Tag Archives: psikoanalisis

Atur-Atur Blog dan Tulisan … dan inspirasi J.Co

Standard

Beberapa orang dan kawan sudah sering menanyakan mengapa kedua blog saya (Postfordist Highway dan Klinamenal) sudah jarang terbarui. Alasannya sebenarnya sederhana, tulisan-tulisan saya belakangan dimigrasikan ke laman Academia.edu saya. Soalnya selain situs itu adalah portal komunitas akademisi–yang mana tulisan saya terkategorikan demikian, alasan lainnya ya karena tulisan-tulisan saya belakangan memang genre-nya akademis (bahkan cenderung spesialis).

Oleh karena itu bagi saudara-saudari tuan-puan bung-nona yang semisal mencari tulisan yang agak berbahasa sok formal dengan bercatatan-kakikan komplit, ya bisa menyambangi laman Academia saya itu. Soalnya kedua blog Postfordist Highway dan Klinamenal akan saya alih-fungsikan untuk menjadi semacam thought diary alias buku harian pikiran tempat saya menuliskan hal-hal yang kepikiran di kepala saya secara sekelebat, entah saat nyetir, saat boker, atau saat misal “entah aku kepikiran ini saat ngeliat kamu lagi salto,” atau saat otak saya terkondisikan untuk mikir lebih berat–biasanya kalau lagi terjebak di situasi yang juanc*k alias dafuq alias merde de putain banget lah.

 

write

Karena keduanya menjadi thought diary, maka keduanya akan berisikan fragmen-fragmen, catatan-catatan, reaksi spontan, kritisisme (untuk memperhalus makian berbalutkan sok pilosopis), komentar-komentar akan peristiwa, bacaan, nukilan, benda, tulisan, artikel, berita, orang, hewan, tumbuhan, gadget, myuzeek, tren, dst. dsb. Intinya, semuanya akan serba spontan dan reaksioner (dan bukan responsif). Implikasinya, ya kemungkinan akan ada kontradiksi satu sama lain; dan bisa saja saya mencaci habis postingan-postingan saya yang terdahulu itu (“aku makan apa ya kok bisa secongek itu dengan nulis post ini…”).

Sebenernya ini juga saya terinspirasi dari J.Co. Di salah satu edisi tisunya bertuliskan kurang lebih “ide itu sangat cepat; tisu ini kami sediakan supaya anda bisa menangkapnya selagi ia ada.” Nah kayaknya gue banget tuh. Sementara kalau pakai buku catatan, udah abis belasan dan sebagian besar entah di mana. Pake Evernote juga jadi tenggelam dalam samudera tag-tag,  belum lagi kecampur sama daftar belanjaan di pasar/toko kelontong, daftar torrent yang harus didonlot, oret-oret surat cinta (*toast*), to-do list, catatan rapat-rapat gak penting, dst. Blogging akhirnya menjadi solusi efektif dan tak lupa, kekinian! (Walau sudah agak so last decade sih).

216247_10151632534930520_1496248641_n

Pembagian konten kedua blog masih tetep. Postfordist Highway akan tetap membahas kejar-kejaran saya dengan logika dari kapitalisme pasca-fordis global dan dengan mutasi logika kedaulatan Westphalia di ekologi macam-macam mutasi liberalisme (liberalisme sosdem, neoliberal, neoliberal-monarki, neoliberal-komunis, demokrasi-neolib, dst.) yang keduanya hari ini, menurut saya ya, sudah sampai di era yang dengan agak ribet saya sebut Finansialisme Geopolitik Moneter. Trus Klinamenal juga tetep membahas ocehan ngawang saya seputar filsapat dan refleksi genit saya seputar tatanan sosial yang berisi makhluk-makhluk tak sadar berhasrat sok sadar, atau bahasa kerennya nomos desideratum (nomos: order; desideratum: desire; ya pokoknya gitu lah intinya) …dengan psikoanalisis Lacanian tentunya (yang masih belum saya bisa krtisi, dan tinggalkan). Kedua blog ini juga secara bersamaan akan menjadi diary saya untuk menyelesaikan buku ambisius saya yang entah kapan kelarnya yang berjudul: Being and Finance.

Selamat membaca!

write

ps: saya menulis post ini dalam modus psikotik paling maksimum; soalnya saya begitu yakinnya ada yang: 1) baca blog-blog saja; dan 2) ada yang baca tulisan ini; 3) LOL.

Advertisements

Pembelajaran Dalam dan Melampaui Paradigma Pengkhotbah

Standard

Pembelajaran Dalam dan Melampaui Paradigma Pengkhotbah

 Hizkia Yosie Polimpung

Ulasan artikel:

Charalambos Vrasidas, “Constructivism versus Objectivism: Implications for Interaction, Course Design, and Evaluation in Distance Education,” International Journal of Educational Telecommunication, 6, 4 (2000).

Perdebatan teoritik, bahkan filosofis, mengenai obyektivisme dan subtektivisme seputar agen melawan struktur, nampaknya masih belum akan berakhir. Berbagai proposal untuk membela satu dan melawan yang lainnya makin bermunculan. Tidak sedikit pula yang berusaha menawarkan jalan untuk keluar dari kebuntuan perdebatan di antara keduanya, dengan menawarkan semacam “jalan tengah” antara keduanya. Namun demikian, sering perdebatan ini tidak dilakukan dengan saling meng-address problem yang dikemukan masing-masing. Sehingga basis evaluasi teoritik/filosofis satu sama lainnya menjadi absen. Akhirnya, perdebatan yang ada hanya menjadi debat kusir yang berlarut-larut. Kepada mereka yang mencoba menawarkan jalan tengah pun sering kali telah keliru sedari memposisikan problem yang fundamental yang menjadi titik perdebatan kedua kubu. Akhirnya, jalan tengah itu sendiri, bukan hanya menjadi kabur dan tidak jelas, melainkan menjadi salah sasaran, dan bukannya menyelesaikan permasalahan perdebatan, ia malah menjadi posisi sendiri yang juga turut mengambil posisi dalam perdebatan tersebut.

Hal inilah yang akan saya tunjukan melalui ulasan terhadap artikel Charalambos Vrasidas ini. Dalam percabangan perdebatan obyektivis-subyektivis di atas, nampaknya Vrasidas memposisikan dirinya—disadari atau tidak—dalam posisi ketiga, yaitu posisi yang mencoba mencari jalan tengah antara obyektivis dan subyektivis—atau yang dalam tulisannya disebut konstruktivis. Hal ini terlihat dari penekanannya untuk tidak membuang salah satu sembari mengagung-agungkan lainnya, dan dari keyakinannya bahwa “it always depends on the context, content, resources, and learners” (14). Keyakinan bahwa segala sesuatunya “tergantung pada konteks” ini, sayangnya, tidak mampu dijelaskan secara mendetil, sehingga pertanyaan sederhana akan segera masuk dan membuat argumentasinya menjadi tidak relevan dari segi praksis: “apa pertanda dan kriteria momen dimana saya harus menjadi obyektif, atau konstruktivis?” Solusi “tergantung konteks” Vrasidas ini, dari perspektif filosofis, nampaknya berusaha menghindari perdebatan ontologis tentang determinasi being itu sendiri. Implikasinya, solusinya menjadi tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara filosofis, yang ironisnya, adalah justru pendasaran filosofis ini yang ingin dibahasnya dalam tulisan.

Vrasidas membahas problem filosofis ini dalam rangka memberika pendasaran filosofis bagi problem yang dijumpainya dalam proses pembelajaran jarak jauh (distance learning), yaitu problem efektivitas pembelajaran, terutama dalam konteks pembelajaran jarak jauh. Secara umum, ia menunjukkan terdapat dua pengkutuban dala pembahasan mengenai proses pebelajaran ini, yang pertama obyektivis, yang olehnya seluruh pendidikan diarahkan pada perubahan prilaku dan struktur kognisi melalui instrumen-instrumen pendidikan yang obyektif: sedari pengidentifikasi tujuan, pemilihan model pembelajaran, pengorganisasian proses pembelajaran, sampai evaluasi terhadapnya (3). Seluruh proses di atas disusun berdasarkan standar-standar tertentu yang (diharapkan) mampu mengarahkan prilaku peserta belajar. Implisit dalam asumsi obyektivis adalah bahwa prilaku manusia memiliki pola obyektif yang apabila dipelajari dengan baik, ia dapat dibuatkan suatu model. Model pembelajaran obyektivis inilah yang (dikira) mampu mirroring realita ‘pola obyektif prilaku’ ini, yang karenanya bisa memodifikasi prilaku sedemikan rupa untuk mengarahkan ya pada proses pembelajaran.

Konstruktivis, sebaliknya, berangkat dari asumsi tentang realitas yang berbeda. Jika bagi obyektivis realita (dalam hal ini, prilaku) diyakini memiliki pola universal, maka subyektivis memandang bahwa tidak ada pola universal atas realita. Deskripsi mengenai pola realitas, dengan demikian, adalah hasil konstruksi kreatif subyek atas realita tersebut. Sehingga, dengan penekanan bergeser kepada bagaimana subyek mengkonstruksi realitas, dan semenjak subyek mengkonstruksi realitanya berbeda-beda, maka akan ada banyak versi mengenai realitas. Tidak ada penjelasan tunggal dan absolut mengenai realitas. Demikianlah konstruktivis memandang prilaku belajar: ia tidak memiliki pola tertentu yang atasnya bisa diciptakan model yang baku. Hal ini berdampak pada imaji konstruktivis mengenai desain pembelajaran, yang diarahkan untuk, sebagaimana yang dikutip Vrasidas dari Cobb, “both process of active individual construction and a process of enculturation” (7). Mendorong peserta belajar untuk aktif menginterpretasikan realita, atau dalam bahasa Vrasidas, “[to] provide for opprtunities for learners to develop the skills necessary to further explore a given domain” (9).

Terhadap percabangan pendekatan inilah Vrasidas mengusulkan solusi “tergantung konteks”-nya, walaupun ia nampaknya agak condong ke konstruktivis (bdk. 13)—namun tetap saja, pilihan ini tidak memiliki pendasaran filosofis. Berikutnya saya akan mencoba menunjukkan problem “tergantung konteks” ini secara spesifik, yaitu dalam problem efektivitas pembelajaran.

Pradigma pengkhotbah

Terlihat jelas dalam pembahasan Vrasidas bahwa ada satu tema besar yang tidak disentuh, dengan demikian diterima begitu saja (taken for granted), baik oleh perdebatan yang disajikannya, oleh posisinya sendiri, dan juga oleh usulan “tergantung konteks”-nya. Tema besar itu adalah bahwa proses pembelajaran diasumsikan sama dengan, sebagaimana kesan kuat yang saya tangkap dari tulisan tersebut, proses transfer pengetahuan. Dengan pengasumsian demikian, oleh kaum obyektivis, seolah-olah diposisikan para peserta belajar sebagai yang-tidak-punya-pengetahuan, sementara para guru sebagai yang-punya-pengetahuan. Demikian pula oleh konstruktivis, seolah-olah para peserta belajar adalah yang tidak mampu mengkonstruksi realitanya sendiri tanpa diarahkan dan difasilitasi oleh para guru, yang pada gilirannya, diasumsikan mampu mengkonstruksikan realitanya, sehingga punya hak dan otoritas untuk membantu mengarahkan para peserta belajarnya. Paradigma pendidikan seperti ini akan saya sebut sebagai paradigma pengkhotbah, yang di dalamnya, para guru tidak lebih dari sekedar pengkhotbah-pengkhotbah yang mengkhotbahkan “pengetahuan” (atau dogma) kepada sekumpulan umat yang tidak memiliki pengetahuan dan yang tidak mampu mengkonstruksi pengetahuan.

Paradigma pengkhotbah ini yang menurut saya telah keliru dalam memahami motivasi mendasar subyek belajar terhadap pengetahuan. Relasi ‘subyek – pengetahuan’ diasumsikan absolut, diasumsikan bahwa semua peserta didik menginginkan pengetahuan tersebut. Implikasinya, paradigma ini akhinya akan gagal menjelaskan fenomena-fenomena dimana secanggih apapun metode pembelajarannya, sampai hari ini, ‘toh tetap saja banyak peserta ajar yang malas belajar, sering bolos, sering gagal menerima ‘transfer pengetahuan’ dengan baik. Akhirnya, dinisbatkanlah predikat-predikat patologis untuk peserta ajar demikian: ‘kognisi lemah’, ‘anak bermasalah’, atau bahkan ‘anak nakal’, ‘tidak diajari orang tua’, dst. Horizon paradigma pengkhotbah akan membuat para guru yang menganutnya untuk terus mengemban tugas suci mulianya untuk berkhotbah, dan bagi yang tidak menurut khotbahnya: dihukum. Sebaliknya, paradigma ini tidak hanya bisa diidap para guru, melainkan juga para peserta ajar. Peserta ajar yang terjerat paradigma pengkhotbah ini akan menganggap bahwa ia akan selalu membutuhkan tuntunan, bimbingan, arahan, dan supervisi para guru/pengkhotbahnya untuk menjadi “berpengeahuan.” Sehingga problem kedua bagi paradigma ini, bagi saya, adalah bahwa otonomi pembelajaran sama sekali tidak mendapatkan tempat. Akibatnya, relasi kesetaraan tidak pernah ada dalam desain-desain pembelajaran.

Mencoba memberikan tawaran untuk memecahkan deadlock filosofis yang diderita Vrasiadis—ketidak-mampuannya untuk mempertanggung-jawabkan “tergantung konteks”-nya—dan problem paradigma pengkhotbahnya, saya mengusulkan untuk memasukkan otonomi dalam pembelajaran. Otonomi yang dimaksud bukan hanya di taraf pengkonstruksi pengetahuan (seperti yang paling jauh dapat dibayangkan para konstruktivis), melainkan otonomi dalam menentukan kondisi-kondisi yang membuat dia belajar atau tidak. Di sini, psikoanalisis Jacques Lacan kiranya berguna untuk disimak,

If there is one thing that psychoanalysis should force us to maintain obstinately, it’s that the desire for knowledge bears no relation to knowledgethe desire to know is not what leads to knowledge. What leads to knowledge is—allow me to justify this in the more or less long term—the hysteric’s discourse.[1]

 

Psikoanalisis Lacan mampu mengkoreksi cara pandang kita tentang relasi ‘subyek – pengetahuan’, yang ternyata, sama sekali tidak berkaitan dengan pengetahuan. Subyek, dalam belajar, memiliki motivasi-motivasi yang diluar dari keterpelajaran itu sendiri. Contoh dalam hari-hari ini, subyek belajar supaya, misalnya: mendapat gelar untuk bekerja, dipandang intelek, untuk memikat tambatan hati, untuk menyenangkan orang tua, untuk memenuhi tugas suci agama, untuk berbakti pada nusa dan bangsa, dst. Semua motivasi ini sama sekali diluar dari logika pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan-demi-pengetahuan (artes liberal). Pengetahuan, bagi subyek, selalu untuk sesuatu yang lain selain pengetahuan itu sendiri. Di sinilah para guru (baca: pengkhotbah) perlu memahami logika belajar yang dipakai subyek dalam belajar.

Lacan menunjukkan, bahwa yang membawa peserta ajar kepada pengetahuan, bukan rupa-rupa desain pembelajaran yang dibahas Vrasidas per se, melainkan pada hasrat yang memantiknya, atau yang disebut Lacan sebagai hasrat subyek histeris. Subyek histeris, singkatnya, merupakan subyek yang berada dalam tarik-menarik ketegangan antara realita yang dihadapinya, dengan idiologi yang diyakininya (dalam bahasa Lacan, super-ego, atau Master, atau Big Other). Saat dikonfrontasi dengan realitas ini, sang subyek akan menjadi histeris, ia akan mulai mempertanyakan keyakinan idiologisnya. Ia akan terpantik untuk mejelaskan realitas yang mengkonfrontasi kenyamanan eksistensialnya tersebut, atau dengan kata lain, ia akan terpicu untuk mencari pengetahuan yang mampu menjelaskan semua realitas tersebut. Di sini, pengetahuan merupakan, bahasa Frederic Jameson menginterpretasi Lacan, vanishing mediator untuk sampai kepada kenyamanan eksistensial. Kenyaman eksistensial ini didapat saat sang subyek merasa “everything is in control,” segala sesuatunya terjelaskan, segala sesuatunya tidak ambigu. Konsekuensinya, subyek akan merasa stabil dengan pengetahuan ini. Atau setidaknya, jika problem dari realitas itu belum mampu diselesaikannya, sang subyek tahu harus melakukan apa atau menyasar siapa untuk menyelesaikan problem realitas tersebut.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh para guru? Berangkat dari pandangan Lacanian ini, maka tugas utama seorang guru adalah bukan ditingkatan internal sang individu—proses histerianya dan prosesnya mencari pengetahuan untuk menenangkan histeria, melainkan ditingkatan realitas. Guru Lacanian, adalah guru yang mampu menunjukkan suatu horor ketegangan dari realita yang nampaknya normal-normal saja, lantas menyajikannya ke hadapan sang subyek belajar. Dengan menyajikan realitas yang lebih real dari realitas yang nampak normal-normal saja tadi, maka guru Lacanian melakukan suatu proses “pembelajaran”—jika kata ini masih bisa dipertahankan—melalui intervensi terhadap kondisi pembelajaran, dan sekali lagi, bukan di sisi subyek ajar. Dengan menunjukkan problem-problem realitas inilah guru Lacanian keluar dari jebakan mesianik paradigma pengkhotbah. Otonomi subyek ajar dalam menginterpretasikan problem realitas tetap terjaga, begitu pula proses pembelajarannya dalam menyelesaikan problem tersebut. Guru Lacanian, dalam proses belajar ini, menyajikan problem kepada para peserta ajar, yang dalam proses pembelajarannya, bersama-sama dicoba untuk dipecahkan dan dicarikan solusinya. [HYP]


[1] Jacques Lacan, The Seminar of Jacques Lacan: The Other Side of Psychoanalysis, Book XVII, terj. R. Grigg (London, NY: W. W. Norton & Company, 2007), hal. 23. Cetak tebal dan cetak miring merupakan penekanan saya.

“Get a life!” Tentang Bioekonomi dan Sensasi Keseharian

Standard

“Get a life!”
Tentang Bioekonomi dan Sensasi Keseharian[1]

Hizkia Yosie Polimpung[2]

 

Mungkin tidaklah terlalu berlebihan apabila dikatakan bahwa salah satu cara untuk bisa hidup bahagia hari-hari ini terangkum dengan baik oleh slogan sepatu Nike: “Just do it!” Bagaimana tidak, jika kita mencoba berpikir dan bertanya, apalagi secara kritis, akan apa yang kita jalani sehari-hari secara “normal,” maka akan segera didapati bahwa semuanya tidaklah selugu yang kita kira.

Mari kita coba. Contoh acak. Jika kita ke konter sepatu Nike tadi dan membeli sepasang sepatunya, maka akan muncul harga yang tertera di atas sepatu tersebut. Biasanya kita akan segera mencocokkan harga tersebut dengan ketersediaan uang kita: jika cukup maka kita beli, jika tidak maka kita akan pura-pura bilang “nggak ada yang warna oranye, mbak?”—padahal kita tahu tidak ada warna tersebut. Selesai. Namun, jika kita mencoba berpikir secara kritis sedikit saja, kita akan bertanya bagaimana mungkin sepatu dengan ukuran dan warna yang sama tetapi beda harganya bisa sampai melebihi 300% (misalkan, bandingkan dengan merek lokal)? Oh mungkin kualitasnya. Lalu kita bertanya lagi, apa faktornya? Pola produksinya kah? Keterampilan pembuatnya kah? Kecanggihan mesinnya kah? Ya! Semuanya. Bagaimana kita tahu? Merek!

…dan keusilan berpikir dimulai: jika kualitas suatu barang diwakilkan oleh mereknya, maka bukankah hal ini berarti bahwa kita “diizinkan” untuk tidak perlu mengetahui proses pembuatan suatu barang, dan mempercayakan begitu saja pada merek tersebut? Bukankah sangat mungkin, jika misalnya saya, sebagai pemilik merek, tahu bahwa anda telah sebegitu percayanya pada merek saya, lalu saya “memodifikasi” pola produksi yang saya lakukan (misalnya, mempekerjakan ibu-ibu hamil, atau anak-anak miskin di bawah umur, mempekerjakan buruh melampaui jam kerja wajar, dst.) tanpa mengubah kualitas produk? Anda, sebagai pembeli, tidak perlu tahu; biar saya yang mengurus itu semua. Anda: “enjoy aja!”[3]

Contoh lain. Juga secara acak. Jika hati kita tergerak saat melihat orang-orang miskin dan anak terlantar, lalu ditawari oleh suatu organisasi kedermaan untuk menyumbang, maka pada umumnya (jika ada uang berlebih) kita akan menyumbang, dan merasa lega setelahnya serasa baru saja mengentaskan orang miskin dan anak terlantar tersebut dari kemiskinan. Tapi, lagi, jika kita mencoba bertanya secara kritis, kita mungkin akan bertanya, dari mana saya tahu uang yang saya beri barusan telah disampaikan kepada orang miskin tersebut? Kita tidak tahu; kita hanya percaya saja pada organisasi tersebut. Lalu bagaimana mungkin kita bisa merasa lega padahal belum tahu pasti uang tersebut telah sampai kepada si miskin dan terlantar tadi?

Contoh lain terakhir. Kita membaca ramalan astrologi sesuai zodiak kita. Saya Leo. Kata ramalan,

“Kemampuan mereka adalah menjadi sangat atraktif dan banyak yang menyukai mereka. Mereka terkenal sangat menyayangi, sopan, baik, murah hati dan memperhatikan mereka yang kesusahan dengan berdiam diri malah akan menyebabkan karakteristik pemilik zodiak ini merasa tidak nyaman dalam hidupnya. Mereka biasanya dengan cepat belajar menggunakan sifat atraktifnya untuk memenuhi kebutuhannya.”

“Wah, gue banget!” … Oh, sial, saya salah membaca, ternyata itu milik Gemini. Untuk Leo …

“Mereka penuh percaya diri dan terus terang dalam menyatakan apa yang mereka rasakan, namun terkadang mereka mudah sekali marah. Mereka memiliki keberanian dan tidak pernah berbuat curang. Leo mempunyai pembawaan diri yang mengagumkan sehingga menarik perhatian banyak orang. Orang leo sangat terbuka, sulit bagi mereka menyembunyikan perasaan dan diri mereka sendiri. Mereka pandai beradaptasi dan perhatian pada segala hal.”

Hmm…benar juga. Ini juga seperti saya.

Kita bisa melakukan hal ini misalkan dengan berkonsultasi ke Mario Teguh, lalu pergi ke Tarot di taman Ismail Marzuki, atau meng-SMS Mak Bongki dst. Tapi pertanyaan kritisnya, mengapa semua deskripsi dan sugesti diatas tampak “gue banget”? Lainnya: mengapa kita bisa membedakan nyamuk demam berdarah dan nyamuk biasa hanya dengan sekali melihat, sementara tidak pada contoh di atas? Mengapa kita bisa mengerti dengan baik siapa itu Hitler, siapa itu Soekarno, siapa itu Johnny Depp, siapa selingkuhan artis ini itu, tetapi kita tidak begitu yakin siapa diri kita?

***

            Sampai di sini, saya kira, jika saya tidak meleset, maka setidaknya sudah cukup disadari bahwa apa yang kita lakukan sehari-hari tidaklah selugu yang kita kira. Lalu apa masalahnya? Bagi saya, sekaligus yang ingin saya elaborasi, adalah selugu pertanyaan mengapa kita bisa tampak “baik-baik saja” padahal kita tidak benar-benar tahu apa yang kita lakukan, bahkan, siapa kita dan apa yang kita mau dalam hidup ini? Bagi beberapa orang, ini pertanyaan yang sangat filosofis. Yang lain akan menarik implikasinya ke hal-hal relijius dan mistik. Walaupun akan ada juga yang berkata “buset dah, nganggur amat gue mikirin begituan!” Apapun itu, yang ingin saya coba lakukan di sini adalah menarik implikasi dari ketiga contoh di atas dengan krisis global yang terjadi hari ini, yaitu krisis kapitalisme dan neoliberalisme.

Hidup …

Dari ketiga contoh di atas, setidaknya bisa dikira-kira apa itu hidup, dan bagaimana hidup dalam kapitalisme hari ini. (Namun tentu saja dengan asumsi bahwa hari ini kita sedang hidup dalam kapitalisme).[4] Dari contoh yang paling terakhir, maka didapati kesimpulan bahwa sebenarnya hidup manusia (dan bukan hidup nyamuk aedes aegypti) begitu modular, dalam artian bisa dibentuk berdasarkan suatu sugesti—bisa merupakan imposisi eksternal, bisa juga berupa hasil internalisasi sendiri. Mengapa demikian? Sederhana saja. Banyak manusia yang kurang begitu tahu, dan ingin tahu bagaimana sebaiknya hidup mereka ditata. Inilah yang menyebabkan, di antaranya, menjamurnya buku-buku swa-bantu, motivator-motivator yang laris manis, pelatihan-pelatihan spiritual, dst. Lagi; mengapa? Saya kira cukuplah di jawab dengan jawaban Neo dalam film Matrix, “[b]ecause I don’t like the idea that I’m not in control of my life.”

Saya tidak ingin membahas ini lebih lanjut karena pertama, memang bukan topik ini yang ingin dibahas melalui tulisan singkat ini; kedua, hal tersebut perlu pembahasan panjang. Sedikit clue, secara psikoanalitis, manusia pada umumnya telah selalu “terkutuk” untuk mengidentifikasi diri dengan sugesti-sugesti eksternal karena hanya itulah yang bisa dilakukan untuk mengkompensasi perasaan berkekurangannya (lack), atau yang disebut psikoanalisis sebagai hasrat. Perasaan berkekurangan ini telah selalu dan akan terus menghantuinya selama ia hidup. Dengan mengkompensasi, bukan berarti perasaan itu hilang; ia hanya tertunda untuk kemudian muncul lagi saat sugesti tadi mulai tampak tidak relevan. Jadi, benar tidaknya suatu sugesti tidak berasal dari kebenaran intrinsik sugesti tersebut, melainkan dari bagaimana ia mampu membuat orang yang disugestikan berkata “this is it” atau “ini gue banget!”; dari bagaimana ia menawarkan suatu sensasi “I am in control of my life.”

 

… dalam Kapitalisme:

Lalu melalui contoh pertama dan kedua saya kira dapat kita pahami natur dari suatu komoditas: ia merupakan suatu kristalisasi proses-proses produksi. Proses produksi komoditas tersebut, pada gilirannya, dikomodifikasi lagi menjadi suatu merek. Jadi, dalam suatu komoditas bermerek, maka terdapat dua proses komodifikasi: di tingkat produk tersebut, dan di tingkat abstraksi dan stereotipisasi dari proses produksi produk tersebut. Apa yang hilang dari drama komodifikasi ganda ini? Tidak lain: buruh. Adalah buruh yang tidak terepresentasikan dalam sistem komoditas ini (sekalipun sesekali ia dimunculkan di iklan sambil menungging senyum seolah-olah bahagia saat dipekerjakan).

Hal lain yang dapat dipetik dari contoh tadi adalah terkait apa yang ditawarkan oleh suatu komoditas. Kebutuhan? Bisa jadi. Tapi saya kira lebih dari itu. Mengapa, misalnya, kita lebih memilih Nike ketimbang produk lokal saat kita memiliki uang cukup, padahal kita tidak benar-benar tahu kualitasnya dan hanya mempercayakan saja pada merek sebagai jaminan kualitas? Saya kira jelas; bukan sepatu Nike-nya yang penting, melainkan sensasi yang ditimbulkan saat kita menggunakannya lah yang penting, yaitu sensasi menggunakan barang berkualitas. Dengan kata lain, kita tidak sedang percaya pada kualitas barang tersebut, melainkan kita percaya pada ide tentang kualitas barang tersebut yang tercitrakan pada merek.

Sensasional!

Dari tadi saya menekankan kata ‘percaya’ dan ‘mempercayakan’ saat membahas mekanisme beroperasinya pertukaran dalam kapitalisme. Hal ini penting, karena kapitalisme hari ini nampaknya semakin mengkonfirmasi kecurigaan Walter Benjamin hampir seabad silam, yaitu bahwa ia memiliki struktur menyerupai agama. Kita tidak perlu bertanya secara kritis tentang doktrin agama itu; percaya saja![5] Sekali lagi saya hendak tidak bertanggung-jawab di sini dengan tidak ingin membahas ini lebih lanjut. Karena hal yang lebih mendesak saya kira adalah pada implikasinya: yaitu bahwa dengan ‘percaya saja!’, bukan kepastian hidup yang dicari manusia, melainkan sensasi tentang kepastian hidup, dan hari-hari ini sensasi ini marak dikomodifikasi dalam kapitalisme, dan laris!

Roland Barthes pernah berkata, “what the public wants is the image of passion, not passion itself.”[6] Senada dengan Barthes, dengan larisnya komoditas-komoditas yang berbasiskan sensasi, nampaknya jelas bahwa hari-hari ini yang dicari oleh orang adalah sensasi (atau imaji/bayangan dalam bahasa Barthes). Dengan mengasuransikan diri, kita mendapat sensasi kepastian hidup. Dengan lelah-lelah mengantri Indonesian Idol, kita berharap mencicipi sensasi selebritas. Dengan sabun Lux, sensasi kecantikan. Dengan menginap di Hotel Mulia, sensasi hidup berkelas. Dengan memotong rambut mohawk, sensasi berpenampilan seperti David Beckham. Dengan merokok Wismilak, sensasi orang sukses. Dst. Bukankah rupa-rupa iklan yang kita saksikan hari ini berupaya mengkampanyekan tipe-tipe sensasi seperti apa yang mereka tawarkan melalui produknya? Imaji-imaji keceriaan, kejantanan, kecantikan, keibuan, keberanian, kecerdasan, ke-up-to-date-an, ke-mobile-an, bahkan, ke-cool!-an: bukankah ini semua yang kita jumpai di iklan-iklan yang semakin merangsek ruang publik kita hari-hari ini?

Dengan menjual komoditas seperti ini, saya kira tidaklah berlebihan untuk menyebut kapitalisme hari ini sebagai ‘kapitalisme sensasional’, kapitalisme yang bertumpu pada komodifikasi sensasi dan merepresentasikannya pada komoditas yang diproduksinya. Sensasi-sensasi ini yang pada gilirannya hendak dipergunakan manusia untuk melengkapi hidupnya. Sensasi dengan demikian dapat dilihat sebagai pelengkap kehidupan, sebagai asesoris dan pernak-pernik kehidupan. Hidup menjadi akan datar apabila ia tidak sensasional. Rupa-rupa sensasionaltias inilah yang ditawarkan kapitalisme. Sehingga secara tidak langsung, melalui sensasi, kapitalisme berupaya mendesain bentuk-bentuk kehidupan. Ekonomi akhirnya tidak hanya berkaitan dengan konsumsi untuk kebutuhan semata, melainkan ia adalah kehidupan itu sendiri. Inilah fenomena khas kapitalisme kontemporer yang disebut-sebut sebagai ‘bioekonomi’, suatu ekonomi yang menjadikan hidup sebagai sumber maupun sasaran komodifikasi dari suatu komoditas.[7] Kapitalisme sensasional dengan demikian adalah manifestasi bioekonomi par excellence.

Sampai di sini saya kira setidaknya kita telah sedikit banyak memahami gambaran bagaimana bioekonomi kapitalisme bekerja di level mikro: mereplikasi diri terus-menerus, dalam rupa-rupa komoditas yang menawarkan sensasi ini itu, untuk “bikin hidup lebih hidup.”[8]

Neoliberalisme dan Krisis

Sekarang kita melompat ke level makro: krisis Kapitalisme dan Neoliberalisme. Sistem pemerintahan neoliberal, singkatnya, merupakan suatu sistem pemerintahan yang menekankan intervensi kongkrit yang minim dari pemerintah terhadap mekanisme pasar (kapitalisme). Saya beri penekanan pada kata ‘kongkrit’, ntuk mengindikasikan u bahwa bukan intervensi itu sendiri yang dienggani oleh neoliberal, melainkan intervensi kongkrit di lapangan. Intervensi yang bukan kongkrit ini mungkin akan lebih tepat disebut sebagai intervensi ‘virtual’, dalam artian tidak perlu tampak, tapi efeknya nyata.[9] Intervensi virtual ini memungkinkan pemerintah ‘mengintervensi tanpa mengintervensi’. Contohnya adalah dengan menjalankan kebijakan-kebijakan—suatu bentuk intervensi bukan?—yang memodifikasi suatu lingkungan atau iklim yang baik bagi berjalannya pasar. Dalam pemerintahan neoliberal, pemerintah mengintervensi dari jauh (act at a distance). Jadi jelas di sini bahwa dalam neoliberalisme, bukan bahwa pemerintah tidak ada/absen; negara ada dalam caranya yang berbeda, yang menurut saya justru lebih intrusif melebihi bentuk-bentuk pemerintahan lainnya.

Saya kira tidak ada salahnya dipaparkan sekilas tentang sejarah evolusi pemerintahan liberal ini untuk lebih menangkap sensasi memerintah ala neoliberalisme. Bermula dari revolusi Perancis dengan menggelindingnya kepala Louis XVI sekeluarga dari pisau Guillotine pada 1789 dan tuntutan demokrasi rakyat Perancis saat itu. Mencoba mengambil perspektif negara yang kekuasaan kedaulatannya sedang dirundung krisis, maka kita akan bertanya, bagaimana caranya memerintah dan mempertahankan kekuasaan status quo tanpa harus memerintah secara represif seperti monarki absolut Louis? Bagaimana mengatur sekumpulan rakyat yang masing-masing ingin mengartikulasikan kebebasannya, baik dalam menentukan hidup dan aspirasinya tanpa menggunakan cara-cara seperti monarki absolut Louis? Intinya: bagaimana memerintah secara efektif tanpa harus eksesif? Inilah permasalahan yang dihadapi pemerintahan Perancis transisi saat itu.

Datanglah kapitalisme. Kapitalisme menawarkan kepada negara, apabila ia mau membantu mendirikan dan menjaga pasar, maka ia akan memberikan kesejahteraan rakyat yang nantinya bisa dijanjikan oleh negara kepada rakyatnya agar mereka mau menyerahkan sedikit kedaulatannya untuk diatur. Bagaiman bisa? Logikanya seperti ini: kapitalisme memiliki aksioma yaitu bahwa setiap orang akan bertindak rasional dalam hal ekonomi. Saat ia mengupayakan maksimalisasi kepentingan pribadinya dengan pengorbanan seminimal mungkin, ia juga bertemu orang lain yang juga mengupayakan hal serupa. Pertemuan ini, selama tetap berjalan rasional, akan menuju pada semacam titik ekuilibrium di mana terjadi dual profit—profit di sisi kedua pihak. Akumulasi dari dual profit ini akan menciptakan suatu kesejahteraan bersama suatu bangsa dengan bantuan apa yang disebut Adam Smith sebagai “tangan tak terlihat” (invisible hand). Syarat agar tangan tak terlihat ini bisa bekerja adalah bahwa negara harus melakukan satu hal terhadap pasar: tidak melakukan apa-apa; biarkan saja (laissez-faire!).[10]

 

Sekali lagi: membiarkan, bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Membiarkan, mengimplikasikan bahwa negara mampu melakukan apa-apa, namun ia memilih tidak melakukannya. Memilih tidak melakukannya, berarti ada pertimbangan bukan? Maka pertimbangannya tidak lain adalah tawaran dari kapitalisme: “jangan lakukan apa-apa terhadap pasar dan kamu akan dapat apa yang kau sebut-sebut sebagai kesejahteraan rakyat (the wealth of nation), sesuatu yang kau butuhkan untuk membuat rakyatmu tidak berontak terhadap kedaulatanmu.” Lalu apa guna pemerintah dalam pemerintahan liberal seperti ini? Tidak lain adalah menyediakan kebebasan yang dibutuhkan kapitalisme untuk bisa beroperasi dengan mulus. Kebebasan seperti apa saja? Free market, free trade, freedom of expression, freedom of self-determination, dst. Karena tanpa kebebasan ini, pasar tidak akan beroperasi dengan maksimal. Pemerintah liberal akan menyediakan apa saja yang dibutuhkan agar orang bisa merasa bebas, sehingga ia tidak terhalang untuk berpartisipasi dalam pasar. Mulai deregulasi pasar, modifikasi kurikulum pendidikan yang mengedepankan aspek kebebasan, menebar iklan-iklan layanan masyarakat, memanfaatkan jaringan-jaringan sosial, sampai mendukung pembuatan film: kesemuanya dilakukan demi menciptakan atmosfer yang diperlukan bagi mekanisme pasar untuk berjalan mulus.

Jadi skemanya jelas: di antara negara dan rakyat, terdapat kapitalisme. Kapitalisme merupakan mediasi bagi negara untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Atau, menggunakan logika kapitalisme sensasional di atas, maka kapitalisme menyediakan semacam sensasi mampu menyejahterakan rakyat bagi pemerintah selama ia mampu menjaga dan memastikan bahwa pasar beroperasi dengan baik, bahwa pasar berada pada iklim yang bebas. Sekali lagi, dari perspektif kedaulatan negara bersistem-politikkan liberalisme, adalah sensasi menyejahterakan rakyat yang mereka butuhkan untuk menjaga kedaulatannya, dan bukan kesejahteraan kongkrit rakyatnya. Kesejahteraan rakyat, akhirnya hanya diwakilkan oleh angka-angka statistik yang beku dengan beberapa indikator dan indeks, tidak lebih. Dengan angka-angka inilah berikutnya pemerintah menjustifikasi keberadaannya (dan juga untuk di masa yang akan datang).

Singkat cerita, rakyat berontak dengan representasi demikian. Beroperasinya pasar dengan mulus, tidak berarti lancarnya pemenuhan kebutuhan rakyat. Cemerlangnya angka-angka indikator kesejahteraan, bukan berati berbanding lurus dengan aktualitas kesejahteraan rakyat. Sialnya, pemerintah tenang-tenang saja dan tidak merasa ada yang salah dengan pemerintahan mereka. (Inilah efek dari terperangkap sensasi: lupa diri). Di belakang layar, para pejabat asyik masyuk berkorupsi sembari memanipulasi angka-angka statistik. Saat rakyat “dikhianati” maka mereka membalas balik. Bukankah gambaran ini yang belakangan kita lihat dengan jatuhnya rezim Mubarak di Mesir, Ben Ali di Tunisia, Khadaffi di Libya, dst (di Indonesia?). Bukankah gambaran pemerintah-pemerintah korup ini yang marak menghiasi laman-laman WikiLeaks? Bukankah sehari-hari banyak kita temui sinisme tentang pemerintah, stigma negatif pejabat, pemakluman korupsi di kalangan aparat, dst? Hari ini jelas, sistem representasi negara berdaulat sedang dirundung krisis; ia harus menghadapi kegeraman rakyatnya yang berseru “kalian tidak merepresentasikan saya!”

Menjadi semakin kompleks, saat negara yang diharapkan menjaga kapitalisme sedang krisis, di sisi lain, kapitalisme itu sendiri juga sedang dirundung krisis. Berulang kali krisis menimpa kapitalisme: beberapa yang besar dan terbaru, 1998 di Asia Tenggara dan dilanjutkan di Mexico dan Argentina pada tahun berikutnya; krisis akibat hipotek tahun 2008 di Amerika yang menjalar ke krisis utang Eropa sampai hari ini. Kolapsnya Yunani. Mundurnya Italia dan Spanyol dari Eurozone. Di belahan dunia lain, bangkitlah sebuah negara besar, Cina, yang sekaligus menandai lahirnya bentuk baru kapitalisme, yaitu kapitalisme yang berwajah otoritarian, tanpa demokrasi, tapi tetap mantap melaju dalam turbulensi ekonomi global.

Singkat cerita: kapitalisme dan negara berdaulat sedang dirundung krisis. Neoliberalisme sedang berada pada kondisi sakaratul maut. Sebagai gantinya, Neokonservatisme merebak di mana-mana: di Amerika dengan hawkish-nya, semakin populernya kebijakan anti-imigran di Eropa,[11] marak kembaliknya neo-nazisme di Jerman komplit dengan statemen Merkel untuk mengakhiri multikulturalisme,[12] David Cameron yang mengajak kembali ke nilai-nilai Kristen,[13] naiknya neo-ottomanisme di Turki[14] dan neo-eurasianisme di Rusia,[15] dan di tanah air, maraknya isu-isu semacam ‘restorasi’[16] dan maraknya penandasan “kejayaan masa lalu,” merupakan contoh gejala serupa.[17] Daftar bisa bertambah sampai berlembar-lembar, namun bukan porsi tulisan ini untuk membahasnya.

Di bagian terakhir ini, saya akan membahas apa implikasi dari empat hal yang sudah saya bahas sampai sini: sifat modular kehidupan, hasrat manusia akan sensasi, bioekonomi kapitalisme, dan krisis kapitalisme-neoliberal.

“Get a Life!”

Krisis-krisis yang saya sedikit singgung di atas memang terjadi di level yang lebih makro—moneter, finansial, kebijakan, dst.—namun bukan berarti ia tidak memiliki sebab/efek di level yang mikro keseharian. Apapun itu, sayangnya banyak yang tidak menyadari. Apa, misalnya, hubungannya bergantinya tren fashion dengan krisis kapitalisme finansial? Atau apa hubungannya film-film Holywood dengan krisis negara berdaulat dan neoliberalisme? Tentu saja, saya menyadari, untuk menganalisis hal demikian perlu suatu perangkat analisis yang mutakhir. Namun bukan ini poin yang ingin saya tekankan. Hal yang serius untuk ditekankan adalah bahwa praktik-praktik keseharian yang sedang kita lakukan saat ini, didasarkan pada suatu fondasi yang sedang dalam krisis, dan sialnya tidak banyak yang menyadarinya. Kita toh masih bisa dengan tenang menenggak Starbucks sambil asyik memainkan iPad.

Lalu apa yang mencegah kita untuk menyadari ini semua? Jawabannya ada baik pada diri kita, maupun pada kapitalisme itu sendiri. Di satu sisi, yang kita butuhkan, sebagaimana sudah saya bahas, adalah semata-mata sensasi akan suatu gagasan yang terkandung dalam komoditas. Di sisi lain, kapitalisme sensasional menawarkan sensasi tersebut dalam rupa-rupa komoditasnya. Artinya, komoditas kapitalisme menghalangi kita untuk bisa mengakses secara langsung apa yang kita mau! Apa yang kita mau selalu diperantarai, dimediasi, dan disimulasikan sensasinya oleh kapitalisme. Akhirnya kita tidak pernah sampai pada apa yang kita mau tersebut. Akibatnya, kita tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar terjadi di “sana,” di tempat produksi komoditas, di pabrik-pabrik sensasi. Kita hanya menjadi konsumen pasif yang menerima terus apa yang kita mau. Kita hanya aktif sejauh memberi feedback, pesan-kesan, saran untuk perbaikan, atau mungkin keluhan pelanggan kepada customer care, agar supaya sang produsen memperbaiki performa komoditas/produknya. Sekali lagi: kita tidak pernah secara langsung sampai ke apa yang kita mau tanpa termediasi komoditas; selamanya kita terjebak dalam afeksi sensasi yang disimulasikan suatu komoditas.[18]

Akibatnya jelas, menjadi tidak mungkin untuk berpikir kritis dan reflektif tentang apa yang sedang kita lakukan, boro-boro krisis global. Namun catatan yang penting di sini, hidup dalam kapitalisme sensasional bukan berarti membuat ia tidak mampu berpikir kritis. Sebaliknya, justru pemikiran kritis adalah salah satu cara kapitalisme untuk berkembang dan memperbaiki diri. Kreativitas, misalnya, merupakan salah satu unsur kritisisme ini. Tanpa kreativitas, kapitalisme hanya akan menjadi sesuatu yang monoton, dan tidak “hidup.” Singkatnya, kita diperbolehkan, bahkan didorong untuk berpikir kritis-kreatif selama berada dalam koridor yang disediakan: bagaimana memvariasi memakan Oreo, bagaimana meningkatkan penjualan, bagaimana mengkreasikan iklan, mendesain bungkus produk, dst.

Lalu kritisisme seperti apa yang dihalangi oleh komoditas kapitalisme? Tidak lain adalah kritisisme yang melampaui koridor yang disediakan. Suatu kritisisme yang mencoba menggapai suatu sumber kebenaran yang disimulasi oleh komoditas, yang tak lain adalah kehidupan itu sendiri. Kritik kapitalisme adalah upaya untuk mengklaim kehidupan yang telah dijadikan bulan-bulanan simulasi kapitalisme sensasional. Kritik adalah musuh utama bioekonomi. Kritisisme tersebut adalah yang mampu keluar dari jebakan afektif sensasi komoditas, menerabasnya untuk sampai ke jantung dari kapitalisme itu sendiri dan melihat apa yang ada di dalam sana. Untuk mampu melakukan kritik demikian, maka hal yang diperlukan pertama-tama adalah memahami logika beroperasinya komoditas. Tanpa memahami apa itu komoditas dan bagaimana logika beroperasinya hari ini, maka upaya untuk keluar dari sensasi komoditas adalah sia-sia.

Namun di sinilah uniknya, kapitalisme mampu menciptakan subyek-subyek yang loyal padanya sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan mengutak-atik jantung kapitalisme itu sendiri. Dikatakan unik karena loyalitas tersebut bisa terjadi tanpa disadari. Semisal terkait produk-produk budaya pop seperti film, video game, dst., orang cenderung tidak menganalisis hal-hal tersebut seraya meremehkannya. Analisis lebih baik diarahkan ke data-data statistik dan kebijakan pemerintah. Sekalipun ada orang yang mau mencoba menganalisis budaya pop tadi, serta-merta ia dihardik, “ayolah, jangan terlalu serius!” Atau saat seseorang mencoba menganalisis hal-hal yang remeh temeh seperti prilaku orang di diskotik, selera berpakaian orang, sampai menu makanan suatu restoran, mencoba menunjukan logika komoditasnya, maka kita akan mencemoohnya, “come on, get a life!” atau menyudahinya dengan mengatakan “ah bego ah, berat ngomong ama lo.”

 

Hal lain yang mencegah analisis adalah moralisasi. Saat misalnya kita melihat orang miskin yang meminta-minta, dan kita tergerak, maka kita akan segera mengasihani orang tersebut, seraya memberikan sedekah karena iba. Bagi saya, hal ini menyembunyikan dua lapis kemunafikan: perasaan iba muncul karena seseorang merasa lebih “beruntung,” sehingga ia merasa berdosa dan akan sangat kejam jika tidak membagi keberuntungan tersebut melalui bersedekah/beramal. Tidak ada yang salah. Melainkan dimensi hipokrit segera terasa: orang melakukan sedekah dan amal tersebut semata-mata untuk menghilangkan perasaan bersalah tadi—dan bukan maksud tulus membantu. Hipokrisi kedua adalah bahwa tindakan amal tadi adalah ungkapan malas yang bersangkutan untuk benar-benar “membantu” orang miskin tadi. Di katakan malas karena ia tidak pernah mau secara militan berpikir ruwet untuk melihat kondisi-kondisi apa yang membuat orang tersebut termiskinkan. (Kemalasan ini tentunya berterima kasih kepada kultur instan, praktis, pragmatis yang mewarnai kehidupan sosial hari ini). Absennya militansi paradigma pikir ini membuat amal/sedekah tadi tidak akan mampu benar-benar menolong si miskin. Hal ini tidak hanya dalam artian mengentaskannya dari kondisi yang memproduksi si miskin tersebut dan para miskin lainnya, melainkan juga melawan kondisi tersebut yang notabene merupakan proses deviasi yang merebut kesetaraan: yaitu suatu kondisi yang membuat kita (yang merasa “beruntung”) dan si miskin (yang “malang”) setara; suatu proses yang membuat si miskin harusnya juga “beruntung”—atau sebaliknya, yang membuat kita harusnya juga “malang.”

Ujung dari absen dan melesetnya analisis ini tentu membuat krisis selamanya tidak akan pernah tersentuh, apalagi benar-benar terselesaikan. Seluruh upaya untuk menyelesaikan krisis, saat ia tidak menyentuh jantung krisis tersebut, hanya menciptakan efek sensasi saja: sensasi menyudahi krisis. Selama kita terus terjebak dalam sensasi kapitalisme sensasional, maka akan senantiasa kita harus saksikan, jika bukan merasakan, ombak-ombak krisis kapitalisme tersebut. Nikmatnya kapitalisme adalah sepaket dengan getir krisisnya. Menu baru McDonalds adalah sepaket dengan nasi aking yang sehari-hari dimakan orang-orang di Yahukimo. Pendirian mall-mall di megapolitan juga sepaket dengan perampasan lahan di tanah-tanah pertanian di Cina, di pedalaman India dan Nepal, di Papua, Tiaka, Mesuji, Bima, dst. Begitupula konser David Foster sepaket dengan aksi bakar diri Sondang Hutagalung di depan Istana. Tidak bisa kita terima sensasinya saja seraya menolak negativitasnya yang notabene sepaket. Nikmati keduanya, atau jika kita tidak mau, sudahi keduanya. Hanya dengan ini kita bisa benar-benar “get a life!” [HYP]

NB: Sebelumnya telah dimuat di IndoProgress, http://indoprogress.com/2012/02/20/get-a-life/


[1] Makalah disampaikan pada Seminar Akhir Tahun, “Today’s Crises: Are We Really Living in A Beautiful Li(f)e?” Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Al-Azhar Indonesia, 23 Desember 2011.

[2] Peneliti dan Manajer Program di PACIVIS Center for Global Civil Society Studies, FISIP UI. Kontak: yosieprodigy@live.com

[3] Saya meminjam iklan rokok L.A. Lights di sini.

[4] Kapitalisme, singkatnya, suatu sistem ekonomi yang bertumpu pada proses pertukaran komoditas di suatu ruang yang bernama ‘pasar’. Komoditas yang dipertukarkan tersebut didapat melalui suatu proses produksi dengan berbasiskan pada kepemilikan faktor produksi, atau yang disebut kapital (modal). Berbeda dari sistem ekonomi lainnya (barter atau sosialisme misalnya), kapitalisme mensyaratkan proses dan ruang pertukaran dan produksi komoditas ini dilembagakan, distandarisasi (dengan ‘uang’ utamanya), dan bebas dari intervensi eksternal yang berpotensi mengganggu mulusnya proses pertukaran di pasar tersebut.

[5] Lebih jauh, lihat Walter Banjamin, “Capitalism as Religion” [Fragment 74], terj. C. Khautzer, dalam Eduardo Mendieta, ed. Religion as Critique: The Frankfurt School’s Critique of Religion (New York: Routledge, 2005).

[6] Roland Barthes, Mythologies, terj. A. Lavers (Noonday Press, 1972 [1957]), hal 16.

[7] Gagasan ini dikembangkan terutama olehseorang post-workerist dari Italia, Andrea Fumagalli, “Bioeconomics, Labour Flexibility and Cognitive Work: Why Not Basic Income?”dlm. G. Standing (peny.) Promoting Income Security as a Right: Europe and North America (Anthem Press, 2005); Cristina Morini and Andrea Fumagalli, “Life put to work: Towards a life theory of value,” Ephemera 10, no. 3-4 (2010): 234-252.

[8] Saya meminjam iklan rokok Star Mild di sini.

[9] Virtualitas berbeda dari aktualitas, dalam hal efek. Untuk bisa memiliki efek, sesuatu cukup virtual (tidak benar-benar ada secara kongkrit) tanpa perlu aktual (ada secara kongkrit).

[10] Foucault mencatat dialog yang menjadi asal-usul kata ini. Terjadi pada 1680 antara Jean-Baptiste Colbert, Menteri Keuangan Perancis pada masa tersebut, dengan Joel Le Gendre, perwakilan para pebisnis Perancis saat itu: Colbert : ‘What can I do for you?’, Gendre : “What can you do for us? Leave us alone (Laissez-nous faire)!” Michel Foucault, The Birth of Biopolitics, terj. G. Burchell (Hampshire: Palgrave Macmillan, 2007) h. 20.

[11] Perancis misalnya, tahun lalu mengusir para gipsi. Lihat “BBC News – France sends Roma Gypsies back to Romania”, n.d., http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-11020429.

[12] Lihat “Angela Merkel: German multiculturalism has ‘utterly failed’ | World news | guardian.co.uk”, n.d., http://www.guardian.co.uk/world/2010/oct/17/angela-merkel-german-multiculturalism-failed.

[13] Lihat “Cameron calls for return to Christian values as King James Bible turns 400 | World news | The Guardian”, n.d., http://www.guardian.co.uk/world/2011/dec/16/cameron-king-james-bible-anniversary.

[14] Lihat “Turkish P.M. Erdogan: We Cannot Deny Our Ottoman Past | Global Spin | TIME.com”, n.d., http://globalspin.blogs.time.com/2011/09/29/turkish-p-m-erdogan-we-cannot-deny-our-ottoman-past/.

[15] Lihat “Russia: Vladimir Putin advances Eurasian Union | GlobalPost”, n.d., http://www.globalpost.com/dispatch/news/regions/europe/russia/111026/russia-putin-advances-eurasian-union. dan “Putin prepares the Russian empire to strike back | Simon Tisdall | Comment is free | The Guardian”, n.d., http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2011/dec/01/putin-prepares-russian-empire.

[16] Lihat misalnya “detikNews : Partai NasDem Dideklarasikan, Usung Restorasi Indonesia”, n.d., http://www.detiknews.com/read/2011/07/26/154710/1689795/10/partai-nasdem-dideklarasikan-usung-restorasi-indonesia.

[17] Bahkan sekelompok orang sampai niat membahas tentang Indoensia-Atlantis untuk mengembalikan kejayaan Indonesia. Lihat “Indonesia adalah Atlantis yang Sesungguhnya? – KOMPAS.com”, n.d., http://sains.kompas.com/read/2010/01/28/16331067/Indonesia.adalah.Atlantis.yang.Sesungguhnya.

[18] Bahkan, dalam psikoanalisis Lacanian, apa yang kita mau tersebut sebenarnya tidaklah ada. Kekurangan fundamental yang secara inheren melekat di psike kitalah yang mengkonstruksikan imaji hasrat, suatu gagasan tentang kepenuhan fundamental. Imaji ini yang berikutnya menangkap rupa-rupa konstruksi sosial masyarakat untuk diidentifikasikan dengan dirinya. Jadi singkatnya, ada hasrat dalam diri subyek; namun seperti apa obyek tersebut, sang subyek tidak pernah tahu pasti selain sebagaimana yang “diberi-tahu” oleh orang lain. Lihat pembahasan Lacan tentang lamela dan obyek hasrat, Jacques Lacan, Seminar 7: The Four Fundamental Concept of Psychoanalysis, terj. Alan Sheridan (W.W.Norton Company, 1981), hal. 198.