Tentang Merumuskan Ide Riset yang Penting (dan Meyakinkan, dan Menarik)

Standard

Hal yang perlu diingat dalam merumuskan suatu ide riset adalah bahwa ide tersebut harus penting, meyakinkan, dan sekaligus menarik. Setidaknya ini simpulan saya selama lebih dari 10 tahun mondar-mandir di dunia riset, baik secara mandiri atau kelompok, di lingkungan akademik, organisasi masyarakat sipil, pemerintah maupun korporat, baik itu riset akademik maupun konsultansi, dan baik itu riset literatur, empirik maupun lapangan. Sebuah ide riset harus memiliki unsur penting dalam artian ia memiliki urjensi untuk dikaji. Urjensi ini bisa berbeda-beda dari segi jenisnya: untuk riset akademik, urjensinya harus pada signifikansi temuannya pada kebaruan konsep atau teoritis; untuk riset konsultansi, urjensinya harus pada perumusan kebijakan strategis maupun taktis; dan untuk riset sosial, urjensinya harus pada implikasi akan perumusan strategi dan praksis transformasi sosial.

Unsur meyakinkan merupakan efek/hasil dari kesan yang didapat orang saat terpapar, mendengar atau mebaca elaborasi ide riset tersebut. Sebuah riset itu meyakinkan pertama-tama saat ia dapat menjelaskan dengan lancar, dengan logika yang runut, dan juga dengan argumen yang tertata secara sistematis. Presentasi ide riset yang meyakinkan harus dapat mengirimkan pesan dan kesan bahwa sang periset benar-benar tahu apa yang ia riset, dan bahwa ia memang adalah orang yang tepat untuk meriset itu. Kesan tersebut didapat saat jelas termaktub hal-hal seperti: apa fokusnya, apa yang harus dicari, tahapannya bagaimana, indikator apa, data dari mana, dst. Hal kedua untuk menjadi meyakinkan bisa didapat dari wawasan suatu riset akan kondisi terkini tentang kerja-kerja riset di seputar tema serupa (state of the art). Saat suatu riset mampu memetakan pendekatan-pendekatan yang saat ini ada mengenai suatu topik, maka ia dapat memberi kesan meyakinkan ini pada pembacanya.

 

 

Hal ini sekaligus menampik kekeliruan terfatal dan terparah abad ini dalam dunia riset, yaitu anggapan bahwa kita meriset karena kita tidak tahu. SALAH BESAR! Jika kita tidak tahu, maka sebaiknya cari tahu dulu lewat ensiklopedia. Karena yang benar adalah sebaliknya: kita meriset untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baru dari yang sudah diketahui. Artinya, mustahil meriset jika kita belum atau tidak tahu apa-apa tentang apa yang akan kita riset.

Beda dengan unsur penting dan meyakinkan, unsur menarik nampaknya hanya ada di dunia akademik, dan bahkan akademik yang cenderung snob. Perusahaan atau pemerintah yang menyewa kita sebagai konsultan riset tidak peduli riset ini menarik atau tidak; yang penting ia bisa memecahkan masalah. Demikian pula bagi tujuan transformasi sosial, menarik atau tidak bukanlah soal selama ia mampu berokontribusi bagi praksis di lapangan. Ke-menarik-an dari suatu riset didapat dari bagaimana ia mampu menawarkan sesuatu yang tidak hanya baru, melainkan juga yang lain, yang berbeda, yang unik, bahkan yang kontroversial dalam kaitannya dengan upaya pengkajian suatu obyek kajian namun tetap dalam koridor dan prosedur keilmuan yang logis.

Tips & Trik Perumusan

Tulisan singkat saya ini mencoba membagikan tips dan trik dari pengalaman saya yang mungkin belum cukup lama ini dalam merumuskan ide riset yang menarik, namun tetap memiliki bobot penting dan meyakinkan. Saya akan khususkan untuk membahas perumusan ide riset akademik saja di sini—itulah mengapa unsur menarik juga saya masukkan. Hal lain yang perlu diperhatikan juga terkait kemenarikan ide riset akademik, yaitu pada karakternya yang berhubungan dengan peer review akademik—khususnya yang lebih memiliki wewenang untuk “memutuskan nasib” riset kita—misalnya: supervisor, promotor, dan pengulas artikel jurnal. Saat syarat ke-penting-an atau urjensi penelitian sudah dipenuhi, maka unsur ke-menarik-an yang akan menjadi penentu. Saat saya sebagai editor disuruh memilih satu dari dua artikel yang sama-sama penting dan meyakinkan, maka saya akan memilih yang paling nyeleneh—semata-mata karena ia lebih menarik.

Namun demikian, sebelum lebih lanjut, saya perlu sampaikan pernyataan sanggahan ini: mengikuti saran tulisan saya tidak serta merta menggaransi ide dan abstrak riset anda diterima oleh supervisor, promotor, atau editor/pengulas tulisan anda. Tulisan ini bertujuan membantu, dan bukan menjamin.

Mari kita lanjutken. Perumusan ide mensyaratkan setidaknya tiga rantai proses kerja:

  • Gestasi/ideasi, atau proses peneluran ide;
  • Penulisan abstraksi;
  • Penulisan garis besar/

Penulisan proposal tidak termasuk di kelompok rantai kerja perumusan ide, karena ia sudah mulai masuk ke rantai berikutnya, yaitu rantai implementasi ide dalam rancang-bangun/desain penelitian. Yang terakhir ini akan di bahas di postingan berikutnya (AMIN!). Untuk kali ini, saya akan fokus pada pertanyaan: bagaimana menemukan ide riset yang penting, tampak meyakinkan, namun juga menarik? Atau, lebih detilnya: bagaimana merumuskan suatu ide yang otoritatif, memiliki signifikansi dan urjensi yang “mengigit” sekaligus memiliki aura yang atraktif dan memancing rasa penasaran yang tinggi bagi kolega akademik kita?

Sampai saat ini saya masih berpegang pada pendapat saya bahwa tingkat ke-penting-an suatu riset ada pada kekuatannya dalam “mengancam.” Misalnya, dengan mengatakan bahwa urjensi riset ini adalah bahwa tanpanya kita tidak akan pernah memahami karakter X yang sesungguhnya sampai kapanpun; atau bahwa pertaruhan riset ini punya implikasi pada pemahaman kita akan X. Singkatnya, atau dengan bahasa lebay-nya, kita harus mampu kirimkan sinyal bahwa tanpa riset ini, anda akan menyesal seumur hidup! Ya, saya berlebihan, tapi semoga anda menangkap maksudnya.

Lalu tingkat ke-menarik-an suatu riset terletak pada seberapa jauh ia bersifat nyeleneh.” Artinya, semakin konvensional dan tertebak suatu riset, maka semakin ia tidak menarik (walaupun, mungkin, penting). Konvensionalitas ini bisa diterobos dengan upaya menggunakan pendekatan lain yang tidak biasa: bisa dari disiplin lain yang umumnya tidak terpikirkan, atau dengan mendaur ulang pendekatan yang secara umum sudah dianggap tidak terpakai lagi, atau bisa juga dengan menggunakan argumen yang selama ini dikira kontra dengan cara menunjukkan bahwa ia bisa secara argumentatif dipelintir untuk argumen pro. Riset itu menarik kalau ia juga kontroversial, apalagi sensasional.

Tips Penahapan

Untuk kepentingan ilustrasi, saya akan fokuskan pada spesies riset literatur (literature research), yang umumnya menggunakan metode seperti systematic review, meta-analisis dan studi kepustakaan. Riset ini penting dibahas terlebih dahulu karena riset ini umumnya menempati tahap ke-0 dari suatu riset, alias riset preliminer, atau “riset untuk riset.” Tujuan utama riset literatur adalah mendapatkan wawasan dan pemetaan yang memadai mengenai pengetahuan yang sudah ada terkait apa yang hendak kita teliti. Adalah keluasan wawasan dan peta pengelompokkan yang jelas yang menjadi kekuatan utama riset literatur. Seringkali, sukses tidaknya riset literatur ini punya dampak krusial bahkan bukan hanya pada penting dan menariknya suatu riset, melainkan juga pada layak tidaknya suatu riset untuk dikerjakan. Lebih menyedihkan lagi, tanpa riset preliminer sebuah riset hanya akan dipenuhi dekorasi common sense, penalaran umum, buai-buaian normatif nan moralis yang amat-sangat bias subyektif (bahkan bias identitas, ras, jender, dan kelasnya)… singkatnya: s a m p a h!

Berikutnya saya ingin mengusulkan langkah-langkah kongkrit mengerjakan tiga rantai kerja yang sudah disinggung sebelumnya. Hanya saja karena keterbatasan waktu (dan banyaknya deadline), saya hanya akan bahas dua rantai pertama saja: peneluran ide dan penulisan abstrak. Sebenarnya, abstrak adalah manifestasi dari peneluran ide, karenanya ia tidak terpisah. Sebelum tahapan kongkrit, kita perlu memahami dahulu bahwa suatu abstrak riset literatur yang baik setidaknya harus memuat hal-hal sbb.:

  • Problem dan fokus kajian (apa yang mau diriset, apanya dari hal tersebut yang mau dikaji, dan yang juga penting: apa yang bukan hendak dikaji)
  • Urgensi penelitian (apa implikasi dan signifikansinya secara akademik—teoritik, konseptual, metodologis, dst.)
  • Literatur tentang apa saja yang akan diriset (literatur di seputar problem/pertanyaan apa yang akan dibahas)
  • Kerangka argumen pengulasan literatur (apa saja yang akan di bahas dari literatur-literatur tersebut)

Lalu tahapan kongkrit yang saya usulkan, dan yang biasanya saya pakai untuk tahapan gestasi/ideasi adalah sbb.:

  1. Memilih satu peristiwa kongkrit yang memantik hasrat meriset kita.
  2. Menentukan tema dan topik yang akan dipakai untuk mengkaji peristiwa kongkrit tersebut, dan akan dikaji kira-kira dengan konsep/teori apa, atau dengan pemikiran siapa, atau dengan paradigma apa.
  3. Memasukkan kata-kata kunci terkait peristiwa kongkrit tersebut ke mesin pencari (Google misalnya), dan membaca sebanyak mungkin berita atau konten yang muncul. Tujuan tahap ini adalah familiarisasi isu.
  4. Mendaftar pertanyaan-pertanyaan apa yang muncul semakin jauh dan banyak kita membaca tentang isu tersebut. Dari pertanyaan tersebut, rangkum ke satu pertanyaan besar. Jika tidak bisa, kita bisa coba memilih pertanyaan yang paling dalam, paling mendasar, dan paling membuat penasaran. Pertanyaan bisa muncul apabila kita dapat sensitif meraba dan mengendus anomali, kontradiksi, paradoks, kejanggalan, keanehan, diskrepansi, dan ironi dari informasi yang kita baca.
  5. Memasukkan tema dan konsep/teori/tokoh/paradigma ke mesin pencari di portal-portal jurnal artikel. Beberapa yang sering saya pakai (diurutkan berdasar favorit saya), sbb.:
    Taylor & FrancisSAGEProjectMuseCambridge Journal

    ScienceDirect

    Willey

    Oxford Journal

    Emerald

    Palgrave

    Springer Link

    Duke Journal

    Chicago Journal

    Brill

    Guilford

    Lawrence & Wishart

    De Gruyter

    IEEE Xplore

    Informit

    IngentaConnect

    JSTOR       

    Seminim-minimnya, setiap artikel yang relevan yang muncul dibaca abstraknya, jika tidak dibaca seluruhnya. (Membaca artikel di portal-portal ini memang mahal, sebaiknya tagih pemerintah anda untuk menggratiskan). Tujuan tahap ini adalah familiarisasi dengan khazanah riset terdahulu yang memiliki kemiripan dengan riset yang sedang kita pikirkan. Dengan begini, kita bisa tahu, “oh ada yang merisetnya dengan cara ini,” “oh ada yang mendekati problem ini dengan cara itu,” “oh ternyata ada yang berkesimpulan begini,” dst.

  6. Menimbang-nimbang apa yang kira-kira masih luput dibahas dari riset terdahulu, apa yang belum terpikirkan, atau bahkan apa yang keliru dari semuanya, apa yang disepakati secara bersama oleh berbagai riset yang berbeda ini, dst. Intinya, kita mencari celah kekosongan untuk kita isi dengan tawaran ide riset kita yang mudah-mudahan penting dan menarik itu. Untuk ini kita harus sensitif meraba, mencari dan mengendus anomali, kontradiksi, paradoks, kejanggalan, keanehan, diskrepansi, dan ironi di tumpukan riset-riset yang barusan atau sedang kita baca.
  7. Berpikir, bermeditasi dan berkontemplasi. Tunggu momen eureka! Eureka, itu arti sederhananya: “OOO AKU TAHU!!” (I’ve found it!!) Rata-rata momen eureka saya pribadi saya dapat pada saat boker dan nyetir. Orang lain kebanyakan saat di kamar mandi. INTERMEZZO: jika anda tanya kenapa pada saat-saat seperti ini? Jawabannya adalah karena saat-saat seperti inilah otak kita tenang dan rileks, dan saat otak kita tenang dan rileks, ia lebih berpeluang menciptakan dan menemukan ide baru dan kreatif. Kata neurosaintis, semakin otak kita sibuk, panik, dan gak santai; semakin jauhlah ide-ide baru nan segar. (Cek juga di sini; di sini diceritakan secara sederhana bagaimana otak kita bertingkah saat kita berkreasi, mengkreasi dan menjadi kreatif).
  8. Mendiskusikan problem, serpihan ide, potongan konsep, dan benang-benang merah yang masih kusut dengan teman, atau peer akademik kita akan amat-sangat membantu. Teman kita bisa saja melihat dengan cara lain, menyatakan dengan cara berbeda, atau menunjukkan kepada bukti atau informasi yang lain. Namun demikian, dan ini PENTING: jangan dulu berdikskusi dengan peer anda kalau anda belum menyelesaikan tahapan ke 1-6. Dengan kata lain, jangan ajak orang diskusi kalau anda tidak tahu mau mendiskusikan apa. (Karena ini bukan hanya bikin anda makin pusing, tapi anda juga mendzalimi teman anda—apalagi jika anda tidak mentraktirnya makanan enak #LOL).

 

Setelah dapat ide dan problemnya, maka kita bisa maju ke tahap berikutnya, yaitu menuliskan ide tersebut ke dalam format abstrak. Tidak ada format dan susunan universal, namun intinya setidaknya ada empat komponen yang saya sampaikan di atas: problem/fokus, urgensi, rencana literatur yang akan dibahas, dan kerangka pembahasan literaturnya. Lalu di mana kah tiga unsur di atas—penting, meyakinkan, menarik—dapat masuk? Jawabnya adalah bisa dikeseluruhan komponen abstrak tersebut. Karena urutannya bisa acak, dan memang saya tidak menganut satu format urutan yang baku (tergantung strategi naratif dan retoris saya di situ), maka saya hanya bisa mewanti-wanti beberapa hal berikut:

  1. Pastikan problem dinyatakan dengan jelas S-P-O-K-nya, begitu juga pertanyaan penelitiannya—menggunakan struktur S-P-O-K. Kalimat harus efektif, lugas dan tidak berbelit-belit seperti usus anda. Usahakan anak kalimat satu saja paling banyak. Malah, kalimat bercucu adalah haram.
  2. Pastikan urjensi yang ditawarkan benar-benar signifikan dan mendesak. Tips saya: mulai dengan hal yang tidak dipungkiri lagi, namun akhiri dengan sesuatu yang tidak terbantahkan. Urjensi ini akan memiliki bobot akademik apabila ia mampu berangkat dari satu pandangan yang umum diterima dan digunakan kebanyakan teori/penelitian, lalu kemudian mendakwa pandangan umum tersebut (semakin keras [dan kasar alias mengolok-olok] dakwaannya, semakin bagus #LOL), dan mengatakan kurang lebih: kalau dakwaan saya tidak dipertimbangkan maka semua teori anda menjadi invalid dan self-contradictory.
  3. Coba untuk memberi selayang pandang awal akan literatur apa saja yang akan anda ulas melalui riset. Akan lebih baik apabila anda sudah bisa mengelompokkan, bahkan melabel-labelinya (tentu dengan argumen yang bisa dipertanggung-jawabkan).
  4. Rumuskan kerangka pembahasan yang akan anda gunakan untuk mengulas literatur-literatur tersebut. Misalnya, akan difilter berdasar kesamaan asumsi dasarnya, berdasar keberpihakannya, berdasar tempat dan tahun kajian, dst. Tips saya: pengelompokkan yang meyakinkan adalah pengelompokkan berdasar asumsi dasar, karena untuk ini kita disyaratkan bisa menyelami pikiran para penulis yang kita kelompokkan—suatu keterampilan tersendiri tentunya.
  5. Nyatakan argumentasi umum anda di abstrak tersebut. Argumentasi ini berfungsi sebagai aspirasi anda bahwa seluruh kajian literatur anda nantinya akan memberi landasan kokoh bagi klaim argumen anda. Sama!—klaim argumen juga harus tersusun secara efektif alias berstruktur S-P-O-K yang jelas. Argumen harus jumawa, penuh keberanian, ketegasan maksimal, percaya diri, bahkan jika perlu “arogan”—(saya benar, yang lain salah). Jangan salah, arogansi ini harus dibangun diatas argumentasi yang kokoh, namun terlebih dan teramat dan tersuper penting: berani bertanggung jawab. Bahkan berani mencabut argumennya saat ia terbantahkan.

 

Untuk abstrak, saya akan contohkan salah satu abstrak panjang (extended abstract) riset literatur saya yang paling saya banggakan sejauh ini. Abstrak ini diterima dan didanai oleh pusat riset studi keamanan yang paling saya puja-puja dan elu-elukan sebagai seorang akademisi HI dan penstudi keamanan strategis (PRIO—Peace Research Institute Oslo, di Norwegia) untuk dipresentasikan di jejaring peneliti, lagi-lagi yang amat saya cintai, Social Studies of Finance (SSF) Network (SSFN). Waktu itu (2015), SSF masih baru banget terbentuk, dan saya amat bangga bisa tergabung di sana. Sekarang, SSF sudah punya jurnal yang bagi saya sangat keren, Finance & Society. Juga karena abstrak ini saya diajak seorang kawan untuk meng-convene sebuah konferensi SSF di kampusnya di London, Inggris. (Yang tentu saja tidak bisa saya iyakan karena problem finansial). Yasudahlah, kembali ke tujuan postingan ini.

Lagi-lagi, abstrak yang akan saya contohkan bisa jadi bukan secangkir teh hangat bagi reviewer jurnal anda atau promotor anda; jadi jangan terlalu dijadikan acuan. Saya akan bedah anatomi abstrak saya tersebut. File bisa diunduh di sini.

Saya sadar abstrak ini tidak sesempurna itu. Bahkan saya tidak menampik itu, khususnya setelah membaca abstrak ini lagi tiga tahun kemudian. Namun demikian, abstrak ini sudah cukup memuat komponen-komponen utama dalam suatu abstrak panjang (extended abstract). Nanti jika ada waktu saya tambahkan abstrak pendek. Semoga berguna! [HYP]

Advertisements

About postfordisthighway

Researcher at PURUSHA Research Cooperatives (http://purusha.id) and Member of Editor Collectives at Jurnal IndoProgress (http://indoprogress.com/). My current researches are: - Financial geo-monetary-politics - Method and practice of cooperativization - Interrogating hypnotic subconscious' status in Lacanian psychoanalytic unconscious

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s