Tag Archives: relasi sosial

Mengeskplisitkan asumsi kita tentang mengapa uang bukanlah uang pada dirinya sendiri? (1)

Standard

Apakah kita benar-benar percaya uang yang kita pakai untuk membeli suatu barang adalah benar-benar mampu menilai barang tersebut? Lalu apakah kita benar-benar percaya bahwa uang itu adalah memang uang—bukankah ia cuma kertas yang bisa saja saya cetak dengan printer saya di rumah? Tulisan ini mungkin bisa mencoba memberi jawaban. Bukan melalui buku teks dan teori-teori besar. Tapi cukup dengan logika sederhana. Soalnya, hal ini sudah selalu kita asumsikan dalam tindakan kita sehari-hari. Yang perlu kita lakukan kalau begitu cuma satu: ikuti logika kita pelan-pelan dan sabar. Ya, pelan-pelan, soalnya hari ini kita sudah terlatih untuk berpikir instan dan ogah yang panjang-panjang. Terimakasih untuk cwider, detik.com dan sejawatnya. Juga sabar, karena kali ini kita yang akan berpikir sendiri, bukan seperti kebiasaan kita melempar tanggung jawab berpikir ke orang-orang yang kita coblos, atau kita bayar, atau kita perentahken. LOL.

 

 

coin owl

 

Oke, mari bayangkan keadaan sebelum ada uang. Saat orang masih bertukar barang satu sama lain. Sampai suatu hari, muncul permasalahan: misalnya, saya yang bertarung mati-matian dengan babi hutan, merasa tidak rela menukarkan sebagian buruan saya itu dengan setangkup beras; sederhana saja, saya merasa itu tidak sebanding. Kesebandingan inilah yang membuat sistem tukar menukar ini menjadi bermasalah. Orang kesulitan menakar nilai baik barangnya sendiri maupun barang yang mau dipertukarkan dari orang lain. Belum lagi saya menakar nilai kerja saya untuk membantu tetangga saya membangun rumah, dan hanya diberi ucapan terima kasih bersenyumkan simpul. Di sinilah perlahan muncul kebutuhan dan akhirnya inisiatif untuk memulai standarisasi “nilai” barang, sedemikian rupa sehingga setiap barang bisa mendapatkan acuan nilai yang sama dan akhirnya bisa diperbandingkan.

Standar ini biasanya adalah barang berharga. Atau apapun yang disepakati (sebagai berharga) oleh orang-orang yang nantinya terikat dengan standar tersebut.  Batu berkilau, daun berurat zig-zag, mungkin.. atau perak dan emas. Dengan bersepakat menaksir babi hutan senilai 5 butir kelereng emas, maka teman saya bisa menukarkannya dengan 5 tangkup beras yang satu tangkupnya ditaksir 1 butir. Atau, apabila ia memiliki kelereng emas yang cukup, ia bisa memberikan saya langsung kelereng emas sebanyak 5 buah tersebut. Demikianlah alat tukar menjadi solusi bagi problem pertukaran. Setidaknya untuk sementara waktu.

Sebelum meneruskan cerita pertukaran itu, dari solusi ini saja sebenarnya kita bisa simpulkan beberapa hal terkait pertukaran ini, entah para petukarnya, lalu alat tukarnya, dan sesuatu yang dipertukarkan dengan alat tukar. Pertama, bahwa solusi tersebut sebenarnya menumpang pada dasar yang bukan miliknya. Jika kita cermati dalam proses pertukaran tadi, ada suatu mekanisme kesepakatan yang harus dicapai di antara pihak-pihak yang akan bertukar barang tersebut. Ada kesepakatan mengenai: 1) standar tukar yang diacu; 2) taksiran nilai dari barang masing-masing berdasarkan standar tadi.  Tanpa ada kesepakatan-kesepakatan ini sebagai dasar, maka mustahil pertukaran terjadi.  Ini memunculkan masalah baru, yaitu seputar apa yang membuat orang punya posisi tawar untuk bersepakat. Karena kemampuan orang untuk menyepakati sesuatu akan ditentukan dari posisi tawarnya; bisa saja orang terikat kesepakatan meski ia tidak ingin bersepakat, namun karena posisi tawarnya lemah, maka ia terpaksa bersepakat . Kedua, sistem ini disandarkan pada kesalingpercayaan timbal balik di antara pihak. Saya harus percaya bahwa orang lain yang kita akan ajak bertukar benar-benar telah bersepakat; begitu juga orang lain terhadap saya. Kesepakatan umum boleh ada, tapi yang terlebih penting adalah saat saya hendak bertukar dengan seseorang, maka ia harus menjalankan kesepakatan itu. Ini pun memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana seseorang di satu sisi bisa dipercaya atau tidak (trust-worthiness), dan di sisi lain bisa meyakinkan orang lain untuk memercayai dirinya atau tidak (convincability).

Sekarang, kita alihkan pandangan kita dari para manusia-manusia petukar ini, ke arah alat tukar mereka. Pula masih dalam skema solusi ini, kita bisa simpulkan beberapa hal. Pertama, alat tukar yang dipakai, apapun itu bentuknya, sebenarnya hanya bisa menjadi dan diterima sebagai alat tukar sejauh ia disepakati; tanpa ada kesepakatan mengenai kebutuhan akan alat tukar, maka jangankan nilai taksiran, keseluruhan sistem pertukaran dengan standar baku tadi tidak akan pernah ada. Di sini, emas, perak dan benda apapun yang menjadi alat/standar tukar tidak serta-merta menjadi alat tukar; ia harus diletakkan, dimaknai dan dimanipulasi di dalam dan melalui suatu problematik sosial tertentu, yaitu ketidaksebandingan pertukaran. Ini sekiranya bisa menjadi pemanasan untuk kita memahami ‘uang’ yang layaknya seluruh alat tukar, bukanlah uang pada dirinya sendiri. Kedua, ada sesuatu dalam spesifisitas atau kerincian yang unik dari suatu alat tukar (apapun bentuknya) sehingga menarik para manusia untuk menjadikannya alat tukar. Maksudnya, bisa saja kita memilih pasir, atau helai rambut, atau kotoran kadal, misalnya, tapi mengapa kita memilih emas sebagai alat tukar? Sesuatu yang ada dalam emas namun yang melebihi emas itu sendiri inilah yang memungkinkan sang emas untuk bisa dijadikan suatu alat tukar. Tanpa sesuatu itu, ia tidak akan bisa menjadi alat tukar. Tapi apakah ‘sesuatu’ yang ada dalam emas namun melebihi emas itu sendiri ini? Untuk sementara kita sebut sesuatu ini sebagai ‘obyek X’.

Masih belum waktunya kembali menoleh ke manusia petukar, sekarang kita perlu perhatikan implikasi solusi tadi kali ini pada apa-apa yang dipertukarkan oleh manusia dengan alat tukar. Apa-apa ini, saya kira tidak berlebihan kalau sudah bisa kita sebut sebagai ‘komoditas’. Simpulan sementara yang bisa ditarik dari solusi tadi terkait komoditas, antara lain: pertama, kalau kita bersepakat bahwa sistem standar tukar ditopang oleh kepercayaan dan kesepakatan, dan kalau kita juga bersepakat bahwa ada obyek X dalam alat tukar yang memungkinkannya bisa diperbandingkan secara umum dengan komoditas-komditas tukar yang bermacam-macam, maka nilai tukar dari suatu komoditas tidak datang dari dirinya sendiri. Banyak persyaratan rumit yang membuat suatu komoditas menjadi layak tukar dan karenanya memiliki nilai tukar yang bisa diperbandingkan dengan komoditas lainnya melalui suatu standar tukar hasil kepercayaan dan kesepakatan manusia. Lagi-lagi, ini bisa menjadi pemanasan untuk kita nantinya memahami istilah lainnya, ‘harga’. Kedua, ada hal lain dari suatu komoditas yang membuatnya jadi menarik untuk dipertukarkan. Atau dengan kata lain, nasib suatu komoditas tentunya tidak terus menerus menjadi sesuatu yang dipertukarkan selamanya. Setelah ditukar, pastilah ia akan dipakai, dipergunakan, atau singkatnya dikonsumsi. Hal lain yang membuatnya diinginkan untuk dikonsumsi ini tidak lain adalah nilai gunanya, singkatnya kegunaan praktisnya sehari-hari. Sehingga pertanyaan baru yang akan lahir adalah seputar asal-usul kemunculan nilai guna ini pastinya.

Kemunculan aspek kegunaan dari suatu komoditas tentunya tidak tiba-tiba turun dari langit. Prakondisinya adalah adanya suatu kebutuhan yang persepsi akan pemenuhannya dilihat di komoditas tadi. Artinya apabila saya tidak melihat setangkup beras sebagai mampu memenuhi kebutuhan saya akan makanan pokok misalnya, maka sudah pasti beras tadi tidak akan memiliki kegunaan bagi saya, dan saya tidak akan repot-repot menyepakati dan memercayai suatu sistem standar tukar, dan akhirnya berpartisipasi dalam aktivitas pertukaran beras dengan orang lain. Lalu, persepsi ini datang dari mana?—pertanyaan baru lagi seketika muncul. Dari manapun itu, yang pasti ia sifatnya sosial dan kultural; dalam artian ia adalah hasil suatu pemaknaan (kultural) akan kebutuhan berikut pemenuhannya, yang muncul sebagai hasil dari interaksi bersama (sosial). Alhasil, lagi-lagi muncul faktor lain yang memungkinkan seseorang bisa mendominasi interaksi dan mengarahkan pemaknaan, yang kemudian membuat persoalan persepsi ini menjadi lebih kompleks lagi. Bisa kekuasaan, karisma, pengetahuan, atau kekerasan. Apapun itu, kita kesampingkan dulu; tetap fokus ke komoditasnya. Prakondisi lainnya adalah kenyataan bahwa komoditas tukar tadi tidak saya ciptakan sendiri—entah karena tidak mau, malas, tidak bisa, tidak mampu, dst. Artinya saya butuh orang lain untuk menciptakan komoditas yang saya persepsikan mampu memenuhi kebutuhan saya tersebut. Proses penciptaan komoditas inilah yang kita sebut-sebut dengan ‘kerja’.

Dan, dengan disebutkannya istilah yang terakhir ini, penjelasan akan semakin bertambah kompleks, bungbro dan jengsis! Karena artinya di dalam penilaian akan suatu komoditas, kita juga ikut menaksir nilai kerja yang terkandung di dalam komoditas tersebut. Maka secara otomatis, ‘kerja’ inipun ikut-ikutan menjadi komoditas itu sendiri! Kerja ini memiliki nilai tukar dan nilai kegunaan yang kemudian ditaksir dengan standar nilai tadi, dst., dsb.  Lagi-lagi masalah taksiran siapa yang dipakai dan taksiran siapa yang diabaikan akan muncul. Begitu pula dengan hal-hal lain seperti posisi tawar, kekuasaan, karisma, pengetahuan, atau kekerasan, yang membuat kita bisa menjadi juara dalam kontes penaksiran tersebut. Dan “berita baiknya” hal-hal ini pun bisa ikut-ikutan menjadi komoditas!!!

Sebelum makin melebar kemana-mana, kita kembali ke simpulan yang bisa ditarik dari solusi sistem tukar dalam kaitannya dengan komoditas. Sekarang simpulan ketiga. Memang nilai tukar dan nilai guna komoditas ditentukan oleh hal-hal yang berada di luarnya (nilai tukar: persepsi akannya, kesebandingannya dengan komoditas lain; nilai guna: nilai kerja si pencipta komoditas), tapi sebenarnya itu semua tetap harus bersama-sama mendarat dan berjumpa di spesifisitas dan kerincian kongkrit dari sang komoditas. (Antropolog hari-hari ini menyebutnya ‘materialitas’). Karena aspek kerincian inilah yang menjadi sasaran proyeksi persepsi kebutuhan kita, menjadi justifikasi dan aspek pembeda dari komoditas lainnya, dan juga menjadi sasaran/tujuan seseorang bekerja menciptakannya. Aspek kerincian ini adalah properti obyektif dari sang komoditas itu sendiri, dan bukan sesuatu yang ditambahkan kemudian oleh subyektivitas manusia (persepsi, satuan ukuran pembeda; taksiran nilai).

Lalu pertanyaannya kemudian, apakah dengan suatu barang menjadi komoditas lantas hal itu berarti seluruh kerinciannya menjadi obyek si pencipta komoditas dan obyek konsumsi sang konsumen? Sayangnya tidak. Karena kerincian komoditas itu adalah sesuatu yang obyektif, artinya manusia harus berusaha menggapai itu. Manusia pertama-tama harus menyadarinya dahulu, lalu mencaritahu tentangnya, kemudian menggali dan mengolahnya dengan kerja, lalu menaksirnya dengan harga, lalu mempertukarkannya dan akhirna menggunakannya. Inilah rantai panjang yang menghubungkan kerincian obyektif dari komoditas dengan subyektivitas manusia yang diarahkan ke komoditas tersebut. Namun, bukan berarti dengan panjangnya rantai penghubung lantas menjamin 100% kerincian obyektif sang komoditas telah terjembatani dengan sempurna. Tentunya tidak. Beras yang saya tukarkan dengan kelereng emas, memang telah disadari sebagai pemenuh kebutuhan di kala lapar, ia telah diketahui khasiatnya, dan kerja-kerja penciptaannya telah dilakukan dengan berbagai cara. Buktinya saya bisa menemukan beras diciptakan oleh orang-orang lain. Tentunya orang-orang tersebut juga menyadari dan mengetahui hal yang sama dengan saya. Bagaimanapun juga, tetap ini tidak menjamin bahwa keseluruhan kerincian beras sudah dijembatani secara absolut. Soalnya, tiba-tiba, kerabat saya membuat istana-istanaan dari beras, dan saya dengar tetangga saja membunuh penggoda suaminya dengan menimpuki dengan beras belasan karung. Artinya, dengan segala kerinciannya beras ini mungkin untuk melakukan, menjadikan mungkin, menghasilkan, dst., efek lain, selain yang saya sadari, ketahui dan kerjakan selama ini! Kerincian komoditas dengan demikian adalah selalu berupa potensialitas terbuka yang hanya bisa secara sebagian dijembatani oleh manusia. Ia tidak mungkin secara total dijangkau oleh seluruh upaya-upaya dan subyektivitas manusia.

Perlu catatan sedikit di sini. Apakah dengan dikatakan “secara sebagian dijembatani manusia” itu artinya manusia memang telah berhasil menjemput sebagian dari kerincian komoditas tersebut?—sehingga kita bisa semacam mencicil sedikit demi sedikit untuk mengevakuasi seluruh kerincian tersebut. Mari kita cermati lebih dekat lagi. Dan kali ini sebaiknya dengan lebih merendahkan hati manusia kita. Karena selama kita selalu mengukur obyektivitas dengan ukuran-ukuran kita, maka selamanya kita hanya melihat diri kita di obyek-obyek itu. Apakah berat dari satu kilo beras adalah benar-benar satu kilo? Yang benar saja: ‘kilo’ adalah satuan yang kita ciptakan lalu kita kenakan ke si beras; si beras itu sendiri tentunya tidak tahu menahu dan tidak ada urusannya dengan kilo-kiloan itu. Jadi, pada dasarnya, dengan mengetahui, menyadari, mempekerjakan, dan menukarkan kerincian komoditas, kita sebenarnya tidak menyentuh apapun dari kerincian obyektif komoditas. Yang kita lakukan adalah menerjemahkannya, membahasakannya, memaknainya dan merekayasanya seturut subyektivitas kita. Tidak lebih. Kerincian komoditas akan selalu menjadi potensialitas terbuka.

Catatan ini, walaupun kecil, amat penting. Karena ini akan membantu kita juga dalam memahami cara kerja alat tukar dalam memperbandingkan dan menyebangunkan dirinya dengan rupa-rupa komoditas ini. Karena yang coba diakses oleh alat tukar ini sebenarnya bukanlah kerincian obyektif dari komoditas tersebut, melainkan subyektivitas manusia yang diproyeksikan ke kerincian komoditas tersebut melalui proses kesadaran, pengetahuan, kerja dan pertukaran. Paradoks, alat tukar mencoba mengukur sesuatu yang tidak terukur! Bisakah potensialitas terbuka diukur, disebangunkan dan diperbandingkan? Bisa saja; karena toh ukuran dan kesebangunan tersebut adalah bisa-bisanya subyektivitas manusia. Dan kita juga sangat tahu bagaimana itu ditentukan oleh banyak faktor seperti posisi tawar, kekuasaan, dst. Namun, dengan penjelasan saya tadi, kini kita bisa tahu pasti bahwa sebenarnya pengetahuan itu bukanlah tentang si komoditas itu sendiri, melainkan pengetahuan yang kita susun mengenainya. Tapi tenang saja, ada satu cara untuk bisa setidaknya mencicipi pengetahuan obyektif ini. Yaitu saat pengetahuan kita akan komoditas itu gagal: gagal mengukur, gagal menyebangunkan, gagal memperbandingkan. Artinya saat rezim pengetahuan dan pengukuran komoditas itu roboh, maka kita dapati pengetahuan obyektif mengenai komoditas berikut kerinciannya: yaitu ia tidak terukurkan. Sehingga di sini akan mencuatkan pertanyaan lainnya: apa yang membuat suatu rezim pengukuran nilai komoditas bisa ada dan langgeng sekalipun sang komoditas itu sendiri pada dasarnya adalah tak terukurkan?

Setidaknya melalui solusi standar tukar sederhana ini kita bisa mendapat hal-hal fundamental mengenai dinamika dan komponen-komponen yang terlibat dalam pertukaran itu sendiri yang padahal sebenarnya sudah kita lakukan sehari-hari. Yang kita perlu adalah mengikuti dan mengamati logika rasional kita saja. Dengan memahami ini, maka kita bisa bersiap untuk memahami standar tukar berikutnya yang bisa jadi lebih kompleks, yaitu dengan uang yang kita praktikkan sehari-hari. Yap, uang dan uang-uangan lainnya (cek, saham, sekuritas, sekuritisasi, reksa dana, derivatif, obligasi, kontrak berjangka, dst.). [PFH]

Advertisements

Menuju Era Kapitalisme Terjejaring (Dunia, Kehidupan, Jejaring Produksi)

Standard

Menuju Era Kapitalisme Terjejaring,

atau Bagaimana Dunia dan Kehidupan Menjadi Jejaring Produksi[1]

Hizkia Yosie Polimpung

Pasca-Fordisme

Di sekitar 1970an, kapitalisme model Fordis di banyak negara industri maju mulai bermutasi ke variannya yang disebut-sebut sebagai pasca-Fordis. Secara umum, pola manajerial yang tadinya terotomasi, kaku dan tersentralisir, kini berubah menjadi lebih fleksibel, longgar dan terdesentralisir. Namun demikian, perubahan tersebut tidak seharusnya dipahami secara kuantitas saja, melainkan kualitas-nya, atau dengan kata lain, paradigma atau logika yang mendasarinya. Mutasi pasca-Fordisme membawa perubahan fundamental bagi beroperasinya kapitalisme itu sendiri. Restrukturisasi hampir di segala sektor adalah efek dari mutasi ini. Namun demikian, dua yang akan diberi porsi pembahasan di sini adalah pada modus produksi dan manajemen pekerja.

Sebelum masuk pada pembahasan kedua variabel tersebut, ada baiknya dibahas sedikit mengenai asal-usul transisi tersebut secara singkat.[2] Untuk memotong cerita, singkatnya terjadi krisis pada manajemen Fordisme saat marak terjadi protes bahkan pemogokan oleh buruh. Buruh yang mulai menyadari peran vitalnya dalam proses produksi kapitalis, mulai merapatkan barisannya, memperkuat serikat buruh dan menaikkan posisi tawarnya di hadapan pihak manajemen. Para buruh menolak kerja overtime yang kerap diperintahkan demi meningkatkan produktivitas pabrik (mengingat saat itu produksi massal menjadi ujung tombak bagi kapitalisme). Alhasil pemogokan terjadi di mana-mana.[3] Efeknya tentu detrimental bagi pihak manjemen: produksi terhenti, akumulasi kapital terganggu, profit mandek. Di sini kapitalisme berada di ambang transisi.

Sejarah menunjukkan, politik-ekonomi neoliberal turut membantu menyelesaikan krisis ini. Serikat buruh dibubarkan, sistem kerja kontrak (outsource) diperkenalkan, relokasi industri difasilitasi dan berbagai instrumen hukum untuk memperkuat manajemen vis a vis buruh dikeluarkan. Semuanya demi satu hal: menciptakan iklim bisnis yang kondusif. Namun demikian yang menarik adalah apa yang terjdai di dalam pabrik kapitalisme itu sendiri. Transformasi paradigmatik melanda pola manajerial kapitalisme yang kesemuanya dilakukan tidak hanya untuk keluar dari problem pemogokan buruh ini, melainkan juga untuk mencegah tragedi serupa di kemudian hari. Tepat pada konteks inilah kita sebaiknya meletakkan dan memahami rupa-rupa transformasi—yang kali ini di bahas adalah pada lini produksi dan manajemen pekerja—dalam logika kapitalisme, yaitu untuk menundukkan para pekerja dan membuat mereka kembali bekerja.[4]

Restrukturisasi logika produksi kapitalisme sangat ditentukan dari caranya menyelesaikan setiap krisis yang melandanya. Setiap gestur untuk menyelesaikan krisis tersebut akan senantiasa diiringi dengan munculnya teknologi[5] baru, baik itu di lini produksi maupun di lini manajemen buruh.

Di lini produksi setidaknya terjadi beberapa transformasi: pertama, pada sifat produksinya yang tidak lagi berupa produksi massal dan in advance, melainkan eksklusif dan just in time. Produksi kini mensyaratkan komunikasi konstan dengan para konsumen di luar sana. Saat konsumen memesan, barulah produk diproduksi. Kedua, bentuk produk yang diproduksi pun mulai mengalami variasi jika bukan perubahan ke arah yang lebih berorientasi jasa—mulai kesehatan, pendidikan, konsultan, transportasi, keuangan, hiburan, komunikasi dan periklanan. Ketiga, kualitas produk yang tidak lagi bernilai material, melainkan mulai bersifat imaterial. Hal ini terlihat dengan bergesernya nilai suatu barang dari nilai guna ke nilai simbolik.[6] Konten dan sifat kultural, informasional dan afektif yang tadinya tersier, perlahan mulai menggantikan konten dan sifat instrumental dan industrial dari suatu produk yang tadinya primer.

Di sisi manajemen pekerja juga terjadi beberapa transformasi. Pertama, pekerja yang tadinya spesifik mengerjakan satu bagian saja, kini mulai disyaratkan untuk mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus dan mampu bertahan di bawah tekanan; singkatnya, fleksibilitas mulai muncul sebagai suatu bentuk kerja “modern.” Kedua, seiring dengan bergesernya produksi ke bentuk yang lebih imaterial, maka ia mensyaratkan jenis pekerja baru, atau yang disebut sebagai pekerja imaterial.[7] Pekerja imaterial ini tentu mensyaratkan kualifikasi yang lebih dari pada pekerja material konvensional; ia diharapkan berpendidikan, memiliki kemampuan khusus tertentu, singkatnya terspesialisasi. Ketiga, terkait ruang dan waktu kerja yang tadinya fix, seiring dengan fleksibiliasasi dan spesialisasi, mulai menjadi longgar dan tidak menentu: seseorang bisa bekerja di rumah, kafe, taman dengan pakaian apapun dan tidak harus seragam, dan bisa kapanpun: yang penting pekerjaan selesai. Keempat, pola koordinasi pun menyaksikan perubahan yang cukup dramatis: pola assembly line kini digantikan dengan pola jaringan semenjak para pekerja berpencar kemana-mana (mencari konsumen, menjajakan produk, dst.).[8]

Daftar-daftar ini bisa bertambah panjang, namun alasan fokus membuat saya membatasi sampai di sini saja.[9] Fokus yang ingin saya soroti pada tulisan ini adalah bagaimana transformasi ini turut mensyaratkan kehadiran faktor lainnya, yaitu teknologi informasi dan komunikasi. Bagaimanakah mendekatkan bagian produksi, bagian pemasaran dengan konsumen? Atau bagaimana mengkoordinasikan tim-kerja dalam konteks pola jaringan? Menciptakan beragam iklan pemasaran? Mendesain suatu bungkus produk? Menangkap animo pasar? Menjawab keluhan konsumen? … jawabannya hampir sama semua: melalui media komunikasi. Komunikasi dengan demikian masuk dan memainkan peran vital baik bagi produksi maupun manajemen pekerja dalam kapitalisme pasca-Fordis. Tulisan ini akan memberikan selayang pandang kiprah komunikasi dalam kapitalisme: perannya dan implikasi yang dihasilkannya.


Evolusi mutakhir komunikasi

Komunikasi-diri massa

Saat kapitalisme membutuhkan komunikasi, maka bisa dimaklumi perkembangan infrastruktur dan teknologi komunikasi berkembang pesat.[10] Departemen penelitian dan pengembangan (litbang) dari masing-masing perusahaan mengembangkannya. Belum lagi mulai bermunculan perusahaan-perusahaan yang khusus menyediakan jasa dan produk komunikasi tersebut: mulai dari telepon, intercom, komputer, intranet, internet, telepon seluler, smart phone, BlackBerry, iPad, dst. Setidaknya bisa dilihat di sini bahwa perkembangan teknologi komunikasi tidak lepas dari konteks spesifik zamannya, yaitu saat ia menjadi faktor vital bagi produksi kapitalisme. (Hal ini penting untuk menghindari pandangan bahwa kemajuan teknologi adalah sesuatu yang niscaya sifatnya).

Perkembangan pesat teknologi komunikasi ini sering disebut sebagai revolusi teknologi komunikasi dan informasi. Salah satu terobosan dalam revolusi ini adalah dengan diciptakan dan diproliferasikannya internet. Internet sendiri pertama kali muncul pada tahun 1969, namun baru mulai dipakai secara luas baru sekitar 20 tahun kemudian. Pengguna internet pun meningkat: pada 1995 berada pada kisaran 40 juta, sementara pada 2008 mencapai angka 1,4 miliar; begitu pula dengan digital divide antara negara “maju” dan berkembang yang semakin menyusut: 80,6:1 pada 1997 menjadi 5,8:1 pada 2007. Korelat teknologi jaringan internet lain yang juga memainkan peran vital adalah teknologi nirkabel (wireless) yang memungkinkan mobilitas sembari terkoneksi ke internet. Dimulai pada sekitar 1990 dengan pengguna sekitar 1,6 juta menjadi 3,8 miliar orang pada 2008 yang diperkirakan mencapai 52% total populasi dunia.[11]

Lantas pertanyaannya kemudian, bagaimanakah revolusi aparatus komunikasi ini berdampak pada prinsip dan hakikat komunikasi itu sendiri? Terkait dampak internet, Castells menggambarkan, “[i]nternet [… ] is the communication fabric of our lives, for work, for personal connection, for social networking, for information, for entertainment, for public services, for politics, and for religion.”[12] Singkatnya, komunikasi identik dengan kehidupan itu sendiri. Para pengguna internet, tidak lagi sekedar “menggunakan,” lebih dari itu, mereka hidup dengan internet. Sehingga sebenarnya, sekali lagi dari Castells, menjadi problematik apabila adalah mobilitas yang dituju oleh teknologi komunikasi nirkabel; lebih dari itu: ‘konektivitas abadi’.[13]

Salah satu fitur perkembangan yang berperan signifikan dalam membentuk modus hidup internet adalah teknologi web 2.0. Web 2.0 merupakan upgrade web sebelumnya yaitu dalam hal interaktivitas. Web 2.0 memungkinkan umpan-balik yang interaktif antara pengguna dengan developer website. Menjadi semakin populer saat Web 2.0 menjelma ke blog (WordPress, Blogspot, dll.) dan situs-situ jaringan sosial (Friendster, MySpace, Facebook, dst.) melalui teknologi UGC, yaitu user-generated content. Melalui UGC, developer hanya menyediakan platform, sementara konten dari website tersebut diisi oleh pengguna. Tidak hanya itu, para pengguna bisa saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Hal ini pun berikutnya membawa kita pada kultur berbagi (sharing) dan menandai (tagging). Melalui Web 2.0 dan UGC, kehidupan sosial pelan-pelan dipindahkan ke dunia internet. Seperti kata Sean Parker dalam film Social Network (2010), “It is the true, the digitalization of your life. […] We lived on farms. And then we live in cities, and now we are going to live on the internet.” Pertimbangkan juga yang disampaikan pemeran Mark Zuckerberg tentang Facebook, “I’m talking about taking the entire social experience of college and putting it online.”[14]

Memahami komunikasi di era jaringan internet seperti ini, ditambah kenyataan tentang penggunaan internet yang tidak lagi sekedar instrumental melainkan lebih pada modus kehidupan, maka kita perlu memikirkan ulang model-model komunikasi yang ada. Hal ini demikian karena perkembangan di aras material akan berkorelasi positif apa pada pekembangan di aras ideasional. Melalui teknologi Web 2.0 dan UGC-nya, telah dimungkinkan sekaligus dilahirkan suatu bentuk komunikasi yang baru, yaitu komunikasi diri-massa (mass self-communication).[15] Jika sebelumnya telah dikenal komunikasi interpersonal, komunikasi publik dan komunikasi massa, maka kini kita menyaksikan muncul dan semakin maraknya komunikasi-diri massa. Komunikasi-diri massa masih merupakan varian komunikasi massa, hanya saja ia lebih maju dalam hal mengatasi keterbatasan yang diderita komunikasi massa konvensional: yaitu se-arah.

Jadi, komunikasi-diri massa memiliki elemen komunikasi massa, dalam hal ia berpotensi mencapai audiens yang jumlahnya tak terbatas, dimanapun itu dan kapanpun. Namun demikian, ia merupakan komunikasi-diri baik dalam proses perangkaian pesan, pengarahan, penyuntingan, dst., maupun dalam hal sifatnya yang merupakan sebentuk ekspresi diri. Melalui Facebook, misalnya, seseorang bisa memilih fotonya yang paling cool, memasang status yang njelimet, memajang info diri yang tampak “intelek,” dst. Tidak bisa dipungkiri, hari ini, komunikasi-diri massa berikut aparatus teknologinya telah berceceran dimana-mana.

Lalu bagaimana menjelaskan ini semua dalam kaitannya dengan kapitalisme? Untuk menjabarkan jawaban pertanyaan ini, saya mengajukan argumentasi bahwa pertama-tama komunikasi beserta aparatus teknologinya hadir untuk memfasilitasi kapitalisme, namun berikutnya ia berkembang menjadi sesuatu yang melekat sekaligus konstitutif bagi kapitalisme itu sendiri. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada mulanya adalah komunikasi kapitalis, namun akhirnya bermutasi menjadi kapitalisme komunikatif. Untuk kepentingan tulisan ini, saya akan menekankan pembahasan pada yang kedua.


Komunikasi Kapitalis dan Kapitalisme Komunikatif

Komunikasi kapitalis saya kira tidak begitu kompleks untuk dipahami. Ia terjadi saat komunikasi dipakai menjadi instrumen bagi akumulasi kapital. Diskusi pada umumnya terjadi pada perdebatan mengenai siapa siapa, yang disebut mogul, yang menguasai media: memiliki saham, mengoperasikannya, mengatur agenda, mengarahkan pemberitaan, dst. Pembahasan seperti ini banyak ditekankan oleh para teoritisi media kritis. Tujuan dari upaya intelektual mereka adalah memetakan kepentingan yang bermain di balik beroperasinya media-media. Salah satu temuan unik mereka adalah paradoks dalam proliferasi media: semakin banyak perusahaan-perusahaan media bermunculan, justru semakin terkonsentrasi kepemilikan media. (lihat Skema 1). Inilah paradoks dalam demokrasi media hari-hari ini.

Skema 1 Interkonektivitas korporasi media dan internet multinasional per Februari 2008.[16]

            Namun demikian, sekalipun tidak bisa dipungkiri lagi kontribusi studi semacam ini, mengungkapkan konstelasi media tidak serta merta memahami bagaimana komunikasi berperan tidak hanya secara instrumental, melainkan secara konstitutif bagi proses produki kapitalisme. Di sinilah kita masuk pada diskusi mengenai kapitalisme komunikatif, yaitu kapitalisme yang mendasarkan keberlangsungannya pada komunikasi.[17] Secara umum kapitalisme komunikatif dapat dilihat sebagai dua hal. Pertama, sebagai prakondisi material bagi berjalannya kapitalisme itu sendiri. Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa model produksi dan manajemen kerja pasca-Fordisme memerlukan kecepatan dan keakuratan transmisi informasi yang disediakan oleh aparatus komunikasi. Sehingga dengan maraknya produksi produk-produk komunikasi, maka dengan sendirinya berkorelasi positif bagi kapitalisme dalam hal akselerasi proses-proses produksi dan manajerial. Dengan BlackBerry misalnya, suatu koordinasi tim kerja bisa berlangsung secara real-time, transaksi email bisa dilakukan dalam sekejap, begitu pula untuk pertukaran media (gambar, dokumen, musik, dst.). Kemunculan BlackBerry tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks persaingan gadget yang mendahuluinya tentunya. BlackBerry, secara singular, hadir sebagai hasil inovasi yang menawarkan kebaruan sekaligus solusi bagi perkembangan gadget sebelumnya.

Kedua, sebagai prakondisi imaterial. Memahami hal ini menuntut kita untuk masuk ke hakikat dari komunikasi itu sendiri. Apabila komunikasi sebelumnya dipahami dalam konteks ‘pengirim-pesan-penerima’ (model linier), maka dengan hadirnya fenomena komunikasi-diri massa dan digitalisasi kehidupan, model tersebut menjadi tidak relevan. Kredo konektivitas abadi dari kedua fenomena ini membuat komunikasi tereduksi pada aspek performatifnya saja, sementara pesan itu sendiri menjadi tidak begitu relevan. Pesan, akhirnya hanya dihitung secara statistikal sebagai kontribusi dan partisipasi yang kosong semata pada konteks sirkulasi pesan yang lebih luas, yaitu jejaring informasi komunikasi itu sendiri;

“Its particular content is irrelevant. Who sent it is irrelevant. Who receives it is irrelevant. That it need be responded to is irrelevant. The only thing that is relevant is circulation, the addition to the pool. Any particular contribution remains secondary to the fact of circulation […] A contribution need not be understood; it need only be repeated, reproduced, forwarded.”[18]

Repetisi praktik komunikasi adalah yang dituju oleh model kondisional ini; komunikasi demi komunikasi demi komunikasi demi komunikasi… Inilah pergeseran paradigmatik yang terjadi saat komunikasi telah bersatu dengan kapitalisme—kapitalisme komunikatif.

Memahami pergeseran ini mensyaratkan kita untuk melihat bagaimana tepatnya model komunikasi kondisional ini mengkondisikan, sekaligus menjadi elemen dasar bagi produksi kapitalisme. Dengan memperformatifkan komunikasi dan mereduksinya kepada sekedar partisipasi, maka komunikasi membuka jalan bagi kapitalisme untuk mengkomodifikasi partisipasi. Setiap pesan yang masuk, yang dihitung sebagai partisipasi, akan direkam sedemikian rupa, dan akumulasi partisipasi ini menjadi sekelompok audiens yang berpotensi “dijual” sebagai target iklan. Mereka-mereka ini, dengan partisipasinya, ditransformasi menjadi suatu komoditas, atau yang disebut Dallas Smythe sebagai komoditas audiens.[19] Contoh sederhana dapat dilihat, lagi, melalui Facebook: esensi dari partisipasi kita tidaklah penting, apapun status kita, segagah apapun foto kita, serumit apapun deskripsi diri kita, dst., adalah tidak relevan; yang penting kita terdaftar sebagai pengguna Facebook dan terhitung dalam statistiknya, untuk kemudian statistik tersebut dijual kepada pengiklan. Alhasil, halaman Facebook kita tidak akan lepas dari iklan.[20] Selain komoditas audiens, maraknya berkumpul pengguna-pengguna, dalam bentuk avatarnya masing-masing tentunya, maka terciptalah ruang baru untuk transaksi kapitalis. Alhasil, lapak-lapak dunia maya bermunculan: online shop, butik online, bahkan sampai jasa kencan online dan jual-beli voucher game!

Apa artinya semua ini? Saya kira cukup jelas, dengan mengkondisikan pertukaran kapitalis itu sendiri, komunikasi menyediakan relasi sosial produksi yang baru bagi kapitalisme. Kembali sejenak ke diskusi tentang pekerja imaterial, dapat dilihat bahwa kerja-kerja komunikasi (web master, web desainer, konsultan web, penyedia jaringan inter/intranet, dst.) adalah produk dari kerja imaterial tersebut. Tidak hanya itu, bahkan melalui partisipasi kita, kita justru membangun, memperkuat dan melestarikan eksistensi jaringan sosial tersebut. Partisipasi harus dibaca sebagai upaya reproduksi sistemik; kontirbusi harus dilihat sebagai bentuk dari kerja imaterial. Sehingga saat pekerja imaterial ini berproduksi, maka ia sedang menciptakan peluang produksi baru bagi kapitalisme. Pekerja imaterial tidak hanya memproduksi barang komoditas, ia memproduksi sistem kapitalisme itu sendiri.


Implikasi

Sekarang saatnya mengkapitulasikan pemaparan di atas dan meraba implikasi yang mungkin dihasilkannya. Masih dalam koridor modus produksi dan manajemen pekerja. Dari lini produksi, dapat dicatat bahwa inkorporasi aparatus komunikasi dan jejaring informasi turut berkontribusi secara aktif dalam mentransformasi, secara kualitas, pekerja itu sendiri. Pekerja tidak lagi memproduksi hal-hal yang sifatnya material, melainkan imaterial—komunikatif, afektif, dst. Sedangkan melalui konsep komoditas audiens, dapat dilihat bahwa distingsi antara konsumen (pengguna) dan pekerja menjadi kabur. Saat saya, misalnya, berpartisipasi di Facebook, saya tidak hanya menjadi pengguna, melainkan saya menjadi komoditas—sebagai bagian dari data statistik untuk dijual ke pengiklan—sekaligus menjadi pekerja imaterial—dalam hal saya berkontribusi dalam melestarikan Facebook tersebut melalui partisipasi aktif saya sehingga jejaring sosial tersebut, yang memprakondisikan pertukaran kapitalis, yang notabene sebentuk kerja imaterial.

Kedua, masih dalam lini produksi, perubahan juga terjadi pada konsep alat/faktor produksi. Saat “memerankan” pekerja imaterial dalam kapitalisme komunikatif, maka kita hampir tidak membutuhkan alat produksi yang spesifik—mesin, dst., yang kita butuhkan hanyalah seperangkat bahasa, beberapa pixel foto, dan sedikit keulungan menggombal karangan deskripsi, plus sedikit ketelatenan untuk mengomentari status orang lain. Lalu siapa yang tidak memiliki “alat-alat produksi imaterial” ini? Tidak ada; semua orang memiliki, namun alat-alat produksi tersebut diapropriasi, disadari atau tidak, oleh kapitalisme untuk kepentingan reproduksi dirinya sendiri. Apa artinya? Dalam kapitalisme komunikatif, semua orang berpotensi menjadi pekerja imaterial, dan semenjak pekerja imaterial adalah pekerja yang alat produksinya telah selalu diapropriasi oleh kapitalisme, maka seluruh pekerja imaterial dalam kapitalisme komunikatif berpotensi menjadi proletariat dunia maya, cybertariat[21].

Dari lini manajemen pekerja, selain koordinasi yang berubah gaya dan operasionalnya, hal yang lebih dramatis berubah adalah konsep ‘pabrik’, atau situs produksi itu sendiri. Semenjak kerja bisa dilakukan di manapun dan kapan pun, maka fleksibilisasi terjadi pada konsepsi ruang kerja dan jam kerja. Apa artinya? Seluruh dunia dan waktu kehidupan berpotensi menjadi pabrik/situs produksi kapitalis itu sendiri. Teknologi informasi komunikasi jejaring memungkinkan itu semua terjadi: komunikasi real time, koordinasi instan, pengiriman order secara kilat, dst. Pabrik, kini bertransformasi menjadi pabrik sosial, yang mana ia bersinggungan dengan keseluruhan aspek kehidupan. Implikasi paling ekstrimnya adalah saat pabrik sosial terjejaring ini menjadi hegemonik, maka adalah hidup itu sendiri yang menjadi taruhannya: hidup akan tereduksi kepada kegiatan produksi kapitalis; hidup tidak lebih dari kerja, kerja, dan kerja. (HYP)


[1] Draft makalah, untuk disajikan pada workshop “Kapitalisme Global,” Center for Global Civil Society Studies (PACIVIS), Universitas Indonesia, Depok, 4 November 2011.

[2] Untuk pembahasan ekstensif mengenai ini silakan lihat tulisan Bramantya Basuki, Kilas Historis Kapitalisme: Perihal Transisi tayloris-Fordisme menuju Post-Fordisme, disajikan pada workshop “Kapitalisme Global,” Center for Global Civil Society Studies (PACIVIS), Universitas Indonesia, Depok, 25 Okt – 4 Nov 2011; Ash Amin, Post-Fordism: A Reader (London: Blackwell, 1994); Ben Trott, “Immaterial Labour and World Order: An Evaluation of A Thesis,” Ephemera, 7, 1 (2007).

[3] Dokumentasi ini dapat dilihat di Immanuel Ness & Dario Azzellini, Ours to Master and to Own: Worker’s Control from the Commune to the Present (Chicago: Haymarket Books, 2011); ilustrasi singkat lainnya, yang kali ini fokus pada tempat asal Fordisme, yaitu Amerika Serikat, lihat George Caffentzis, From Capitalist Crisis to Proletarian Slavery: An Introduction to Class Struggle in the US, 1973-1998, diakses dari http://libcom.org/library/capitalist-crisis-proletarian-slavery-introduction-class-struggle-us-1973-1998.

[4] Apa yang saya bahas di sini adalah gambaran umum saja. Tentu di setiap negara memiliki variasi transformasi yang berbeda-beda dengan keunikannya masing-masing. Namun demikian, fitur utama transisi tersebut secara umum sama. Untuk pembahasan lebih mendetil mengenai variasi ini, lihat Manuel Castells & Yuko Aoyama, “Path Towards the Informational Society: Employment Structure in G-7 Countries, 1920-90,” International Labour Review, 133, 1 (1994).

[5] Teknologi ini di sini sebaiknya dipahami dalam artinya yang luas, tidak hanya sekedar gadget atau robotika. Teknologi merupakan bentuk material hasil kristalisasi upaya sistematis manusia untuk menyelesaikan suatu problem spesifik dan riil yang ia jumpai di lapangan. Ia bisa berbentuk gadget atau robotika tadi, namun juga mekanisme, prosedur, skema konseptual organisasional, dst. Jika handphone adalah teknologi untuk mengatasi problem jarak komunikasi, maka skema multi-level marketing merupakan teknologi untuk mengatasi problem kekakuan waktu dan tempat kerja yang kontra-produktif bagi akumulasi modal.

[6] Marx membedakan tiga macam nilai: nilai guna, nilai tukar dan nilai lebih. Nilai guna adalah nilai yang dihasilkan suatu produk untuk kegunaan langsung. Nilai tukar  muncul saat produk tersebut dipertemukan dengan produk-produk lainnya. Sehingga dengan kata lain, nilai tukar adalah bergantung pada relasi sosial yang memungkinkan pertemuan antar-produk tersebut yang notabene telah terlebih dahulu ada mendahuluinya. Nilai lebih, kemudian, adalah selisih antara nilai tukar dengan nilai pakai; selisih inilah yang kemudian menjadi profit. Profit ini berikutnya direkapitalisasi dan diinvestasikan untuk mengintesifikasi produksi. Problemnya, hanya pemilik modal yang mampu mempekerjakan orang (yi. proletar) untuk memproduksi nilai lebih (profit) baginya. Untuk nilai lainnya, perkembangan dari ketiga konsep ini, yaitu nilai simbolik (symbolic value), silakan lihat Jean Baudrillard, For A Critique of the Political Economy of Sign, terj. C. Levin (Telos Press, 1981).

[7] Maurizio Lazzarato, “Immaterial Labor,” terj., P. Colilli & E. Emery, dalam M. Hardt & P. Virno, peny., Radical Thoughts in Italy: A Potential Politics (Minnesota:University of Minnesota Press, 1996).

[8] Untuk perubahan struktur organisasi perusahaan, lihay Manuel Castells, The Rise of the Network Society (The Information Age, vol I), edisi kedua (Oxford: Blackwell, 2010), hal. 176.

[9] Kritik standar bagi uraian ini adalah bahwa bentuk produksi dan manajemen kerja seperti ini masih sedikit dibanding bentuk yang lebih konvensional. Belum lagi kritik bahwa hal tersebut hanya terjadi di negara-negara “industri maju” saja. Tidak ada yang salah dengan ini semua, namun satu hal yang perlu saya tekankan adalah bahwa kuantitas tidak selamanya menentukan. Bahkan, pergeseran ini akan lebih baik dipahami sebagai sesuatu yang bersifat kualitatif. Sehingga yang perlu dijelaskan justru pada perubahan yang mumpung masih sedikit ini: mengapa ia bisa muncul? Bagaimana ia dimungkinkan terjadi? Dst. Lagipula hal ini juga pernah terjadi pada abad 19 dan 20 saat kerja industri yang tadinya minoritas perlahan-lahan mengambil alih kerja agraris. Adalah pergeseran paradigmatik ini yang perlu dijelaskan, dan bukan semata-mata demonstrasi statistikal kuantitatif. Secara metodologis, pendekatan yang saya pakai adalah apa yang disebut ‘tendensi historis’. Lih. Michael Hardt & Antonio Negri, Multitude: War and Democracy in the Age of Empire (London: Penguin, 2004), hal. 140-53; lihat juga tulisan Bramantya Basuki, Kilas Historis Kapitalisme.

[10] Dokumentasinya bisa dilihat di Castells, Network Society, bab 1.

[11] Disadur dari Manuel Castells, Communication Power (Oxford: Oxford Uni Press, 2009), hal. 61-3, Alexander R. Galloway, Protocol: How Control Exist after Decentralization (Cambridge, Mass: MIT Press, 2004), dan, sekaligus untuk uraian historis yang ekstensif, Lelia Green, Internet: An Introduction to New Media (Oxford, NY: Berg, 2010), bab 2.

[12] Castells, Communication Power, hal. 64.

[13] Ibid., hal. 69.

[14] Contoh lainnya adalah kencan online, permainan multiplayer online, dst.

[15] Disebut pertama kali oleh Manuel Castells, Communication  Power, hal. 55.

[16] Dari Amelia Arsenault & Manuel Castells, “The Structure and Dynamics of Global Multi-Media Business Networks,” International Journal of Communication, 2 (2008).

[17] Diutarakan pertama kali oleh Paul Passavant, sekalipun dipakai, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Jodi Dean. Lihat Jodi Dean, “The Networked Empire: Communicative Capitalism and the Hope for Politics,” dalam P.A. Passavant & J. Dean, peny., Empire’s New Clothes: Reading Hardt & Negri (NY, London: Routledge, 2004) dan Jodi Dean, “Communicative Capitalism: Circulation and the Foreclosure of Politics,” Cultural Politics, 1, 1 (2005)

[18] Dean, “Communicative Capitalism,” hal. 58-9.

[19] Tandas Smythe lebih jauh, “readers and audience members of advertising-supported mass media are a commodity produced and sold to advertisers because they perform a valuable service for the advertisers.Dallas Smythe, Dependency Road: Communications, Capitalism, Consciousness, and Canada (Norwood: Ablex, 1981), hal. 8. Penekanan dari naskah asli.

[20] Sampai tulisan ini ditulis, iklan tersebut ada di sebelah kanan frame laman Facebook.

[21] Konsep ini dikemukakan oleh Ursula Huws, The Making of Cybertariat: Virtual Work in a Real-World (NY: Monthly Review Press, 2003)