Tag Archives: Kerja

Mengeskplisitkan asumsi kita tentang mengapa uang bukanlah uang pada dirinya sendiri? (1)

Standard

Apakah kita benar-benar percaya uang yang kita pakai untuk membeli suatu barang adalah benar-benar mampu menilai barang tersebut? Lalu apakah kita benar-benar percaya bahwa uang itu adalah memang uang—bukankah ia cuma kertas yang bisa saja saya cetak dengan printer saya di rumah? Tulisan ini mungkin bisa mencoba memberi jawaban. Bukan melalui buku teks dan teori-teori besar. Tapi cukup dengan logika sederhana. Soalnya, hal ini sudah selalu kita asumsikan dalam tindakan kita sehari-hari. Yang perlu kita lakukan kalau begitu cuma satu: ikuti logika kita pelan-pelan dan sabar. Ya, pelan-pelan, soalnya hari ini kita sudah terlatih untuk berpikir instan dan ogah yang panjang-panjang. Terimakasih untuk cwider, detik.com dan sejawatnya. Juga sabar, karena kali ini kita yang akan berpikir sendiri, bukan seperti kebiasaan kita melempar tanggung jawab berpikir ke orang-orang yang kita coblos, atau kita bayar, atau kita perentahken. LOL.

 

 

coin owl

 

Oke, mari bayangkan keadaan sebelum ada uang. Saat orang masih bertukar barang satu sama lain. Sampai suatu hari, muncul permasalahan: misalnya, saya yang bertarung mati-matian dengan babi hutan, merasa tidak rela menukarkan sebagian buruan saya itu dengan setangkup beras; sederhana saja, saya merasa itu tidak sebanding. Kesebandingan inilah yang membuat sistem tukar menukar ini menjadi bermasalah. Orang kesulitan menakar nilai baik barangnya sendiri maupun barang yang mau dipertukarkan dari orang lain. Belum lagi saya menakar nilai kerja saya untuk membantu tetangga saya membangun rumah, dan hanya diberi ucapan terima kasih bersenyumkan simpul. Di sinilah perlahan muncul kebutuhan dan akhirnya inisiatif untuk memulai standarisasi “nilai” barang, sedemikian rupa sehingga setiap barang bisa mendapatkan acuan nilai yang sama dan akhirnya bisa diperbandingkan.

Standar ini biasanya adalah barang berharga. Atau apapun yang disepakati (sebagai berharga) oleh orang-orang yang nantinya terikat dengan standar tersebut.  Batu berkilau, daun berurat zig-zag, mungkin.. atau perak dan emas. Dengan bersepakat menaksir babi hutan senilai 5 butir kelereng emas, maka teman saya bisa menukarkannya dengan 5 tangkup beras yang satu tangkupnya ditaksir 1 butir. Atau, apabila ia memiliki kelereng emas yang cukup, ia bisa memberikan saya langsung kelereng emas sebanyak 5 buah tersebut. Demikianlah alat tukar menjadi solusi bagi problem pertukaran. Setidaknya untuk sementara waktu.

Sebelum meneruskan cerita pertukaran itu, dari solusi ini saja sebenarnya kita bisa simpulkan beberapa hal terkait pertukaran ini, entah para petukarnya, lalu alat tukarnya, dan sesuatu yang dipertukarkan dengan alat tukar. Pertama, bahwa solusi tersebut sebenarnya menumpang pada dasar yang bukan miliknya. Jika kita cermati dalam proses pertukaran tadi, ada suatu mekanisme kesepakatan yang harus dicapai di antara pihak-pihak yang akan bertukar barang tersebut. Ada kesepakatan mengenai: 1) standar tukar yang diacu; 2) taksiran nilai dari barang masing-masing berdasarkan standar tadi.  Tanpa ada kesepakatan-kesepakatan ini sebagai dasar, maka mustahil pertukaran terjadi.  Ini memunculkan masalah baru, yaitu seputar apa yang membuat orang punya posisi tawar untuk bersepakat. Karena kemampuan orang untuk menyepakati sesuatu akan ditentukan dari posisi tawarnya; bisa saja orang terikat kesepakatan meski ia tidak ingin bersepakat, namun karena posisi tawarnya lemah, maka ia terpaksa bersepakat . Kedua, sistem ini disandarkan pada kesalingpercayaan timbal balik di antara pihak. Saya harus percaya bahwa orang lain yang kita akan ajak bertukar benar-benar telah bersepakat; begitu juga orang lain terhadap saya. Kesepakatan umum boleh ada, tapi yang terlebih penting adalah saat saya hendak bertukar dengan seseorang, maka ia harus menjalankan kesepakatan itu. Ini pun memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana seseorang di satu sisi bisa dipercaya atau tidak (trust-worthiness), dan di sisi lain bisa meyakinkan orang lain untuk memercayai dirinya atau tidak (convincability).

Sekarang, kita alihkan pandangan kita dari para manusia-manusia petukar ini, ke arah alat tukar mereka. Pula masih dalam skema solusi ini, kita bisa simpulkan beberapa hal. Pertama, alat tukar yang dipakai, apapun itu bentuknya, sebenarnya hanya bisa menjadi dan diterima sebagai alat tukar sejauh ia disepakati; tanpa ada kesepakatan mengenai kebutuhan akan alat tukar, maka jangankan nilai taksiran, keseluruhan sistem pertukaran dengan standar baku tadi tidak akan pernah ada. Di sini, emas, perak dan benda apapun yang menjadi alat/standar tukar tidak serta-merta menjadi alat tukar; ia harus diletakkan, dimaknai dan dimanipulasi di dalam dan melalui suatu problematik sosial tertentu, yaitu ketidaksebandingan pertukaran. Ini sekiranya bisa menjadi pemanasan untuk kita memahami ‘uang’ yang layaknya seluruh alat tukar, bukanlah uang pada dirinya sendiri. Kedua, ada sesuatu dalam spesifisitas atau kerincian yang unik dari suatu alat tukar (apapun bentuknya) sehingga menarik para manusia untuk menjadikannya alat tukar. Maksudnya, bisa saja kita memilih pasir, atau helai rambut, atau kotoran kadal, misalnya, tapi mengapa kita memilih emas sebagai alat tukar? Sesuatu yang ada dalam emas namun yang melebihi emas itu sendiri inilah yang memungkinkan sang emas untuk bisa dijadikan suatu alat tukar. Tanpa sesuatu itu, ia tidak akan bisa menjadi alat tukar. Tapi apakah ‘sesuatu’ yang ada dalam emas namun melebihi emas itu sendiri ini? Untuk sementara kita sebut sesuatu ini sebagai ‘obyek X’.

Masih belum waktunya kembali menoleh ke manusia petukar, sekarang kita perlu perhatikan implikasi solusi tadi kali ini pada apa-apa yang dipertukarkan oleh manusia dengan alat tukar. Apa-apa ini, saya kira tidak berlebihan kalau sudah bisa kita sebut sebagai ‘komoditas’. Simpulan sementara yang bisa ditarik dari solusi tadi terkait komoditas, antara lain: pertama, kalau kita bersepakat bahwa sistem standar tukar ditopang oleh kepercayaan dan kesepakatan, dan kalau kita juga bersepakat bahwa ada obyek X dalam alat tukar yang memungkinkannya bisa diperbandingkan secara umum dengan komoditas-komditas tukar yang bermacam-macam, maka nilai tukar dari suatu komoditas tidak datang dari dirinya sendiri. Banyak persyaratan rumit yang membuat suatu komoditas menjadi layak tukar dan karenanya memiliki nilai tukar yang bisa diperbandingkan dengan komoditas lainnya melalui suatu standar tukar hasil kepercayaan dan kesepakatan manusia. Lagi-lagi, ini bisa menjadi pemanasan untuk kita nantinya memahami istilah lainnya, ‘harga’. Kedua, ada hal lain dari suatu komoditas yang membuatnya jadi menarik untuk dipertukarkan. Atau dengan kata lain, nasib suatu komoditas tentunya tidak terus menerus menjadi sesuatu yang dipertukarkan selamanya. Setelah ditukar, pastilah ia akan dipakai, dipergunakan, atau singkatnya dikonsumsi. Hal lain yang membuatnya diinginkan untuk dikonsumsi ini tidak lain adalah nilai gunanya, singkatnya kegunaan praktisnya sehari-hari. Sehingga pertanyaan baru yang akan lahir adalah seputar asal-usul kemunculan nilai guna ini pastinya.

Kemunculan aspek kegunaan dari suatu komoditas tentunya tidak tiba-tiba turun dari langit. Prakondisinya adalah adanya suatu kebutuhan yang persepsi akan pemenuhannya dilihat di komoditas tadi. Artinya apabila saya tidak melihat setangkup beras sebagai mampu memenuhi kebutuhan saya akan makanan pokok misalnya, maka sudah pasti beras tadi tidak akan memiliki kegunaan bagi saya, dan saya tidak akan repot-repot menyepakati dan memercayai suatu sistem standar tukar, dan akhirnya berpartisipasi dalam aktivitas pertukaran beras dengan orang lain. Lalu, persepsi ini datang dari mana?—pertanyaan baru lagi seketika muncul. Dari manapun itu, yang pasti ia sifatnya sosial dan kultural; dalam artian ia adalah hasil suatu pemaknaan (kultural) akan kebutuhan berikut pemenuhannya, yang muncul sebagai hasil dari interaksi bersama (sosial). Alhasil, lagi-lagi muncul faktor lain yang memungkinkan seseorang bisa mendominasi interaksi dan mengarahkan pemaknaan, yang kemudian membuat persoalan persepsi ini menjadi lebih kompleks lagi. Bisa kekuasaan, karisma, pengetahuan, atau kekerasan. Apapun itu, kita kesampingkan dulu; tetap fokus ke komoditasnya. Prakondisi lainnya adalah kenyataan bahwa komoditas tukar tadi tidak saya ciptakan sendiri—entah karena tidak mau, malas, tidak bisa, tidak mampu, dst. Artinya saya butuh orang lain untuk menciptakan komoditas yang saya persepsikan mampu memenuhi kebutuhan saya tersebut. Proses penciptaan komoditas inilah yang kita sebut-sebut dengan ‘kerja’.

Dan, dengan disebutkannya istilah yang terakhir ini, penjelasan akan semakin bertambah kompleks, bungbro dan jengsis! Karena artinya di dalam penilaian akan suatu komoditas, kita juga ikut menaksir nilai kerja yang terkandung di dalam komoditas tersebut. Maka secara otomatis, ‘kerja’ inipun ikut-ikutan menjadi komoditas itu sendiri! Kerja ini memiliki nilai tukar dan nilai kegunaan yang kemudian ditaksir dengan standar nilai tadi, dst., dsb.  Lagi-lagi masalah taksiran siapa yang dipakai dan taksiran siapa yang diabaikan akan muncul. Begitu pula dengan hal-hal lain seperti posisi tawar, kekuasaan, karisma, pengetahuan, atau kekerasan, yang membuat kita bisa menjadi juara dalam kontes penaksiran tersebut. Dan “berita baiknya” hal-hal ini pun bisa ikut-ikutan menjadi komoditas!!!

Sebelum makin melebar kemana-mana, kita kembali ke simpulan yang bisa ditarik dari solusi sistem tukar dalam kaitannya dengan komoditas. Sekarang simpulan ketiga. Memang nilai tukar dan nilai guna komoditas ditentukan oleh hal-hal yang berada di luarnya (nilai tukar: persepsi akannya, kesebandingannya dengan komoditas lain; nilai guna: nilai kerja si pencipta komoditas), tapi sebenarnya itu semua tetap harus bersama-sama mendarat dan berjumpa di spesifisitas dan kerincian kongkrit dari sang komoditas. (Antropolog hari-hari ini menyebutnya ‘materialitas’). Karena aspek kerincian inilah yang menjadi sasaran proyeksi persepsi kebutuhan kita, menjadi justifikasi dan aspek pembeda dari komoditas lainnya, dan juga menjadi sasaran/tujuan seseorang bekerja menciptakannya. Aspek kerincian ini adalah properti obyektif dari sang komoditas itu sendiri, dan bukan sesuatu yang ditambahkan kemudian oleh subyektivitas manusia (persepsi, satuan ukuran pembeda; taksiran nilai).

Lalu pertanyaannya kemudian, apakah dengan suatu barang menjadi komoditas lantas hal itu berarti seluruh kerinciannya menjadi obyek si pencipta komoditas dan obyek konsumsi sang konsumen? Sayangnya tidak. Karena kerincian komoditas itu adalah sesuatu yang obyektif, artinya manusia harus berusaha menggapai itu. Manusia pertama-tama harus menyadarinya dahulu, lalu mencaritahu tentangnya, kemudian menggali dan mengolahnya dengan kerja, lalu menaksirnya dengan harga, lalu mempertukarkannya dan akhirna menggunakannya. Inilah rantai panjang yang menghubungkan kerincian obyektif dari komoditas dengan subyektivitas manusia yang diarahkan ke komoditas tersebut. Namun, bukan berarti dengan panjangnya rantai penghubung lantas menjamin 100% kerincian obyektif sang komoditas telah terjembatani dengan sempurna. Tentunya tidak. Beras yang saya tukarkan dengan kelereng emas, memang telah disadari sebagai pemenuh kebutuhan di kala lapar, ia telah diketahui khasiatnya, dan kerja-kerja penciptaannya telah dilakukan dengan berbagai cara. Buktinya saya bisa menemukan beras diciptakan oleh orang-orang lain. Tentunya orang-orang tersebut juga menyadari dan mengetahui hal yang sama dengan saya. Bagaimanapun juga, tetap ini tidak menjamin bahwa keseluruhan kerincian beras sudah dijembatani secara absolut. Soalnya, tiba-tiba, kerabat saya membuat istana-istanaan dari beras, dan saya dengar tetangga saja membunuh penggoda suaminya dengan menimpuki dengan beras belasan karung. Artinya, dengan segala kerinciannya beras ini mungkin untuk melakukan, menjadikan mungkin, menghasilkan, dst., efek lain, selain yang saya sadari, ketahui dan kerjakan selama ini! Kerincian komoditas dengan demikian adalah selalu berupa potensialitas terbuka yang hanya bisa secara sebagian dijembatani oleh manusia. Ia tidak mungkin secara total dijangkau oleh seluruh upaya-upaya dan subyektivitas manusia.

Perlu catatan sedikit di sini. Apakah dengan dikatakan “secara sebagian dijembatani manusia” itu artinya manusia memang telah berhasil menjemput sebagian dari kerincian komoditas tersebut?—sehingga kita bisa semacam mencicil sedikit demi sedikit untuk mengevakuasi seluruh kerincian tersebut. Mari kita cermati lebih dekat lagi. Dan kali ini sebaiknya dengan lebih merendahkan hati manusia kita. Karena selama kita selalu mengukur obyektivitas dengan ukuran-ukuran kita, maka selamanya kita hanya melihat diri kita di obyek-obyek itu. Apakah berat dari satu kilo beras adalah benar-benar satu kilo? Yang benar saja: ‘kilo’ adalah satuan yang kita ciptakan lalu kita kenakan ke si beras; si beras itu sendiri tentunya tidak tahu menahu dan tidak ada urusannya dengan kilo-kiloan itu. Jadi, pada dasarnya, dengan mengetahui, menyadari, mempekerjakan, dan menukarkan kerincian komoditas, kita sebenarnya tidak menyentuh apapun dari kerincian obyektif komoditas. Yang kita lakukan adalah menerjemahkannya, membahasakannya, memaknainya dan merekayasanya seturut subyektivitas kita. Tidak lebih. Kerincian komoditas akan selalu menjadi potensialitas terbuka.

Catatan ini, walaupun kecil, amat penting. Karena ini akan membantu kita juga dalam memahami cara kerja alat tukar dalam memperbandingkan dan menyebangunkan dirinya dengan rupa-rupa komoditas ini. Karena yang coba diakses oleh alat tukar ini sebenarnya bukanlah kerincian obyektif dari komoditas tersebut, melainkan subyektivitas manusia yang diproyeksikan ke kerincian komoditas tersebut melalui proses kesadaran, pengetahuan, kerja dan pertukaran. Paradoks, alat tukar mencoba mengukur sesuatu yang tidak terukur! Bisakah potensialitas terbuka diukur, disebangunkan dan diperbandingkan? Bisa saja; karena toh ukuran dan kesebangunan tersebut adalah bisa-bisanya subyektivitas manusia. Dan kita juga sangat tahu bagaimana itu ditentukan oleh banyak faktor seperti posisi tawar, kekuasaan, dst. Namun, dengan penjelasan saya tadi, kini kita bisa tahu pasti bahwa sebenarnya pengetahuan itu bukanlah tentang si komoditas itu sendiri, melainkan pengetahuan yang kita susun mengenainya. Tapi tenang saja, ada satu cara untuk bisa setidaknya mencicipi pengetahuan obyektif ini. Yaitu saat pengetahuan kita akan komoditas itu gagal: gagal mengukur, gagal menyebangunkan, gagal memperbandingkan. Artinya saat rezim pengetahuan dan pengukuran komoditas itu roboh, maka kita dapati pengetahuan obyektif mengenai komoditas berikut kerinciannya: yaitu ia tidak terukurkan. Sehingga di sini akan mencuatkan pertanyaan lainnya: apa yang membuat suatu rezim pengukuran nilai komoditas bisa ada dan langgeng sekalipun sang komoditas itu sendiri pada dasarnya adalah tak terukurkan?

Setidaknya melalui solusi standar tukar sederhana ini kita bisa mendapat hal-hal fundamental mengenai dinamika dan komponen-komponen yang terlibat dalam pertukaran itu sendiri yang padahal sebenarnya sudah kita lakukan sehari-hari. Yang kita perlu adalah mengikuti dan mengamati logika rasional kita saja. Dengan memahami ini, maka kita bisa bersiap untuk memahami standar tukar berikutnya yang bisa jadi lebih kompleks, yaitu dengan uang yang kita praktikkan sehari-hari. Yap, uang dan uang-uangan lainnya (cek, saham, sekuritas, sekuritisasi, reksa dana, derivatif, obligasi, kontrak berjangka, dst.). [PFH]

Advertisements

Anti-Investasi? Anti-Nilai Lebih?

Standard

Catatan: tulisan ini ditujukan untuk refleksi (sambil lari alias on the run) mengenai dan di seputar kawan-kawan yang melakukan gerakan dalam mentransformasikan tatanan sosial-ekonomi berbasiskan rezim akumulasi profit/nilai lebih/bla..bla..singkatnya: kapitalisme. Kalau anda nggak terhitung di situ, tulisan ini akan nggak nyambung buat anda. Ya gitu deh, saya memang gak berniat jadi secangkir kopi hangat untuk semua orang.

Seringkali kita di organisasi gerakan menolak skema investasi untuk usaha-usaha kita dengan alasan sang investor mendapatkan nilai lebih dalam bentuk riba tanpa harus bekerja, mencucurkan keringatnya. Sebenarnya, kalau aktivitas investasi/penyertaan modal kita lihat ‘asal-usul kerja’-nya; benernya kan dia juga adalah hasil mempekerjakan tenaga kerja sang investor, yang hasil tersebut sudah “dibekukan” dalam suatu bentuk–yi. uang/modal. Jadi sebenarnya secara etis, sah-sah aja dia dapet nilai lebih. Duit yang dia dapet ‘kan dari hasil kerja dia di tempat lain yang ditransferkan ke unit usaha-usaha kita.

Karena bukankah hal ini yang selama ini terjadi? Kita melakukan kerja utk organisasi gerakan kita ‘kan sebenarnya yang terjadi adalah kita mentransferkan kerja transaksional berprofit kita di luar, dan kita salurkan ke organisasi dalam bentuk ‘kerja gratis’. (Cat: ini untuk organisasi yang bukan LSM besar berdonor miliaran ya). Bukankah energi, waktu, tenaga, pikiran, dst., yang kita curahkan untuk organisasi secara gratisan (dlm artian demi idealisme-idealisme kita di organisasi), HANYA MUNGKIN KITA DAPAT dari penghidupan yang kita secure/dapatkan secara transaksional dari luar (dari dunia kapitalistik ini), entah lewat saluran bos atau (uang sangu atau warisan) orang tua kita. Hanya dengan penghidupan yang relatif secured, baru lah kita bisa beraktivitas semalam suntuk di organisasi, caci-maki penguasa/pemodal, diskusi muluk-muluk teori dan filsafat sana sini.

Jadi, si kedua bentuk “penyertaan modal” ini nggak ada beda secara prinsipil. Cuma beda di bentuk aja: yang satunya “duit”, yang lainnya “energi, waktu, tenaga, pikiran, dst.” Tapi asal-usul dan sumbernyanya tetep satu: kapitalisme, atau bahasa kita tadi, “rezim profit nilai lebih”.

Sehingga secara prinsipil, agak paradoks kalau kita menolak investasi transaksional, sementara kita terbuka untuk “kerja-kerja gratis” kawan-kawan di organisasi–dan menetralkan seolah2 kerja2 itu nggak didapat dan dimungkinkan dan disponsori oleh sistem ini.

Hal ini bukannya kemudian pro terhadap investasi kapitalistik. Cuma, kita perlu clear mendudukkan persoalan riba2-an dan anti-anti-investasi ini. Apanya di riba/investasi yg kita tolak? Apa cuma dibentuknya yang sudah terstigmakan dengan negatif2?–atau emang secara prinsipil. Kalo secara prinsipil, seperti yang saya tunjukkan dgn analogi kerja gratis anggota organisasi gera’an, alasan penolakan kita kontradiktif!

18389346-business-man-talk-invest-and-profit-cartoon-character-concept-stock-vector

(gambar di ambil dari sini)

Problematisasi Kelas, via Jam Kerja, via Begadang dan Malam Mingguan [Bagian I]

Standard

Problematisasi Kelas, via Jam Kerja, via Begadang dan Malam Mingguan

Hizkia Yosie Polimpung

 

Apakah “begadang”? Apakah “malam mingguan”? Apakah keduanya semata-mata suatu aktivitas remeh? Tulisan singkat ini menggelengkan kepala untuk pertanyaan ini. Bahkan, akan ditunjukkan, bahwa melalui problematisasi dua istilah yang relatif gak penting ini, konsep-konsep penting lainnya, yang telah diterima begitu saja, menjadi dipertanyakan. Ujung dari problematisasi ini selanjutnya dapat dilihat sebagai suatu kontribusi untuk memperbarui cara pandang dalam melihat kehidupan dalam situasi dan kondisi kontemporer.

Niatnya, tulisan ini hanya beberapa paragraf saja. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan tulisan ini menjadi semakin panjang, maka sebaiknya sedikit dipaparkan secara garis besar, baik argumentasi dan sistematika pembahasannya. Hitung-hitung, jaga-jaga supaya pembacaan tidak tersesat di padang gurun ngalor-ngidul tulisan ini. Ada tiga argumentasi yang saya janjikan melalui tulisan ini: pertama, bahwa begadang dan malam-mingguan harus dilihat sebagai manifestasi idiologi kapitalisme; kedua, bahwa kedua istilah ini erat kaitannya dengan, terutama, konsep jam kerja dan kerja itu sendiri; ketiga, problematisasi kedua istilah dan kedua konsep ini akan membawa pada suatu pemahaman baru pertama-tama, akan konsep kelas, dan akhirnya akan kondisi kehidupan dalam kapitalisme kontemporer, atau yang disebut sebagai pasca-Fordisme, yang di dalamnya kelas buruh dan kelas budak (slave) tidak bisa lagi dibedakan. Pembagian sistematika pembahasan akan mengikuti ketiga argumentasi ini. Satu disclaimer metodologis: tulisan ini akan membahas yang-pada-umumnya saja karena memang tujuannya adalah mengintervensi wacana di tingkatan generalitas, di tingkat yang-pada-umumnya. Pengecualian-pengecualian spesifik, akhirnya, tetap butuh riset yang lebih spesifik. (Namun demikian, demikian argumentasi utama saya, totalitas idiologis kapitalisme kontemporer yang dibahas pada bagian ketiga, akan membuat pengecualian-pengecualian ini menjadi tidak begitu penting, karena ia ternyata adalah negativitas yang by default disediakan oleh kapitalisme itu sendiri.)

I. “Kalo begadang tuh pas malem-mingguan aja. Sering-sering gak baik, bisa sakit.”

Subjudul di atas adalah pesan singkat yang saya dapat dari seorang kawan saya saat tahu bahwa saya masih terjaga di sekitaran pukul tiga pagi, yang mana pada umumnya orang sedang terlelap, tidur, mengisi ulang tenaga agar keesokan harinya bisa segar dalam bekerja, mendulang pencaharian, … dan begitu seterusnya, berulang-ulang. Sampai tiba hari jumat: TGIF—thanks God it’s Friday, kata orang-orang ini. Artinya, malam minggu telah tiba. Saatnya berhenti bekerja, dan mulai bersenang-senang, hura-hura, rekreasi, menghilangkan kepenatan. Dan lagi, begitu pula seterusnya. Seolah-olah segalanya tampak normal; begitu pula ungkapan pesan singkat di atas.

Terkait pesan singkat yang menjadi subjudul di atas, akan ditunjukkan dimensi idiologis yang terkandung di dalamnya. Hal ini tidak lantas membuat saya meragukan apalagi menafikan ketulusan yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Sama sekali tidak! Justru ketulusan yang memotivasi ungkapan ini semakin menambah bobot urjensi analisis kritis idiologis atas ungkapan tersebut. Ugly truth-nya yang akan nampak apabila analisis tersebut berhasil adalah: bahwa idiologi dan kepentingan idiologis bahkan menunggangi ketulusan dan kebaikan-hati orang! Simpati terhadap ketulusan dan kebaikan-hati, dengan demikian, tidak seharusnya lantas membuat naluri analisis kritis menjadi tumpul. Malahan, analisis kritis adalah ungkapan terima kasih sekaligus balasan setimpal (dalam artian positif) bagi ungkapan ketulusan hati tersebut.

Maka, inilah ungkapan terima kasih saya.

‘Begadang’, adalah suatu istilah yang secara khas menunjuk pada kelas sosial tertentu, kondisi masyarakat tertentu yang menjadi latar belakang keberadaan kelas tersebut, dan bahkan idiologi yang menyelimuti masyarakat tersebut. ‘Begadang’ mengasumsikan suatu jam tidur/istirahat (malam) yang fix, yang saat “dilanggar,” dinamailah tragedi “pelanggaran” itu ‘begadang’. Jam tidur yang fix tersebut adalah sekitar jam 10 malam sampai enam (6) pagi. Dimensi ideologis dan kelas sosial segera terlihat dari jam tidur ini, yaitu bahwa istilah ini dimungkinkan untuk muncul pada, dan hanya pada, masyarakat yang terselimuti oleh ideologi kapitalis. Pula istilah begadang ini berlaku untuk kelas yang sering disebut sebagai kelas pekerja, atau ‘borjuis kecil’.

(Sederhananya, kelas borjuis kecil berbeda dengan kelas borjuis “besar” dalam hal kepemilikan/akses terhadap modal. Seperti namanya, borjuis kecil memiliki modal yang hanya sedikit, sementara borjuis besar, banyak; lainnya, yang tidak memiliki akses, disebut kelas proletar. Definisi kelas seperti inilah yang oleh artikel ini akan dipertanyakan dengan keras relevansi dan validitasnya. Oleh karena itu, untuk sementara pendefinisian kecil besarnya borjuis ini sengaja dibiarkan tidak begitu presisi. Pembedaan besar–kecil hanya semata-mata untuk kepentingan pembeda sementara).

Mengapa borjuis kecil? Karena hanya borjuis kecil yang tidur pada jam-jam ini, dan pada hari yang bukan hari malam-minggu (biasanya antara Jumat dan Sabtu malam). Mengapa demikian? Karena keesokan harinya, mereka harus melakukan aktivitas (atau ritual?) sosial yang disebut dengan “kerja.” Jam 8 pagi. Maka, perhitungan bisa seperti berikut. Semenjak narasi medis yang berlaku hari-hari ini mengatakan bahwa jumlah jam tidur malam “yang baik” untuk orang dewasa (18 tahun ke atas) adalah 6 sampai 8 jam sehari. Maka, jam aman untuk mulai beristirahat adalah pukul 10-12 malam. Hitungannya, orang butuh 6-8 jam waktu tidur sehingga paling lambat pada pukul 6 pagi, mereka bisa (konon) bangun dengan kondisi badan segar. Apabila waktu untuk mandi, bersolek dan sarapan butuh sekitar satu jam, dan perjalanan ke tempat kerja butuh juga sekitar satu jam, maka tepatlah paling lambat jam 6 waktu mereka untuk bangun pagi. Ditambah dua jam, maka jam 8 diperkirakan mereka sampai di tempat kerja. Jam sekolah/kuliah, umumnya juga menggunakan perhitungan yang sama. Sehingga akan sulit ditemukan ada jam sekolah/kuliah yang dimulai dari jam 4 pagi, misalkan. (Untuk sementara, pembedaan kerja dan kuliah akan diasumsikan sama. Tapi nanti, akan ditunjukkan bahwa ia tidak bisa dibedakan).

Dari narasi di atas terlihat jelas pengasumsian bagi definisi dua konsep: jam kerja dan kerja itu sendiri. Jam kerja adalah waktu (baik durasi maupun waktu presisi) bagi orang untuk bekerja, yang kemudian diartikan sebagai, aktivitas untuk berproduksi atau, sederhananya, mencari nafkah dan/atau peng-hidup-an (analisis kritis idiologis, bahkan, tentang penggunaan umum atas istilah ‘penghidupan’ akan dibahas lebih detil pada bagian berikutnya). Lalu detilnya, dimana aspek idiologisnya? Kekhasan masyarakat kapitalis adalah bahwa terdapa pola umum atas pembagian jam kerja dan jam non-kerja (rekreasi, senggang, santai, dan … malam-mingguan; singkatnya jam dimana orang “get a life!”–saya mengusut istilah inipada artikel ini). Pola umum ini, karena dilakukan terus-menerus tanpa dipertanyakan, maka ia memperoleh status ‘normal’. Pengorganisasian jam tidur (dan jam hidup) ini akhirnya juga menjadi (ter)normal(kan), sedemikian rupa sehingga orang-orang yg melanggarnya dianggap aneh/sakit. Jelas di sini, pengorganisasian jam tidur dan jam kerja, erat kaitannya dengan pengorganisasian (jam) hidup itu sendiri.

Di sinilah dimensi aneh, tidak normal, tidak lazim, patologis, dst., dari ‘begadang’ terlihat. Begadang menjadi sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan. Alasannya rasional, setidaknya terlihat rasional dalam logika yang dinarasikan di atas: jika orang begadang, maka jam hidupnya akan terganggu karena jika bukan jam kerjanya terganggu, maka kesehatannya (ingat narasi medik “normal” di atas) akan pula terganggu karena tidak mendapat waktu tidur yang cukup—lagi-lagi cukup dalam logika narasi medik kesehatan di atas. Keprihatinan kawan saya di atas, yaitu supaya saya tidak sakit karena sering begadang, dapat dimengerti di sini. Logis! Namun, kondisi logis ini hanya dimungkinkan apabila diasumsikan jam kerja tertentu, jam tidur pada kala dan durasi tertentu, singkatnya, pada pengorganisasian hidup tertentu … yaitu tentunya pada masa dan masyarakat kapitalis.

Titik tekan di sini adalah pengorganisasi jam tidur-kerja-hidup, dan bukan kapan pastinya hitungan jam tersebut dimulai. Ini penting untuk memahami pola hidup yang nampaknya berbeda, namun sebenarnya tetap sama, hanya saja dalam kondisi yang berkebalikan (invert). Misalnya, mereka-mereka yang bekerja di malam hari: satpam, supir, bartender, bahkan pekerja seks komersial. Mereka tetap saja menganut pengorganisasian hidup kapitalis, bedanya waktunya saja yang digeser: saat orang pada umumnya bangun tidur jam 6, mereka ini justru baru mulai tidur. Jadi, tetap saja, mereka-mereka ini sah disebut borjuis kecil. Sedikit menambahkan, itulah mengapa seringkali pekerjaan-pekerjaan ini disebut “tidak normal,” yaitu karena jam kerjanya yang tidak seperti pada umumnya—jam 8-5.

Sekedar mengkontraskan. Mereka-mereka yang tidak menganut pengorganisasian hidup seperti ini, tentu tidak memiliki jam tidur yang sama. Bisa dilihat dari, misalnya, pengemis, gelandangan dan anak-anak terlantar (yang konon dipelihara negara). Mereka tidak memiliki jam kerja yang fix. Bahkan, mereka tidak memiliki konsep ‘kerja’ yang jelas pula. Apapun definisi kelas mereka, yang pasti mereka bukan borjuis kecil. Lainnya, pada borjuis “besar,” misalnya CEO, komisaris, direktur, bos. Mereka sering kali tidak terikat jam kerja (dan tempat kerja) yang fix. Mereka bisa datang dan keluar kantor sewaktu-waktu; pula mereka juga bekerja sewaktu-waktu. Pola kerja seperti ini hanya dimungkinkan apabila seseorang mempunyai tingkat aksesi yang tinggi pada modal tentunya.

Malam-mingguan, berikutnya, adalah waktu dimana orang berhenti bekerja dan beristirahat. Setelah lelah dan penat bekerja sampai hari Jumat, tepatnya selepas jam kerja—biasanya jam 5 sore, maka tiba saatnya orang untuk melakukan ‘non-kerja’. Untuk mengisi waktu non-kerja ini, biasanya orang berekreasi, tamasya, dugem, main, dst, dan yang pasti bukan bekerja! Akibatnya, saat ada orang bekerja di saat-saat yang, dari sudut pandang pengorganisasian jam hidup kapitalis, seharusnya saatnya non-kerja, maka ia akan mendapat teguran: “sabtu-sabtu kok masuk kantor?” “malem mingguan kok kerja?” dst. Teguran ini, sama seperti ungkapan di atas, tidak sebaiknya diragukan ketulusannya. Teguran ini adalah reaksi spontan atas suatu hal yang tidak “normal.”

Saya pribadi pernah mengalaminya. Saat sedang berkumpul dengan beberapa kawan di sebuah bar, mendengar musik ajoji, tiba-tiba seseorang perempuan datang mengenakan pakaian yang, menurut saya dan kawan-kawan saya, unik. Sontak kami mengomentarinya. Berniat iseng, saya mengomentarinya dengan sedikit bernada “akademis.” “Jadi, kalau menurut psikoanalisis Lacan, cewek itu benernya sedang ingin memerangkap tatapan (gaze) orang sembari dia juga terperangkap jejaring gaze itu sendiri……..,” belum sempat saya menyelesaikan “analisis iseng” saya, seorang kawan saya menghardik, “ayolah bro! ini bukan di kampus. Jangan ngomong berat-beratlah. Malem-minggu ini men. Get a life!

Jadi jelas dalam hardikan tersebut, kawan saya melihat saya sedang tidak melakukan non-kerja dalam mengomentari perempuan berpakaian unik tadi. Semenjak saya bekerja di kampus, dan pekerjaan saya erat kaitannya dengan akademika, maka saat saya menganalisis tadi, itu diasosiasikan dengan kerja. Dan semenjak itu pada hari Jumat malam—bukan jam kerja, dan pada malam-minggu—maka saya dianggapnya “melanggar” pengorganisasian hidup yang “normal.”

Sekali lagi. Di sini terlihat jelas bahwa sedari mula, istilah ‘malam-minggu’ dan ‘malam-mingguan’ adalah istilah yang sangat idiologis. Ia mengasumsikan pengorganisasian hari kerja tertentu, jam kerja tertentu, dan bentuk aktivitas bernama kerja yang juga tertentu … yang tentunya adalah kapitalis. Istilah ‘malam minggu’, yang tepatnya jatuh pada hari Jumat Malam dan Sabtu, tidak akan mungkin ada jika tidak disepakati secara umum, normal dan lazim, bahwa hari kerja hanyalah hari Senin sampai Jumat (jam 5 sore). Konsepsi malam-mingguan sebagai waktu bersenang-senang, rileks, dan waktu keluarga, tentu juga tidak akan mungkin jika tidak disepakati bahwa kesemuanya itu tidak akan didapat saat bekerja. Pembedaan kerja dan non-kerja tertentu harus disepakati lebih dahulu supaya konsepsi ‘malam-minggu’ dan kata kerja ‘malam-mingguan’ bisa dimungkinkan maknanya seperti yang sedang berlaku saat ini.

Pembedaan kerja dan non-kerja ini umumnya akan berbuntut pada atributasi konsep kesenangan: kerja adalah tidak menyenangkan; non-kerja adalah menyenangkan. Di sini bisa dipahami, misalnya, istilah ‘lembur’ dan konotasi penderitaan yang tidak menyenangkan yang terkandung dalamnya. Pula ungkapan-ungkapan populer seperti “TGIF—Thanks God It’s Friday,” atau lainnya, “I hate Monday!” Jumat sore dianggap sebagai saat dimulainya bersenang-senang, sementara Senin diangap sebagai saat diawalinya penderitaan seminggu.

Lagi-lagi, ini hanya berlaku bagi borjuis kecil. Orang-orang miskin, gelandangan dan anak terlantar (yang konon katanya dipelihara negara), tentu tidak mengenal waktu “malam mingguan.” Yang mereka lakukan ya itu-itu saja: mengemis, mengais-ngais makanan sisa, berkeliaran nggak jelas, dst., yang bahkan juga tidak jelas itu sah digolongkan pada konsep ‘kerja’ atau ‘non-kerja’. Demikian pula bagi para borjuis “besar.” Semenjak waktu yang longgar dan bisa diatur sendiri, maka bagi mereka, hari apapun bisa disulap menjadi “malam minggu.”

Lalu, kedua kelompok orang ini—orang miskin dan borjuis besar—masuk dalam pengorganisasian hidup seperti apa? Bagian kedua akan menjawabnya, yang kemudian akan ditarik implikasinya di bagian ketiga.

Namun sebelumnya, setidaknya janji saya di awal sudah terpenuhi satu, yaitu untuk menunjukkan bahwa istilah “begadang” dan “malam minggu” adalah manifestasi idiologis pengorganisasian hidup khas kapitalisme par excellence!

 

…. bersambung ke Bagian II