi Kapitalis dan Kapitalisme Komunikatif

Komunikasi kapitalis saya kira tidak begitu kompleks untuk dipahami. Ia terjadi saat komunikasi dipakai menjadi instrumen bagi akumulasi kapital. Diskusi pada umumnya terjadi pada perdebatan mengenai siapa siapa, yang disebut mogul, yang menguasai media: memiliki saham, mengoperasikannya, mengatur agenda, mengarahkan pemberitaan, dst. Pembahasan seperti ini banyak ditekankan oleh para teoritisi media kritis. Tujuan dari upaya intelektual mereka adalah memetakan kepentingan yang bermain di balik beroperasinya media-media. Salah satu temuan unik mereka adalah paradoks dalam proliferasi media: semakin banyak perusahaan-perusahaan media bermunculan, justru semakin terkonsentrasi kepemilikan media. (lihat Skema 1). Inilah paradoks dalam demokrasi media hari-hari ini.

Skema 1 Interkonektivitas korporasi media dan internet multinasional per Februari 2008.[16]

            Namun demikian, sekalipun tidak bisa dipungkiri lagi kontribusi studi semacam ini, mengungkapkan konstelasi media tidak serta merta memahami bagaimana komunikasi berperan tidak hanya secara instrumental, melainkan secara konstitutif bagi proses produki kapitalisme. Di sinilah kita masuk pada diskusi mengenai kapitalisme komunikatif, yaitu kapitalisme yang mendasarkan keberlangsungannya pada komunikasi.[17] Secara umum kapitalisme komunikatif dapat dilihat sebagai dua hal. Pertama, sebagai prakondisi material bagi berjalannya kapitalisme itu sendiri. Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa model produksi dan manajemen kerja pasca-Fordisme memerlukan kecepatan dan keakuratan transmisi informasi yang disediakan oleh aparatus komunikasi. Sehingga dengan maraknya produksi produk-produk komunikasi, maka dengan sendirinya berkorelasi positif bagi kapitalisme dalam hal akselerasi proses-proses produksi dan manajerial. Dengan BlackBerry misalnya, suatu koordinasi tim kerja bisa berlangsung secara real-time, transaksi email bisa dilakukan dalam sekejap, begitu pula untuk pertukaran media (gambar, dokumen, musik, dst.). Kemunculan BlackBerry tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks persaingan gadget yang mendahuluinya tentunya. BlackBerry, secara singular, hadir sebagai hasil inovasi yang menawarkan kebaruan sekaligus solusi bagi perkembangan gadget sebelumnya.

Kedua, sebagai prakondisi imaterial. Memahami hal ini menuntut kita untuk masuk ke hakikat dari komunikasi itu sendiri. Apabila komunikasi sebelumnya dipahami dalam konteks ‘pengirim-pesan-penerima’ (model linier), maka dengan hadirnya fenomena komunikasi-diri massa dan digitalisasi kehidupan, model tersebut menjadi tidak relevan. Kredo konektivitas abadi dari kedua fenomena ini membuat komunikasi tereduksi pada aspek performatifnya saja, sementara pesan itu sendiri menjadi tidak begitu relevan. Pesan, akhirnya hanya dihitung secara statistikal sebagai kontribusi dan partisipasi yang kosong semata pada konteks sirkulasi pesan yang lebih luas, yaitu jejaring informasi komunikasi itu sendiri;

“Its particular content is irrelevant. Who sent it is irrelevant. Who receives it is irrelevant. That it need be responded to is irrelevant. The only thing that is relevant is circulation, the addition to the pool. Any particular contribution remains secondary to the fact of circulation […] A contribution need not be understood; it need only be repeated, reproduced, forwarded.”[18]

Repetisi praktik komunikasi adalah yang dituju oleh model kondisional ini; komunikasi demi komunikasi demi komunikasi demi komunikasi… Inilah pergeseran paradigmatik yang terjadi saat komunikasi telah bersatu dengan kapitalisme—kapitalisme komunikatif.

Memahami pergeseran ini mensyaratkan kita untuk melihat bagaimana tepatnya model komunikasi kondisional ini mengkondisikan, sekaligus menjadi elemen dasar bagi produksi kapitalisme. Dengan memperformatifkan komunikasi dan mereduksinya kepada sekedar partisipasi, maka komunikasi membuka jalan bagi kapitalisme untuk mengkomodifikasi partisipasi. Setiap pesan yang masuk, yang dihitung sebagai partisipasi, akan direkam sedemikian rupa, dan akumulasi partisipasi ini menjadi sekelompok audiens yang berpotensi “dijual” sebagai target iklan. Mereka-mereka ini, dengan partisipasinya, ditransformasi menjadi suatu komoditas, atau yang disebut Dallas Smythe sebagai komoditas audiens.[19] Contoh sederhana dapat dilihat, lagi, melalui Facebook: esensi dari partisipasi kita tidaklah penting, apapun status kita, segagah apapun foto kita, serumit apapun deskripsi diri kita, dst., adalah tidak relevan; yang penting kita terdaftar sebagai pengguna Facebook dan terhitung dalam statistiknya, untuk kemudian statistik tersebut dijual kepada pengiklan. Alhasil, halaman Facebook kita tidak akan lepas dari iklan.[20] Selain komoditas audiens, maraknya berkumpul pengguna-pengguna, dalam bentuk avatarnya masing-masing tentunya, maka terciptalah ruang baru untuk transaksi kapitalis. Alhasil, lapak-lapak dunia maya bermunculan: online shop, butik online, bahkan sampai jasa kencan online dan jual-beli voucher game!

Apa artinya semua ini? Saya kira cukup jelas, dengan mengkondisikan pertukaran kapitalis itu sendiri, komunikasi menyediakan relasi sosial produksi yang baru bagi kapitalisme. Kembali sejenak ke diskusi tentang pekerja imaterial, dapat dilihat bahwa kerja-kerja komunikasi (web master, web desainer, konsultan web, penyedia jaringan inter/intranet, dst.) adalah produk dari kerja imaterial tersebut. Tidak hanya itu, bahkan melalui partisipasi kita, kita justru membangun, memperkuat dan melestarikan eksistensi jaringan sosial tersebut. Partisipasi harus dibaca sebagai upaya reproduksi sistemik; kontirbusi harus dilihat sebagai bentuk dari kerja imaterial. Sehingga saat pekerja imaterial ini berproduksi, maka ia sedang menciptakan peluang produksi baru bagi kapitalisme. Pekerja imaterial tidak hanya memproduksi barang komoditas, ia memproduksi sistem kapitalisme itu sendiri.


Implikasi

Sekarang saatnya mengkapitulasikan pemaparan di atas dan meraba implikasi yang mungkin dihasilkannya. Masih dalam koridor modus produksi dan manajemen pekerja. Dari lini produksi, dapat dicatat bahwa inkorporasi aparatus komunikasi dan jejaring informasi turut berkontribusi secara aktif dalam mentransformasi, secara kualitas, pekerja itu sendiri. Pekerja tidak lagi memproduksi hal-hal yang sifatnya material, melainkan imaterial—komunikatif, afektif, dst. Sedangkan melalui konsep komoditas audiens, dapat dilihat bahwa distingsi antara konsumen (pengguna) dan pekerja menjadi kabur. Saat saya, misalnya, berpartisipasi di Facebook, saya tidak hanya menjadi pengguna, melainkan saya menjadi komoditas—sebagai bagian dari data statistik untuk dijual ke pengiklan—sekaligus menjadi pekerja imaterial—dalam hal saya berkontribusi dalam melestarikan Facebook tersebut melalui partisipasi aktif saya sehingga jejaring sosial tersebut, yang memprakondisikan pertukaran kapitalis, yang notabene sebentuk kerja imaterial.

Kedua, masih dalam lini produksi, perubahan juga terjadi pada konsep alat/faktor produksi. Saat “memerankan” pekerja imaterial dalam kapitalisme komunikatif, maka kita hampir tidak membutuhkan alat produksi yang spesifik—mesin, dst., yang kita butuhkan hanyalah seperangkat bahasa, beberapa pixel foto, dan sedikit keulungan menggombal karangan deskripsi, plus sedikit ketelatenan untuk mengomentari status orang lain. Lalu siapa yang tidak memiliki “alat-alat produksi imaterial” ini? Tidak ada; semua orang memiliki, namun alat-alat produksi tersebut diapropriasi, disadari atau tidak, oleh kapitalisme untuk kepentingan reproduksi dirinya sendiri. Apa artinya? Dalam kapitalisme komunikatif, semua orang berpotensi menjadi pekerja imaterial, dan semenjak pekerja imaterial adalah pekerja yang alat produksinya telah selalu diapropriasi oleh kapitalisme, maka seluruh pekerja imaterial dalam kapitalisme komunikatif berpotensi menjadi proletariat dunia maya, cybertariat[21].

Dari lini manajemen pekerja, selain koordinasi yang berubah gaya dan operasionalnya, hal yang lebih dramatis berubah adalah konsep ‘pabrik’, atau situs produksi itu sendiri. Semenjak kerja bisa dilakukan di manapun dan kapan pun, maka fleksibilisasi terjadi pada konsepsi ruang kerja dan jam kerja. Apa artinya? Seluruh dunia dan waktu kehidupan berpotensi menjadi pabrik/situs produksi kapitalis itu sendiri. Teknologi informasi komunikasi jejaring memungkinkan itu semua terjadi: komunikasi real time, koordinasi instan, pengiriman order secara kilat, dst. Pabrik, kini bertransformasi menjadi pabrik sosial, yang mana ia bersinggungan dengan keseluruhan aspek kehidupan. Implikasi paling ekstrimnya adalah saat pabrik sosial terjejaring ini menjadi hegemonik, maka adalah hidup itu sendiri yang menjadi taruhannya: hidup akan tereduksi kepada kegiatan produksi kapitalis; hidup tidak lebih dari kerja, kerja, dan kerja. (HYP)


[1] Draft makalah, untuk disajikan pada workshop “Kapitalisme Global,” Center for Global Civil Society Studies (PACIVIS), Universitas Indonesia, Depok, 4 November 2011.

[2] Untuk pembahasan ekstensif mengenai ini silakan lihat tulisan Bramantya Basuki, Kilas Historis Kapitalisme: Perihal Transisi tayloris-Fordisme menuju Post-Fordisme, disajikan pada workshop “Kapitalisme Global,” Center for Global Civil Society Studies (PACIVIS), Universitas Indonesia, Depok, 25 Okt – 4 Nov 2011; Ash Amin, Post-Fordism: A Reader (London: Blackwell, 1994); Ben Trott, “Immaterial Labour and World Order: An Evaluation of A Thesis,” Ephemera, 7, 1 (2007).

[3] Dokumentasi ini dapat dilihat di Immanuel Ness & Dario Azzellini, Ours to Master and to Own: Worker’s Control from the Commune to the Present (Chicago: Haymarket Books, 2011); ilustrasi singkat lainnya, yang kali ini fokus pada tempat asal Fordisme, yaitu Amerika Serikat, lihat George Caffentzis, From Capitalist Crisis to Proletarian Slavery: An Introduction to Class Struggle in the US, 1973-1998, diakses dari http://libcom.org/library/capitalist-crisis-proletarian-slavery-introduction-class-struggle-us-1973-1998.

[4] Apa yang saya bahas di sini adalah gambaran umum saja. Tentu di setiap negara memiliki variasi transformasi yang berbeda-beda dengan keunikannya masing-masing. Namun demikian, fitur utama transisi tersebut secara umum sama. Untuk pembahasan lebih mendetil mengenai variasi ini, lihat Manuel Castells & Yuko Aoyama, “Path Towards the Informational Society: Employment Structure in G-7 Countries, 1920-90,” International Labour Review, 133, 1 (1994).

[5] Teknologi ini di sini sebaiknya dipahami dalam artinya yang luas, tidak hanya sekedar gadget atau robotika. Teknologi merupakan bentuk material hasil kristalisasi upaya sistematis manusia untuk menyelesaikan suatu problem spesifik dan riil yang ia jumpai di lapangan. Ia bisa berbentuk gadget atau robotika tadi, namun juga mekanisme, prosedur, skema konseptual organisasional, dst. Jika handphone adalah teknologi untuk mengatasi problem jarak komunikasi, maka skema multi-level marketing merupakan teknologi untuk mengatasi problem kekakuan waktu dan tempat kerja yang kontra-produktif bagi akumulasi modal.

[6] Marx membedakan tiga macam nilai: nilai guna, nilai tukar dan nilai lebih. Nilai guna adalah nilai yang dihasilkan suatu produk untuk kegunaan langsung. Nilai tukar  muncul saat produk tersebut dipertemukan dengan produk-produk lainnya. Sehingga dengan kata lain, nilai tukar adalah bergantung pada relasi sosial yang memungkinkan pertemuan antar-produk tersebut yang notabene telah terlebih dahulu ada mendahuluinya. Nilai lebih, kemudian, adalah selisih antara nilai tukar dengan nilai pakai; selisih inilah yang kemudian menjadi profit. Profit ini berikutnya direkapitalisasi dan diinvestasikan untuk mengintesifikasi produksi. Problemnya, hanya pemilik modal yang mampu mempekerjakan orang (yi. proletar) untuk memproduksi nilai lebih (profit) baginya. Untuk nilai lainnya, perkembangan dari ketiga konsep ini, yaitu nilai simbolik (symbolic value), silakan lihat Jean Baudrillard, For A Critique of the Political Economy of Sign, terj. C. Levin (Telos Press, 1981).

[7] Maurizio Lazzarato, “Immaterial Labor,” terj., P. Colilli & E. Emery, dalam M. Hardt & P. Virno, peny., Radical Thoughts in Italy: A Potential Politics (Minnesota:University of Minnesota Press, 1996).

[8] Untuk perubahan struktur organisasi perusahaan, lihay Manuel Castells, The Rise of the Network Society (The Information Age, vol I), edisi kedua (Oxford: Blackwell, 2010), hal. 176.

[9] Kritik standar bagi uraian ini adalah bahwa bentuk produksi dan manajemen kerja seperti ini masih sedikit dibanding bentuk yang lebih konvensional. Belum lagi kritik bahwa hal tersebut hanya terjadi di negara-negara “industri maju” saja. Tidak ada yang salah dengan ini semua, namun satu hal yang perlu saya tekankan adalah bahwa kuantitas tidak selamanya menentukan. Bahkan, pergeseran ini akan lebih baik dipahami sebagai sesuatu yang bersifat kualitatif. Sehingga yang perlu dijelaskan justru pada perubahan yang mumpung masih sedikit ini: mengapa ia bisa muncul? Bagaimana ia dimungkinkan terjadi? Dst. Lagipula hal ini juga pernah terjadi pada abad 19 dan 20 saat kerja industri yang tadinya minoritas perlahan-lahan mengambil alih kerja agraris. Adalah pergeseran paradigmatik ini yang perlu dijelaskan, dan bukan semata-mata demonstrasi statistikal kuantitatif. Secara metodologis, pendekatan yang saya pakai adalah apa yang disebut ‘tendensi historis’. Lih. Michael Hardt & Antonio Negri, Multitude: War and Democracy in the Age of Empire (London: Penguin, 2004), hal. 140-53; lihat juga tulisan Bramantya Basuki, Kilas Historis Kapitalisme.

[10] Dokumentasinya bisa dilihat di Castells, Network Society, bab 1.

[11] Disadur dari Manuel Castells, Communication Power (Oxford: Oxford Uni Press, 2009), hal. 61-3, Alexander R. Galloway, Protocol: How Control Exist after Decentralization (Cambridge, Mass: MIT Press, 2004), dan, sekaligus untuk uraian historis yang ekstensif, Lelia Green, Internet: An Introduction to New Media (Oxford, NY: Berg, 2010), bab 2.

[12] Castells, Communication Power, hal. 64.

[13] Ibid., hal. 69.

[14] Contoh lainnya adalah kencan online, permainan multiplayer online, dst.

[15] Disebut pertama kali oleh Manuel Castells, Communication  Power, hal. 55.

[16] Dari Amelia Arsenault & Manuel Castells, “The Structure and Dynamics of Global Multi-Media Business Networks,” International Journal of Communication, 2 (2008).

[17] Diutarakan pertama kali oleh Paul Passavant, sekalipun dipakai, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Jodi Dean. Lihat Jodi Dean, “The Networked Empire: Communicative Capitalism and the Hope for Politics,” dalam P.A. Passavant & J. Dean, peny., Empire’s New Clothes: Reading Hardt & Negri (NY, London: Routledge, 2004) dan Jodi Dean, “Communicative Capitalism: Circulation and the Foreclosure of Politics,” Cultural Politics, 1, 1 (2005)

[18] Dean, “Communicative Capitalism,” hal. 58-9.

[19] Tandas Smythe lebih jauh, “readers and audience members of advertising-supported mass media are a commodity produced and sold to advertisers because they perform a valuable service for the advertisers.Dallas Smythe, Dependency Road: Communications, Capitalism, Consciousness, and Canada (Norwood: Ablex, 1981), hal. 8. Penekanan dari naskah asli.

[20] Sampai tulisan ini ditulis, iklan tersebut ada di sebelah kanan frame laman Facebook.

[21] Konsep ini dikemukakan oleh Ursula Huws, The Making of Cybertariat: Virtual Work in a Real-World (NY: Monthly Review Press, 2003)

Problematisasi Kelas, via Jam Kerja, via Begadang dan Malam Mingguan [Bagian I]

Standard

Problematisasi Kelas, via Jam Kerja, via Begadang dan Malam Mingguan

Hizkia Yosie Polimpung

 

Apakah “begadang”? Apakah “malam mingguan”? Apakah keduanya semata-mata suatu aktivitas remeh? Tulisan singkat ini menggelengkan kepala untuk pertanyaan ini. Bahkan, akan ditunjukkan, bahwa melalui problematisasi dua istilah yang relatif gak penting ini, konsep-konsep penting lainnya, yang telah diterima begitu saja, menjadi dipertanyakan. Ujung dari problematisasi ini selanjutnya dapat dilihat sebagai suatu kontribusi untuk memperbarui cara pandang dalam melihat kehidupan dalam situasi dan kondisi kontemporer.

Niatnya, tulisan ini hanya beberapa paragraf saja. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan tulisan ini menjadi semakin panjang, maka sebaiknya sedikit dipaparkan secara garis besar, baik argumentasi dan sistematika pembahasannya. Hitung-hitung, jaga-jaga supaya pembacaan tidak tersesat di padang gurun ngalor-ngidul tulisan ini. Ada tiga argumentasi yang saya janjikan melalui tulisan ini: pertama, bahwa begadang dan malam-mingguan harus dilihat sebagai manifestasi idiologi kapitalisme; kedua, bahwa kedua istilah ini erat kaitannya dengan, terutama, konsep jam kerja dan kerja itu sendiri; ketiga, problematisasi kedua istilah dan kedua konsep ini akan membawa pada suatu pemahaman baru pertama-tama, akan konsep kelas, dan akhirnya akan kondisi kehidupan dalam kapitalisme kontemporer, atau yang disebut sebagai pasca-Fordisme, yang di dalamnya kelas buruh dan kelas budak (slave) tidak bisa lagi dibedakan. Pembagian sistematika pembahasan akan mengikuti ketiga argumentasi ini. Satu disclaimer metodologis: tulisan ini akan membahas yang-pada-umumnya saja karena memang tujuannya adalah mengintervensi wacana di tingkatan generalitas, di tingkat yang-pada-umumnya. Pengecualian-pengecualian spesifik, akhirnya, tetap butuh riset yang lebih spesifik. (Namun demikian, demikian argumentasi utama saya, totalitas idiologis kapitalisme kontemporer yang dibahas pada bagian ketiga, akan membuat pengecualian-pengecualian ini menjadi tidak begitu penting, karena ia ternyata adalah negativitas yang by default disediakan oleh kapitalisme itu sendiri.)

I. “Kalo begadang tuh pas malem-mingguan aja. Sering-sering gak baik, bisa sakit.”

Subjudul di atas adalah pesan singkat yang saya dapat dari seorang kawan saya saat tahu bahwa saya masih terjaga di sekitaran pukul tiga pagi, yang mana pada umumnya orang sedang terlelap, tidur, mengisi ulang tenaga agar keesokan harinya bisa segar dalam bekerja, mendulang pencaharian, … dan begitu seterusnya, berulang-ulang. Sampai tiba hari jumat: TGIF—thanks God it’s Friday, kata orang-orang ini. Artinya, malam minggu telah tiba. Saatnya berhenti bekerja, dan mulai bersenang-senang, hura-hura, rekreasi, menghilangkan kepenatan. Dan lagi, begitu pula seterusnya. Seolah-olah segalanya tampak normal; begitu pula ungkapan pesan singkat di atas.

Terkait pesan singkat yang menjadi subjudul di atas, akan ditunjukkan dimensi idiologis yang terkandung di dalamnya. Hal ini tidak lantas membuat saya meragukan apalagi menafikan ketulusan yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Sama sekali tidak! Justru ketulusan yang memotivasi ungkapan ini semakin menambah bobot urjensi analisis kritis idiologis atas ungkapan tersebut. Ugly truth-nya yang akan nampak apabila analisis tersebut berhasil adalah: bahwa idiologi dan kepentingan idiologis bahkan menunggangi ketulusan dan kebaikan-hati orang! Simpati terhadap ketulusan dan kebaikan-hati, dengan demikian, tidak seharusnya lantas membuat naluri analisis kritis menjadi tumpul. Malahan, analisis kritis adalah ungkapan terima kasih sekaligus balasan setimpal (dalam artian positif) bagi ungkapan ketulusan hati tersebut.

Maka, inilah ungkapan terima kasih saya.

‘Begadang’, adalah suatu istilah yang secara khas menunjuk pada kelas sosial tertentu, kondisi masyarakat tertentu yang menjadi latar belakang keberadaan kelas tersebut, dan bahkan idiologi yang menyelimuti masyarakat tersebut. ‘Begadang’ mengasumsikan suatu jam tidur/istirahat (malam) yang fix, yang saat “dilanggar,” dinamailah tragedi “pelanggaran” itu ‘begadang’. Jam tidur yang fix tersebut adalah sekitar jam 10 malam sampai enam (6) pagi. Dimensi ideologis dan kelas sosial segera terlihat dari jam tidur ini, yaitu bahwa istilah ini dimungkinkan untuk muncul pada, dan hanya pada, masyarakat yang terselimuti oleh ideologi kapitalis. Pula istilah begadang ini berlaku untuk kelas yang sering disebut sebagai kelas pekerja, atau ‘borjuis kecil’.

(Sederhananya, kelas borjuis kecil berbeda dengan kelas borjuis “besar” dalam hal kepemilikan/akses terhadap modal. Seperti namanya, borjuis kecil memiliki modal yang hanya sedikit, sementara borjuis besar, banyak; lainnya, yang tidak memiliki akses, disebut kelas proletar. Definisi kelas seperti inilah yang oleh artikel ini akan dipertanyakan dengan keras relevansi dan validitasnya. Oleh karena itu, untuk sementara pendefinisian kecil besarnya borjuis ini sengaja dibiarkan tidak begitu presisi. Pembedaan besar–kecil hanya semata-mata untuk kepentingan pembeda sementara).

Mengapa borjuis kecil? Karena hanya borjuis kecil yang tidur pada jam-jam ini, dan pada hari yang bukan hari malam-minggu (biasanya antara Jumat dan Sabtu malam). Mengapa demikian? Karena keesokan harinya, mereka harus melakukan aktivitas (atau ritual?) sosial yang disebut dengan “kerja.” Jam 8 pagi. Maka, perhitungan bisa seperti berikut. Semenjak narasi medis yang berlaku hari-hari ini mengatakan bahwa jumlah jam tidur malam “yang baik” untuk orang dewasa (18 tahun ke atas) adalah 6 sampai 8 jam sehari. Maka, jam aman untuk mulai beristirahat adalah pukul 10-12 malam. Hitungannya, orang butuh 6-8 jam waktu tidur sehingga paling lambat pada pukul 6 pagi, mereka bisa (konon) bangun dengan kondisi badan segar. Apabila waktu untuk mandi, bersolek dan sarapan butuh sekitar satu jam, dan perjalanan ke tempat kerja butuh juga sekitar satu jam, maka tepatlah paling lambat jam 6 waktu mereka untuk bangun pagi. Ditambah dua jam, maka jam 8 diperkirakan mereka sampai di tempat kerja. Jam sekolah/kuliah, umumnya juga menggunakan perhitungan yang sama. Sehingga akan sulit ditemukan ada jam sekolah/kuliah yang dimulai dari jam 4 pagi, misalkan. (Untuk sementara, pembedaan kerja dan kuliah akan diasumsikan sama. Tapi nanti, akan ditunjukkan bahwa ia tidak bisa dibedakan).

Dari narasi di atas terlihat jelas pengasumsian bagi definisi dua konsep: jam kerja dan kerja itu sendiri. Jam kerja adalah waktu (baik durasi maupun waktu presisi) bagi orang untuk bekerja, yang kemudian diartikan sebagai, aktivitas untuk berproduksi atau, sederhananya, mencari nafkah dan/atau peng-hidup-an (analisis kritis idiologis, bahkan, tentang penggunaan umum atas istilah ‘penghidupan’ akan dibahas lebih detil pada bagian berikutnya). Lalu detilnya, dimana aspek idiologisnya? Kekhasan masyarakat kapitalis adalah bahwa terdapa pola umum atas pembagian jam kerja dan jam non-kerja (rekreasi, senggang, santai, dan … malam-mingguan; singkatnya jam dimana orang “get a life!”–saya mengusut istilah inipada artikel ini). Pola umum ini, karena dilakukan terus-menerus tanpa dipertanyakan, maka ia memperoleh status ‘normal’. Pengorganisasian jam tidur (dan jam hidup) ini akhirnya juga menjadi (ter)normal(kan), sedemikian rupa sehingga orang-orang yg melanggarnya dianggap aneh/sakit. Jelas di sini, pengorganisasian jam tidur dan jam kerja, erat kaitannya dengan pengorganisasian (jam) hidup itu sendiri.

Di sinilah dimensi aneh, tidak normal, tidak lazim, patologis, dst., dari ‘begadang’ terlihat. Begadang menjadi sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan. Alasannya rasional, setidaknya terlihat rasional dalam logika yang dinarasikan di atas: jika orang begadang, maka jam hidupnya akan terganggu karena jika bukan jam kerjanya terganggu, maka kesehatannya (ingat narasi medik “normal” di atas) akan pula terganggu karena tidak mendapat waktu tidur yang cukup—lagi-lagi cukup dalam logika narasi medik kesehatan di atas. Keprihatinan kawan saya di atas, yaitu supaya saya tidak sakit karena sering begadang, dapat dimengerti di sini. Logis! Namun, kondisi logis ini hanya dimungkinkan apabila diasumsikan jam kerja tertentu, jam tidur pada kala dan durasi tertentu, singkatnya, pada pengorganisasian hidup tertentu … yaitu tentunya pada masa dan masyarakat kapitalis.

Titik tekan di sini adalah pengorganisasi jam tidur-kerja-hidup, dan bukan kapan pastinya hitungan jam tersebut dimulai. Ini penting untuk memahami pola hidup yang nampaknya berbeda, namun sebenarnya tetap sama, hanya saja dalam kondisi yang berkebalikan (invert). Misalnya, mereka-mereka yang bekerja di malam hari: satpam, supir, bartender, bahkan pekerja seks komersial. Mereka tetap saja menganut pengorganisasian hidup kapitalis, bedanya waktunya saja yang digeser: saat orang pada umumnya bangun tidur jam 6, mereka ini justru baru mulai tidur. Jadi, tetap saja, mereka-mereka ini sah disebut borjuis kecil. Sedikit menambahkan, itulah mengapa seringkali pekerjaan-pekerjaan ini disebut “tidak normal,” yaitu karena jam kerjanya yang tidak seperti pada umumnya—jam 8-5.

Sekedar mengkontraskan. Mereka-mereka yang tidak menganut pengorganisasian hidup seperti ini, tentu tidak memiliki jam tidur yang sama. Bisa dilihat dari, misalnya, pengemis, gelandangan dan anak-anak terlantar (yang konon dipelihara negara). Mereka tidak memiliki jam kerja yang fix. Bahkan, mereka tidak memiliki konsep ‘kerja’ yang jelas pula. Apapun definisi kelas mereka, yang pasti mereka bukan borjuis kecil. Lainnya, pada borjuis “besar,” misalnya CEO, komisaris, direktur, bos. Mereka sering kali tidak terikat jam kerja (dan tempat kerja) yang fix. Mereka bisa datang dan keluar kantor sewaktu-waktu; pula mereka juga bekerja sewaktu-waktu. Pola kerja seperti ini hanya dimungkinkan apabila seseorang mempunyai tingkat aksesi yang tinggi pada modal tentunya.

Malam-mingguan, berikutnya, adalah waktu dimana orang berhenti bekerja dan beristirahat. Setelah lelah dan penat bekerja sampai hari Jumat, tepatnya selepas jam kerja—biasanya jam 5 sore, maka tiba saatnya orang untuk melakukan ‘non-kerja’. Untuk mengisi waktu non-kerja ini, biasanya orang berekreasi, tamasya, dugem, main, dst, dan yang pasti bukan bekerja! Akibatnya, saat ada orang bekerja di saat-saat yang, dari sudut pandang pengorganisasian jam hidup kapitalis, seharusnya saatnya non-kerja, maka ia akan mendapat teguran: “sabtu-sabtu kok masuk kantor?” “malem mingguan kok kerja?” dst. Teguran ini, sama seperti ungkapan di atas, tidak sebaiknya diragukan ketulusannya. Teguran ini adalah reaksi spontan atas suatu hal yang tidak “normal.”

Saya pribadi pernah mengalaminya. Saat sedang berkumpul dengan beberapa kawan di sebuah bar, mendengar musik ajoji, tiba-tiba seseorang perempuan datang mengenakan pakaian yang, menurut saya dan kawan-kawan saya, unik. Sontak kami mengomentarinya. Berniat iseng, saya mengomentarinya dengan sedikit bernada “akademis.” “Jadi, kalau menurut psikoanalisis Lacan, cewek itu benernya sedang ingin memerangkap tatapan (gaze) orang sembari dia juga terperangkap jejaring gaze itu sendiri……..,” belum sempat saya menyelesaikan “analisis iseng” saya, seorang kawan saya menghardik, “ayolah bro! ini bukan di kampus. Jangan ngomong berat-beratlah. Malem-minggu ini men. Get a life!

Jadi jelas dalam hardikan tersebut, kawan saya melihat saya sedang tidak melakukan non-kerja dalam mengomentari perempuan berpakaian unik tadi. Semenjak saya bekerja di kampus, dan pekerjaan saya erat kaitannya dengan akademika, maka saat saya menganalisis tadi, itu diasosiasikan dengan kerja. Dan semenjak itu pada hari Jumat malam—bukan jam kerja, dan pada malam-minggu—maka saya dianggapnya “melanggar” pengorganisasian hidup yang “normal.”

Sekali lagi. Di sini terlihat jelas bahwa sedari mula, istilah ‘malam-minggu’ dan ‘malam-mingguan’ adalah istilah yang sangat idiologis. Ia mengasumsikan pengorganisasian hari kerja tertentu, jam kerja tertentu, dan bentuk aktivitas bernama kerja yang juga tertentu … yang tentunya adalah kapitalis. Istilah ‘malam minggu’, yang tepatnya jatuh pada hari Jumat Malam dan Sabtu, tidak akan mungkin ada jika tidak disepakati secara umum, normal dan lazim, bahwa hari kerja hanyalah hari Senin sampai Jumat (jam 5 sore). Konsepsi malam-mingguan sebagai waktu bersenang-senang, rileks, dan waktu keluarga, tentu juga tidak akan mungkin jika tidak disepakati bahwa kesemuanya itu tidak akan didapat saat bekerja. Pembedaan kerja dan non-kerja tertentu harus disepakati lebih dahulu supaya konsepsi ‘malam-minggu’ dan kata kerja ‘malam-mingguan’ bisa dimungkinkan maknanya seperti yang sedang berlaku saat ini.

Pembedaan kerja dan non-kerja ini umumnya akan berbuntut pada atributasi konsep kesenangan: kerja adalah tidak menyenangkan; non-kerja adalah menyenangkan. Di sini bisa dipahami, misalnya, istilah ‘lembur’ dan konotasi penderitaan yang tidak menyenangkan yang terkandung dalamnya. Pula ungkapan-ungkapan populer seperti “TGIF—Thanks God It’s Friday,” atau lainnya, “I hate Monday!” Jumat sore dianggap sebagai saat dimulainya bersenang-senang, sementara Senin diangap sebagai saat diawalinya penderitaan seminggu.

Lagi-lagi, ini hanya berlaku bagi borjuis kecil. Orang-orang miskin, gelandangan dan anak terlantar (yang konon katanya dipelihara negara), tentu tidak mengenal waktu “malam mingguan.” Yang mereka lakukan ya itu-itu saja: mengemis, mengais-ngais makanan sisa, berkeliaran nggak jelas, dst., yang bahkan juga tidak jelas itu sah digolongkan pada konsep ‘kerja’ atau ‘non-kerja’. Demikian pula bagi para borjuis “besar.” Semenjak waktu yang longgar dan bisa diatur sendiri, maka bagi mereka, hari apapun bisa disulap menjadi “malam minggu.”

Lalu, kedua kelompok orang ini—orang miskin dan borjuis besar—masuk dalam pengorganisasian hidup seperti apa? Bagian kedua akan menjawabnya, yang kemudian akan ditarik implikasinya di bagian ketiga.

Namun sebelumnya, setidaknya janji saya di awal sudah terpenuhi satu, yaitu untuk menunjukkan bahwa istilah “begadang” dan “malam minggu” adalah manifestasi idiologis pengorganisasian hidup khas kapitalisme par excellence!

 

…. bersambung ke Bagian II

Mahasiswa-Buruh-Kapitalis Tidak Kemana-Mana, Karena Ia Dimana-Mana

Standard

Mahasiswa-Buruh-Kapitalis Tidak Kemana-Mana,
Karena Ia Dimana-
Mana[1]

Hizkia Yosie Polimpung[2]

Memahami, apalagi mengkoreografikan suatu pergerakan sosial-politik hari ini, tidak bisa tidak, harus diletakkan dalam situasi dan kondisi relasi sosial politik yang sedang terjadi, yang really existing. Relasi sosial politik tersebut tidak lain adalah jutaan relasi mikro yang terkandung dalam konsep besar nan abstrak: kapitalisme neoliberal.[3] Ini penting untuk senantiasa menancapkan gerakan tersebut dalam konteks kesejarahannya yang spesifik. Tanpa ini, maka gerakan tersebut tidak lebih dari suatu gerakan reaksioner emosional (bahkan tidak sedikit yang mesianik) yang sama sekali ahistoris. Sehingga praktis, seluruh gerakan sosial politik yang tidak disertai dengan pemahaman memadai tentang relasi sosial politik ini hanya merepetisi ungkapan William Shakespeare, “much ado about nothing”—yang ironisnya dilakukan demi menghindari tuduhan sinis NATO (No Action Talk Only). Hal ini juga tidak mengecualikan gerakan mahasiswa, yang menjadi subyek pembahasan kali ini.

Tulisan singkat ini akan mendiskusikan mengenai hal-hal di dalam dan di seputar kedua konsep kapitalisme dan neoliberalisme, terutama mengenai bagaimana keduanya bersifat paradoks: saling meniadakan satu sama lain, namun saling membutuhkan satu sama lain. Berikutnya, tulisan ini akan bergerak ke arah evolusi kontemporernya. Pembahasan akan difokuskan pada bagaimana evolusi kapitalisme pasca-Fordisme menunjukkan sifat lain dari produksi/kerja yang tidak hanya berimplikasi pada cara pandang terhadap kapitalisme neoliberal kontemporer, melainkan kembali ke belakang, terhadap seluruh evolusi kapitalisme semenjak abad pertengahan. Terakhir, tulisan ini akan menunjukkan dimensi-dimensi eksploitatif dari kapitalisme neoliberal kontemporer yang notabene amat subtil, dengan demikian mengangkatnya ke permukaan sehingga dapat dijadikan sasaran bagi pergerakan yang mencoba melawannya. Peran dan reposisi peran ‘mahasiswa’ dalam kapitalisme neoliberal juga akan dibahas di bagian ini.

Metode

Arti penting mendiskusikan hal-hal ini amatlah urjen direfleksikan sejenak (dan secara terus menerus). Berkaitan dengan ini, saya menawarkan tiga kerangka (yang juga bisa berfungsi sebagai  check-list) yang penting untuk dilakukan terkait seluruh gerakan sosial politik, sebelum ia menggerak-gerakkan dirinya. Pertama, memahami situasi dan kondisi yang obyektif yang sedang terjadi hari ini. Jika disepakati bahwa kapitalisme neoliberal adalah backdrop kehidupan hari ini, maka memahami keduanya adalah hal mutlak. ‘Memahami’ di sini berarti memahami logika internal yang mengatur jalannya masing-masing sistem. Logika internal ini sifatnya obyektif, dalam artian ia berjalan relatif secara otonom tanpa perlu campur tangan manusia. Jika manusia juga ternyata termasuk dalam sistem tersebut, maka ini jangan diartikan sebagai ketergantungan total terhadap manusia. Jadi, kapitalisme, misalnya, harus dilihat sebagai memiliki logika internalnya sendiri yang berpijak darinya, suatu analisis obyektif tentangnya harus diarahkan. Menganalisis logika internal ini berarti mendeskripsikan bagaimana kapitalisme, dengan caranya sendiri dan demi reproduksi dirinya sendiri, melihat dan memperlakukan manusia dan hal-hal lain seperti negara, institusi, alam, tapi juga batu, kertas, semut, tuhan, dst. Hal serupa berlaku bagi neoliberalisme.

Kedua, memahami dimensi eksploitatif dan dominatif dari kapitalisme neoliberal tersebut. Hal ini sama sekali bukan sekedar menunjukkan siapa-siapa saja yang mendalangi eksploitasi, atau siapa-siapa saja yang terkena eksploitasi. Nominalisme semacam ini bukan hanya salah sasaran, namun ia rawan terjebak dalam kritisisme personal—“kapitalisme jahat karena orang-orangnya bermasalah”—yang ujungnya sudah jelas: gerakan menjadi salah arah dan sasaran. Yang dimaksud dimensi eksploitatif di sini lebih sistemik sifatnya. Untuk ini, pertanyaan-pertanyaan yang penting untuk dijawab adalah: prakondisi sistemik apa yang memungkinkan terjadinya eksploitasi oleh orang-orang tersebut? Bagaimana detil mekanisme sistem dan aparatus-aparatusnya dalam menjalankan eksploitasi tersebut? Apa yang dieksploitasi? Untuk apa? Apa yang dilakukan terhadap mereka-mereka yang dieksploitasi? Adakah perlawanan? Jika ada: bagaimana ia diredam? Jika tidak ada: mekanisme kontrol seperti apa yang memungkinkan ketidak-sadaran ini? Dst.

Ketiga, tak lain adalah menyusun program. Program yang dimaksud adalah serangkaian praksis yang disusun berdasar pemahaman tentang really existing condition dan diarahkan kepada dimensi eksploitatif dan dominatif dari kondisi tersebut, dalam hal ini kapitalisme-neoliberal. Sehingga jelas, hal ketiga ini tidak bisa dilakukan tanpa dua yang pertama. Namun demikian ini tidak berarti bahwa ketiganya berjalan terpisah: sama sekali tidak! Ketiganya bisa berjalan bersamaan, namun tetap mensyaratkan refleksi terhadap poin pertama dan kedua, sembari menjalankan yang ketiga. Jadi problemnya bukan seperti apa programnya (menjadi DPR, aktivis, akademisi, intelektual, pengusaha, pemuka agama dst.), melainkan bagaimana program tersebut diletakkan dalam konteks problematik yang dilihatnya masing-masing melalui analisis obyektif terhadap kondisi eksploitatif kapitalisme neoliberal. Jelas disini bahwa dalam mengevaluasi dan men-judge suatu gerakan harus berdasarkan apa yang dilihatnya sebagai problem dan apakah yang dilakukannya berkontribusi bagi pemecahan problem tersebut. Tanpa ini, gerakan sosial politik, terutama gerakan mahasiswa, tidak lebih dari manifestasi euforia heroisme naif atas kegalauan kelas menengah yang neurotik—gegar di antara (apa yang dikira) panggilannya dengan kondisi realitas di lapangan.

Sekilas tentang Kapitalisme

Untuk memahami kapitalisme, maka penting untuk melihatnya pertama-tama sebagai suatu sistem ekonomi. Ekonomi, berasal dari kata dalam bahasa Yunani, oikonomia, yang terdiri dari dua kata oikos dan nomos. Oikos berarti rumah-tangga, juga bisa berarti domestik; nomos berarti tatanan/atura. Oikonomia, dengan demikian merupakan suatu pengaturan rumah-tangga domestik. Hal ini penting didefinisikan dulu karena seringkali kapitalisme disamakan dengan ekonomi. Padahal, hal tersebut tidak berlangsung dua arah: kapitalisme merupakan sistem ekonomi, namun ekonomi tidak selalu berupa kapitalisme. Sistem ekonomi lainnya bisa berupa barter, komune, dst.

Lalu apakah kapitalisme?[4] Tanpa berpretensi memberi konseptualisasi yang final dan exhaustive, kapitalisme harus dipahami sebagai suatu sistem penataan kehidupan domestik—ekonomi—yang berdasarkan pada proses pertukaran komoditas. Lalu apakah komoditas? Komoditas, selanjutnya dapat secara sederhana dilihat sebagai hasil dari proses produksi yang mengandung suatu nilai untuk dipertukarkan di area pertukaran bernama pasar. Proses produksi inilah yang mutlak mensyaratkan modal dan/atau kapital. Itulah mengapa sistem ekonomi ini disebut kapital-isme.

Melihat kapitalisme secara ekonomistik, sesederhana jual-beli, tukar-gulingm dst seperti ini akan tidaklah cukup. Hal penting yang harus dilihat dalam mekanisme beroperasinya adalah bahwa kapitalisme telah dan akan selalu mensyaratkan suatu relasi sosial. Jejak-jejak relasi sosial ini dapat dilihat pada, misalnya, ‘proses pertukaran’—ditukarkan dengan siapa? Tentu dengan orang lain, yang hubungan dengannya telah membentuk suatu dan terbentuk dalam relasi sosial tertentu. Lainnya, ‘nilai tukar komoditas’—ditakar dari mana? Tentu dari relasinya dengan komoditas lain yang bersama-sama menempati suatu ruang dimana suatu relasi sosial terjadi. Ruang inilah yang kemudian disebut pasar.

Ini semua terlihat normal dan “baik-baik saja.” Namun demikian, suatu ugly truth yang penting untuk juga ditunjukkan, adalah bahwa kapitalisme telah dan akan selalu mensyaratkan ketimpangan dan ketidak-setaraan dalam kepemilikan modal. Ketimpangan ini sekaligus menjadi relasi sosial yang merupakan backdrop bagi tumbuh suburnya kapitalisme. Relasi sosial inilah yang disusun oleh kelompok masyarakat yang didefinisikan dari aksesnya terhadap kapital—yaitu kelas. Terdapat dua kelas: borjuasi, yaitu para pemilik modal; dan proletar/buruh: yaitu mereka yang tidak memiliki modal, namun mempekerjakan diri pada pemilik modal.[5] Ketimpangan, dengan demikian, adalah unsur utama dan konstitutif bagi kapitalisme; tanpa ketimpangan kepemilikan modal, maka tidak akan ada kapitalisme. Kesetaraan—dan bukan seolah-olah setara (misalnya setara sebagai konsumen Starbucks, setara sebagai penonton Holywood, setara sebagai pendengar Lady Gaga, setara sebagai pengunjung Grand Indonesia, dst.), akhirnya, adalah musuh dari kapitalisme.

Pertanyaan berikutnya, mengapa ketimpangan ini diperlukan? Sederhana saja: tanpa ketimpangan kepemilikan modal, maka tidak akan dimungkinkan suatu akumulasi modal. Akumulasi modal inilah yang didambakan oleh seluruh kapitalis. Logikanya sebagai berikut: jika semua orang memiliki modal, maka tidak akan terjadi pertukaran. Mengapa? Karena semua orang akan bekerja bagi, untuk dan demi dirinya sendiri; tidak perlu orang lain—dalam artian, tanpa ada orang lain pun, ia bisa hidup. Jika terjadi ketimpangan, maka akan muncul suatu perasaan saling membutuhkan. Perasaan ini akan diikuti dengan upaya bersama untuk saling memenuhi. Kesinambungan (dalam artian perpetuasi) upaya untuk saling memenuhi ini dibutuhkan untuk tetap berproduksi (menggunakan kapital masing-masing), dengan demikian untuk mengakumulasi profit bagi kapitalnya itu sendiri. Inilah sebabnya, kapitalisme akan me-reifikasi relasi sosial yang timpang ini—menjadikannya seolah-olah obyektif, normal dan tak terelakkan.

Jadi, sampai disini bisa sekiranya disarikan beberapa konsep penting dalam kapitalisme. Modal, yaitu segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya proses produksi. Produksi, selanjutnya tidak seharusnya dilihat dari produk-nya semata; produksi adalah selalu aktivitas menghasilkan nilai untuk kemudian dipertukarkan. Sehingga produk dari produksi, yaitu komoditas, tidak bisa dilihat hanya dari bentuknya—barang dan/atau jasa—melainkan harus dari nilai-nya. Buruh, dari konseptualisasi-konseptualisasi ini, harus dilihat sebagai kelas yang bekerja menghasilkan nilai dan komoditas dengan imbalan upahdan bukan nilai berikut komoditas yang dihasilkannya tersebut.

Negara di mata Kapitalisme[6]

Kapitalisme tidak pernah bisa ada tanpa relasi sosial-politik yang mengawal dan melindunginya. Oleh karena itu, tidak relevan membahas kapitalisme tanpa mengikut-sertakan (neo)liberalisme, suatu sistem politik ekonomi negara yang berbasiskan pada pemeliharaan berfungsi mulusnya pasar. Jika kapitalisme berjalan dengan logika akumulasi kapital—semuanya demi kepentingan akumulasi profit, maka negara berjalan dengan logika penguatan kedaulatan (raison d’etat)—semua dilakukan demi memperkuat negara.

Raja – Ilahi – Realm                        >> Mustahil sejak revolusi demokrasi

Negara – Rakyat                             >> Kemustahilan demokrasi langsung

Negara – Pasar – Rakyat                >> Pemerintahan Liberal

Pasar – Negara – Akum. profit      >> Kapitalisme

Skema 1. Logika internal negara dan kapitalisme

Kedua logika ini, sialnya, relatif otonom dari manusia (kita semua); mereka berjalan dengan logikanya sendiri, yang ironisnya, sudah menginklusi partisipasi manusia didalamnya: bagi kapitalisme, manusia tidak lebih dari sekedar tubuh-tubuh buruh dan/atau konsumen; bagi negara, manusia tidak lebih dari tubuh-tubuh untuk diatur atas nama kewarga-negaraan, nasionalisme, kebangsaan, ke-Indonesia-an, dll. Tidak hanya terhadap manusia, kedua logika ini juga memiliki hubungan satu sama lain. Bagi kapitalisme, negara adalah entitas sosial-politik untuk memfasilitasi dan melindunginya. Bagi negara, kapitalisme adalah alat instrumen negara untuk mensejahterakan rakyatnya, namun bukan demi rakyat itu sendiri, melainkan agar supaya rakyat-rakyat yang disejahterakannya itu memberikan legitimasi bagi kedaulatannya. Ujung dari upaya negara, tidak lain, penguatan justifikasi keberadaannya (kedaulatan), tidak lebih. Rakyat, akhirnya tidak lebih dari sekedar kategori imajiner statistikal untuk sesekali dikutip untuk menjustifikasi diri, baik oleh kapitalisme (dalam hal ‘kesejahteraan bersama’) maupun oleh negara (dalam hal ‘kepentingan nasional’).

Kapitalisme Pasca-Fordisme dan Imaterialisasi Produksi

Mutasi terkini kapitalisme adalah apa yang disebut-sebut sebagai kapitalisme pasca-industri, atau lainnya, kapitalisme pasca-Fordisme. Singkatnya, kapitalisme pasca-Fordis ini merupkan versi upgrade dari bentuk kapitalisme Fordis. Jika pada Fordisme, produksi dilakukan secara massal, maka pada pasca-Fordisme dilakukan secara terbatas, limited edition dan just-in-time. Jika produk Fordisme dilihat dari kuantitasnya, maka pada pasca-Fordisme dilihat dari bagaimana ia menawarkan perbedaan, kelebihan, atau added-value dari produk lainnya. Di bidang manajerial, apabila Fordisme menekankan hirarki manajemen, maka pada pasca-Fordisme, pola manajerial mangambil rupa dalam bentuk desentralisasi, bahkan jaringan. Hal terpenting untuk melihat perubahan ini adalah bagaiman perubahan ini bukan sekedar perubahan, melainkan ia adalah suatu perubahan paradigmatik—suatu perubahan yang mempengaruhi keseluruhan aspek bangunan logika internal.

Melihat sebagai suatu perubahan paradigmatik, maka perubahan-perubahan di yang nampak terjadi di lapangan harus diletakkan dalam konteks paradigmatik apa yang sekiranya melandasi dan memungkinkannya. Misalnya, saat manajemen buruh tidak lagi hirarkis dan represif, berubah menjadi (seolah-olah) setara yang terlihat dalam kemasan team-work dan acara-acara outbound/outing bersama atasan/bawahan, kira-kira apa yang berubah pada cara pandang terhadap manajemen buruh? Lalu saat dalam pasar swalayan para pelanggan dilayani dengan begitu ramah dan mesra, kira-kira apa yang berubah pada cara pandang terhadap konsumen? Terakhir misalnya saat untuk menjadi pekerja seseorang harus menyandang gelar tertentu, dari universitas tertentu, dan dengan jurusan tertentu, kira-kira apa yang berubah pada cara pandang terhadap konsep buruh/pekerja, atau terhadap kapital, atau terhadap konsep kerja/produksi itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini sekiranya dapat membantu analisis untuk sampai pada level paradigmatik dari mutasi Fordisme ke Pasca-Fordisme ini.

Salah satu capaian paradigmatik yang ingin ditekankan melalui tulisan ini adalah pada bagaimana Pasca-Fordisme tidak lagi melihat bahwa produksi dan konsumsi sebagai dua hal yang terpisah. Konsumsi dan produksi adalah satu koin dengan dua sisi yang berbeda. Implikasinya, buruh dan kapitalis pun juga tak ubahnya sepeser koin. Buruh adalah kapitalis, kapitalis adalah buruh.

Produksi Relasi Sosial

Memahami ini, perlu bagi kita untuk memfokuskan pada relasi sosial yang menjadi unsur konstitutif bagi kapitalisme itu sendiri. Jika relasi sosial adalah hal mutlak bagi kapitalisme, maka bukankah hal ini berarti bahwa reproduksi relasi sosial itu adalah core business dari kapitalisme itu sendiri? Jika demikian, bukankah hal ini juga berarti bahwa produksi dan reproduksi relasi sosial itu sendiri telah selalu mengiringi kiprah kapitalisme itu sendiri sejak dahulu kala? Jika disepakati bahwa nilai tukar suatu komoditas adalah materialitas dari suatu proses produksi, maka dimensi imaterial dari proses produksi tersebut adalah relasi sosial yang dibawa-bawa sekaligus mensyaratkan komoditas tersebut. Jadi, apabila produksi nilai melalui komoditas adalah kerja material; maka produksi relasi sosial melalui komoditas adalah kerja imaterial. Komoditas, dengan demikian memiliki karakter ganda: material dan imaterial. Aspek produksi relasi sosial inilah yang menjadi pusat dalam produksi pasca-Fordisme, sekalipun tidak juga menafikan aspek material.[7]

Masih terkait relasi sosial, perlu ditekankan bahwa relasi sosial bagi kapitalisme di sini harus diartikan sebagai segala bentuk relasi sosial yang memungkinkan perpetuasi proses produksi komoditas dan, tentu saja, akumulasi modal. Relasi sosial ini tidak selalu dalam artian yang makro seperti relasi negara, institusi, dst. Tapi juga, misalnya Facebook dan Kaskus, sebagai suatu forum dunia maya, ia memungkinkan terjadinya jutaan proses jual-beli; Film-film Holywood memungkinkan terjadinya produksi dan jual-beli merchandise tentangnya. Indonesian Idol memungkinkan laris-manisnya usaha-usaha kursus menyanyi, iklan-iklan, dst. Sekolah dan Universitas memungkinkan terjadinya proses komodifikasi gelar dan ekspertis. Dst.

Melihat hal-hal “non-konvensional” ini sebagai bentuk kerja, perlu sekiranya mengembangkan konsep modal, produksi dan nilainya yang baru. Kerja dalam audisi Indonesian Idol tentu berbeda dengan bekerja yang dilakukan buruh pabrik sepatu Kasogi misalnya. Jika buruh Kasogi menghasilkan sepatu, maka buruh bintang iklan Kasogi bekerja menghasilkan suatu citra dan kesan di masyarakat (relasi sosial) yang sedemikian rupa mengkondisikan mereka untuk membeli sepatu kasogi tersebut. Lainnya, buruh Indonesian Idol bekerja menghasilkan produk berupa histeria akan idola-isme dan selebriti-isme yang perpetuasi keberadaannya akan membuat industri periklanan, tarik-suara, pemandu bakat, fashion, seluler, dan seterusnya, menjadi langgeng. Modal yang harus dimiliki dengan demikian, bukan hanya tenaga lagi, melainkan kecantikan/ketampanannya, warna kulitnya, sikapnya, keceriannya, bahkan hidupnya—tidak heran sehingga ada penghargaan ‘life time dedication. Jadi, setiap relasi sosial kapitalistik akan melahirkan konsepsi modalnya sendiri, produksinya sendiri, dan nilainya sendiri. Inilah peran yang amat-sangat vital dari relasi sosial.

Mahasiswa-Buruh-Kapitalis (dan Gerakan Mahasiswa?)

Saya akan memfokuskan pada universitas kali ini. Melihat universitas dalam perspektif ini, maka bukankah Universitas menciptakan mahasiswa sebagai komoditas, yang nilainya didapat dalam relasinya (atau ranking-nya) dengan universitas lain? Bukankah Universitas juga mentransformasi konsep modal menjadi sebagai ‘gelar’, ‘skill’, dan ‘ekspertis’? Bukankah kampanye universitas untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja merupakan sebentuk kerja imaterial yang memproduksi suatu relasi sosial yang didalamnya hanya orang-orang berpendidikan saja yang memiliki modal untuk bekerja/berproduksi? Bukankah pada akhirnya identitas ‘mahasiswa’ yang dielu-elukan itu sendiri tak lain adalah dimungkinkan, dan hanya dimungkinkan oleh kerja imaterial ini? Universitas modern adalah manifestasi kapitalisme pasca-Fordis par excellence!

 

Hal ini selanjutnya membawa kita untuk melihat bagaimana mahasiswa memiliki karakter ganda dalam kapitalisme kontemporer: sebagai buruh dan kapitalis. Sebagai buruh, ia mempekerjakan dirinya kepada perusahaan, pemerintah, dst., sebagai pekerja. Tapi disisi lain, ia memiliki modal berupa gelar, intelegensia, skill (hard atau soft)—hadiah dari universitas, sebagai modal. Dengan modal inilah ia memiliki kemampuan yang memungkinkan ia untuk berproduksi/bekerja. Sekiranya cukup jelas bahwa nama lengkap mahasiswa adalah: mahasiswa-buruh-kapitalis. Sehingga saat indeks kesejahteraan salah satunya diukur dari pendidikan, dan pendidikan yang dimaksud adalah melalui sekolah dan/atau universitas, maka proliferasi dan reproduksi mahasiswa akan terus-menerus dilakukan. Akibatnya, dimana-mana akan semakin sering kita temui mahasiswa, atau mereka-mereka yang penah menjadi, atau akan menjadi mahasiswa. Jika seseorang bukan, atau belum pernah menjadi manusia, maka bisa dipastikan ia tidak memiliki cukup modal dalam artian gelar dan skill untuk bekerja.

Berangkat dari kenyataan inilah sekiranya diskusi seputar gerakan mahasiswa harus diletakkan. Jika argumentasi di atas disepakati, maka menjadi paradoks bagi mahasiswa untuk bergerak melawan eksploitasi kapitalisme, justru dengan menggunakan identitas, modal dan status yang notabene dimungkinkan oleh kapitalisme itu sendiri. Lebih ironisnya lagi, beberapa mahasiswa malah mensakralkan ke-mahasiswa-an mereka! Selama gerakan mahasiswa tidak menyadari ini, maka gerakan mahasiswa tidak hanya akan berifat kontra-produktif, melainkan justru memperkuat sistem yang hendak dilawannya sendiri. Selama mahasiswa secara naif terus menyerukan “kita sebagai mahasiswa harus bergerak!” atau “kita sebagai insan intelektual harus berkontribusi bagi pemecahan permasalahan bangsa!”, maka sebenarnya bukan masalah yang hendak dipecahkan melalui gerakan tersebut, melainkan narisisisme identitas ke-mahasiswa-an lah yang hendak diselamatkan dari guyuran tudingan “NATO—no action talk only!” yang kerap diserangkan ke ‘mahasiswa’. Semenjak ke-mahasiswa-an adalah produk komoditas kapitalisme par excellence, membela ke-mahasiswa-an beresiko memperkuat kapitalisme itu sendiri.

Mungkin tepat di sinilah kita perlu membela ‘mahasiswa’ dan ‘intelektualitas’, atau yang saya kira lebih baik disebut ‘akademia’, demi pembedaan dari konsep terdahulu yang sudah bereputasi “buruk”. Akademia perlu direposisi dalam relasinya dengan kapitalisme. Harus diakui bahwa “modal” yang dimiliki akademia adalah dimungkinkan oleh kapitalisme. Namun sekiranya hal ini tidak lantas membuat modal tadi tidak bisa dipergunakan untuk melawan sistem yang memungkinkannya itu sendiri. Saat akademia diciptakan terkotak-kotak sebagai ekspertis untuk menyelesaikan suatu permasalahan, maka perlu sekiranya hal ini direfleksikan ulang. Akademisi yang melakukan perlawanan memang mengupayakan daya intelektualnya untuk menyelesaikan permasalahan, namun bukan permasalahan yang diberikan padanya untuk selesaikan. Akademisi sejati adalah ia yang menyelesaikan permasalahan yang dihasilkannya sendiri dari proses problematisasi dan reproblematisi kondisi yang secara historis-spesifik ia jumpai di kesehariannya di lapangan. Kerja akademik yang demikian adalah kerja perlawanan di basis ide. Selama mahasiswa sebagai insan akademik tidak menyadari potensi perlawanan akademik ini, maka ia tak lebih dari sekedar tukang ledeng untuk membenahi sekrup-sekrup longgar negara dan pasar. [HYP]


[1] Draft makalah untuk disajikan pada Diskusi Publik, “Buruh dan Kapital: Mahasiswa ke Mana?” PUSGERAK BEM UI, FISIP UI Depok, Senin, 30 April 2012

[2] Peneliti di Pacivis—Pusat Kajian Global Civil Society, Universitas Indonesia. Pegiat Kelompok Diskusi Sabtuan Hubungan Internasional Kontemporer. Kontak: yosieprodigy@live.com

[3] Hal ini tidak lantas menafikan relasi sosial lainnya, namun dalam hal ini perlu saya tegaskan bahwa relasi-relasi ini harus, dan tidak bisa tidak, dipahami dalam konteks kapitalisme neoliberal. Hal ini demikian, karena kapitalisme neoliberal hari ini telah menjadi backdrop dimana seluruh relasi sosial didirikan. Tentang ini, akan dibahas pada kesempatan lainnya.

[4] Pembahasan berikut mungkin akan terlihat sangat dangkal bagi beberap orang, namun perlu ditekankan bahwa hal ini bukan dilakukan dalam rangka mereduksi kapitalisme itu sendiri, namun lebih kepada upaya introduksi, untuk kemudian bisa diperdalam masing-masing.

[5] Definisi kelas ini, sebagaimana yang akan dijelaskan berikutnya, akan bertransformasi seiring dengan ditemukannya konsep ‘kerja imaterial’.

[6] Pembahasan tentang negara dan neoliberalisme di sini tidak diberikan secara mendetil karena keterbatasan tempat dan waktu. Prioritas dengan demikian diberikan pada kapitalisme itu sendiri. Bagi yang hendak menagih pertanggungan –jawab saya tentang ini, silakan melihat artikel saya lainnya: “Kapitalisme dalam Kerlingan Negara-Berdaulat: Ulasan historis singkat dari era Imperium Romawi Agung sampai era Neoliberal,” makalah Workshop Kapitalisme Global, PACIVIS UI, 2011.

[7] Perlu ditekankan bahwa kerja material tradisional (di pabrik, buruh upahan, buruh tani,dst.) perlu diletakkan pula dalam konteks transformasi ini, yaitu pada perannya yang menopang kerja imaterial modern. Inilah fungsi sosio-politis dari yang disebut-sebut “unequal development,” yang sengaja saya sisihkan untuk pembahasan yang ekstensif pada kesempatan lainnya.