Tag Archives: performativitas

Alayscape dan Posisi Indonesia di Kancah Kapitalisme Global

Standard

Alayscape dan Posisi Indonesia di Kancah Kapitalisme Global
(Memikirkan Kembali Stabilitas Ekonomi Indonesia Saat Krisis Finansial Global 2008)

Hizkia Yosie Polimpung

Studi ini berangkat dari dua fenomena yang terjadi belakangan ini, yaitu fenomena budaya populer dan ekonomi politik. Fenomena budaya populer yang menjadi perhatian kali ini adalah maraknya konsumerisme dan larisnya produk-produk imitasi (yang kebanyakan dari Cina). Isu terkini terkait kedua fenomena tersebut adalah kemunculan suatu kelas masyarakat yang disebut alay. Alay, atau anak layangan[1] merupakan sebutan bagi mereka yang ingin mengakuisisi gaya hidup kelas atas namun memiliki sumber daya yang terbatas. Alay inilah, dengan dorongan konsumeristik, yang paling banyak menjadi konsumen produk-produk imitasi tadi.

Fenomena kedua, yaitu krisis finansial 2008 silam. Beberapa waktu yang lalu krisis finansial melanda dunia. Akibat dari gagal bayar beberapa perusahaan perumahan di Amerika Serikat yang akhirnya berbuntut pada krisis finansial, makro ekonomi negara-negara lain ikut terbawa-bawa krisis. Negara-negara yang menyandarkan pertumbuhan ekonominya pada pasar finansial tentunya kelabakan, dan akhirnya mau tidak mau melakukan intervensi pasar dengan dana talangan (bail-out) bagi perusahaan-perusaahan gagal bayar tersebut.

Indonesia merupakan salah satu negara yang juga terkena dampak krisis finansial tersebut. Namun demikian, krisis tersebut tidak membawa dampak yang terlalu parah, dibandingkan dengan yang terjadi di AS misalnya. Pemerintah membanggakannya dengan mengatakan bahwa fundamen ekonomi Indonesia telah tumbuh menjadi cukup kuat sehingga dapat meredam dampak krisis yang lebih parah. Dari kalangan ekonom seperti Tony Prasetiantono, Faisal Basri, dan Chatib Basri juga mengutarakan hal serupa, walaupun harus diberi catatan kaki bahwa ketahanan yang relatif baik ini disebabkan karena sektor keuangan Indonesia tidak terkait erat dengan sektor finansial AS. (“Fondasi Ekonomi Kuat,” Kompas 13/10/2008).

Studi ini berusaha merefleksikan ulang argumentasi dengan menggabungkan analisis kultural dalam disiplin Hubungan Internasonal dan Ekonomi Politik Internasional dengan mengajukan pertanyaan ‘apakah ada hubungan di antara kedua fenomena tersebut? Jika ada, bagaimana dan sejauh mana keduanya saling mempengaruhi?’.

Studi ini bertujuan untuk menunjukkan hubungan di antara kedua fenomena dengan cara: 1) memahami terbentuknya kelas alay—alayscape dalam konteks kapitalisme global; 2) melihat dampak alayscape pada ekonomi nasional secara keseluruhan dengan memperhatikan: 2a) kontribusi alayscape pada ekonomi mikro, dan 2b) kontribusi ekonomi mikro pada kondisi Indonesia yang relatif stabil pada krisis finansial silam.

Siginifikansi studi ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa pendekatan-pendekatan yang selama ini dipakai oleh pakar ekonomi politik di Indonesia adalah kurang memadai untuk memahami situasi ekonomi politik nasional. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa selama ini pemerintah telah salah menilai dalam hal relatif stabilnya Indonesia dari krisis finansial global 2008 silam. Hal ini menunjukkan bahwa kapitalisme global telah “mengelabui” pemerintah. Bisa jadi, kali kedua kapitalisme global “mengelabui” pemerintah, Indonesia sudah menjadi tanah petak yang dijual kepada pemodal asing.

Tulisan ini merupakan spekulasi awal untuk masuk ke riset yang lebih empiris sifatnya. Dengan demikian, hasil/luaran dari tulisan ini hanyalah mengutarakan beberapa poin-poin hipotesis awal. Hipotesis awal ini yang nantinya perlu diuji dan dibuktikan.

 


Dari Kapitalisme Global sampai Alayscape

Gilles Deleuze dan Felix Guattari (1984 dan 1987, juga Gammon, 2007) menjelaskan mekanisme beroperasinya kapitalisme global, yang memungkinkannya terus bertahan sampai jangka waktu yang bisa jadi tak terbatas. Pertama, kapitalisme bekerja secara kontradiktif : di level makro politik-kebijakan ia mengkampanyekan jargon-jargon universal (kebebasan, demokrasi, multikulturalisme); namun sebaliknya di level mikro ia justru beroperasi dengan logika partikular, lokal, dan parokial. Kapitalisme memanfaatkan partikularitas-partikularitas yang keberadaannya dimungkinkan dan dijaga oleh universalitas-universalitas yang diusungnya. Misal: dengan wacana demokrasi, perbedaan “diizinkan” untuk ada. Dengan kata lain, jargon-jargon universal tentang penghargaan kebebasan dan toleransi perbedaan telah menjadi lahan subur bagi kapitalisme untuk mengeksploitasi dan mengkomodifikasinya bagi kepentingannya sendiri. Kapitalisme, dengan demikian, hanya bisa beroperasi selama masyarakat terus tersegmentasi ke dalam kategori-kategori semu/cair yang tak terbatas jumlahnya (mulai SARA, idiologi, kelas ekonomi, kelas sosial, asosiasi, afiliasi, kelompok kepentingan, sampai kategori-kategori sepele seperti pengagum artis, film, dan hobi). Kapitalisme sangat berkepentingan bagi terjaganya perbedaan-perbedaan, jika bukan keterpecahan, masyarakat dunia.

Kapitalisme memiliki sifat agresif. Untuk mempertahankan keberadaannya ia amat aktif dalam menciptakan tipe-tipe hasrat baru sekaligus menyediakan penyalurannya. Kapitalisme membagi-bagi masyarakat ke dalam kategori-kategori semu berdasarkan pemuasan hasrat anggota kategori tersebut untuk selanjutnya memberikan ratusan macam objek pemuas hasrat. Hal ini dilakukannya secara terus-menerus. Artinya, akan muncul kategori-kategori atau kelas-kelas baru yang pemuasan hasratnya diciptakan oleh Kapitalisme. Secara psikoanalitis, Kapitalisme mampu mengakomodasi kerinduan hasrati manusia untuk dapat dibedakan dengan orang lain—hasrat narsistik. Gaya hidup, busana, gadget, gelar, pekerjaan, bahkan logat bicara, disediakan oleh Kapitalisme untuk menjadi atribut bagi manusia agar ia dapat membedakan dirinya dari yang lainnya. Inilah “kunci keberhasilan” Kapitalisme menurut Deleuze dan Guattari (Cf. Gilles Deleuze & Felix Guattari, 1983, 1987).

Kapitalisme yang dimaksud di sini adalah sebagai operating ideology. Posisi pandang seperti ini sekiranya adalah pandangan yang paling relevan mengingat asosiasi rasis yang banyak beredar bahwa Kapitalisme adalah dan selalu identik dengan Barat, bahkan Amerika Serikat, telah terbukti ketidak-akuratannya. Kenyataan bahwa dunia Barat sendiri mengalami dampak krisis yang paling hebat dari krisis ekonomi global 2008, menunjukkan betapa Barat (bahkan AS) bukanlah (bahkan tidak pernah) menjadi komprador Kapitalisme sendirian. Di era globalisasi saat ini, seluruh umat manusia adalah komprador kapitalisme, disadari atau tidak, diakui atau tidak. (Cf. Michael Hardt & Antonio Negri, 2000, 2004, 2009; Paolo Virno, 2004). Namun yang penting menjadi catatan, umat manusia hanya menjadi komprador, dan bukan penentu dari kapitalisme itu sendiri. Umat manusia –siapapun ia– tidaklah lebih dari sekedar kendaraan (vehicle) bagi replikasi dan reproduksi Kapitalisme itu sendiri. (cf. Richard Dawkins, 1976)

 

Indonesia bukan pengecualian bagi mekanisme kerja Kapitalisme ini. Hampir seluruh model, pola, dan gaya hidup di Indonesia adalah setelan Kapitalisme, dan hampir seluruh pengelompokkan dan segmentasi masyarakat di Indonesia juga bikinan Kapitalisme. Munculnya kelas yang marak disebut sebagai alay, atau yang dalam penelitian ini disebut alayscape, merupakan salah satu contohnya. Kata alay sendiri sebenarnya tidak jelas dari segi pemaknaannya, dalam artian tidak ada keseragaman dalam pemaknaan kata tersebut sekalipun beberapa melaporkan bahwa kata alay merupakan singkatan dari “anak lebay” (anak berlebihan) atau “anak layangan” (anak kampungan). Tetapi tidak demikian halnya jika dilihat dari segi pengoperasiannya di masyarakat Indonesia, dampak alay sangatlah nyata, sampai-sampai menjadi faktor penyelamat Indonesia dari badai krisis finansial global 2008 lalu. Dengan kata lain, bukan makna itu yang penting dari suatu kata, melainkan dimensi performatifnya; performativitas alay mampu beroperasi melampaui fungsinya sebagai penanda suatu makna. (Cf. Judith Butler, 1993)

Alayscape merupakan kelas semu yang diciptakan oleh kapitalisme melaui budaya populer (gaya, busana, musik, tontonan, dll.) untuk memisahkan para anggotanya dari kelas semu lainnya dalam budaya populer. Bedanya, alayscape cenderung berada pada kelas ekonomi yang lebih rendah dari kelas lainnya yang (jauh) lebih tinggi. Namun demikian, segmentasi ini tidaklah clear-cut, melainkan sangat cair dan bahkan paradoksal: tidak ada orang yang mau disebut alay; tidak ada yang sudi mendiami alayscape! – namun alay tetap saja ada. Dengan demikian, alayscape merupakan kelas produk Kapitalisme yang tercipta tidak untuk dihuni, melainkan untuk selalu dinegasikan dalam pembentukan identitas diri setiap orang. Sekali lagi, Kapitalisme beroperasi dengan logika identitas/perbedaan.

 

 

Alayscape tercipta dengan kronologis sebagai berikut: pertama, Kapitalisme menciptakan model atau gaya hidup yang menjanjikan sebuah kenikmatan hasrati narsistik (perasaan diakui, diterima, bahkan dijadikan panutan oleh orang lain) yang mana media sangat berperan di dalamnya. Kedua, dibuat semacam gradasi kategori harga dalam produk-produk sesuai yang telah dimodelkan tadi. Hal ini akan menciptakan segmentasi konsumen berbasiskan daya beli sehingga akan terdapat sekelompok orang yang mampu mengkonsumsi produk tersebut dan ada yang tidak. Dengan kata lain, akan ada elitisme dalam konsumen produk tersebut yang membuat produk tersebut semakin “berkelas.” Ketiga, ketimpangan ekonomi yang terdapat dalam masyarakat membuat kelompok orang yang tidak mampu membeli produk tersebut dihuni oleh sejumlah massa yang amat besar. Sejumlah besar massa inilah yang dikomodifikasi dengan disediakan jalur pemuasan hasratnya oleh Kapitalisme, yaitu dengan barang-barang imitasi yang secara penampakan menyerupai produk elit tadi. (Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa barang-barang berkualitas rendah dari Cina amat laris di pasaran.) Keempat, munculnya sekelompok besar imitator tersebut segera membuat kelompok yang menggunakan barang-barang asli merasa perlu mempertegas garis batas di antara mereka dengan kelompok imitator. Lagi-lagi Kapitalisme memberi penyaluran hasrat bagi mereka dengan menyediakan produk-produk yang aksesibilitasnya lebih tinggi sehingga membuat segelintir orang ini semakin culas perbedaannya dengan kelompok imitator. Penegasan garis batas inilah yang melahirkan ide tentang alay dan non-alay, imitator norak dan konsumen barang asli. Alayscape akhirnya terciptauntuk menandai mereka-mereka yang ingin tampak berkelas dengan mengkonsumsi produk-produk imitasi. Penciptaan alayscape ini terjadi marak, mulai di bidang busana sampai tontonan, mulai permainan sampai musik, mulai gaya hidup sampai pendidikan.

Masifnya alayscape membuat produk-produk imitasi yang tingkat aksesibilitasnya relatif rendah menjadi laris dibeli. Hal ini pada gilirannya membuat ekonomi mikro dan transaksi pasar tradisional memainkan peran yang lebih besar ketimbang ekonomi virtual di pasar modal/bursa efek dalam porto-folio perekonomian nasional. Hal inilah yang justru membuat perekonomian Indonesia relatif stabil dan tidak terkena dampak yang begitu parah saat badai krisis finansial global 2008 lalu, yang notabene melanda negara-negara yang menjadikan ekonomi virtual di pasar modal/bursa efek sebagai penopang ekonomi nasionalnya. Ironisnya, peran/faktor alayscape luput dari analisis-analisis dominan di bidang ini. Bahkan, pemerintah pun salah mengira saat mengatakan bahwa kuatnya fundamen ekonomi nasional-lah yang menyelamatkan Indonesia dari terpaan badai finansial global.

Hal ini menunjukkan hal yang sangat mendasar tentang Kapitalisme, yaitu yurisdiksinya yang lintas batas kedaulatan negara, dan sifat operasinya yang halus dan hampir tak kentara. Hal ini sudah pasti membuat kerangka-kerangka analisis konvensional menjadi butut dan layak diadili secara akademik.

Menutup uraian teoritis dan konseptual ini, maka dapat diformulasikan suatu hipotesis kerja (working hypothesis) sebagai berikut:

“Fenomena alayscape dan kondisi Indonesia yang relatif stabil saat krisis finansial lalu memiliki keterkaitan erat. Masifnya alayscape membuat produk-produk imitasi yang tingkat aksesibilitasnya relatif rendah menjadi laris dibeli. Hal ini pada gilirannya membuat ekonomi mikro dan transaksi pasar tradisional memainkan peran yang lebih besar ketimbang ekonomi virtual di pasar modal/bursa efek dalam porto-folio perekonomian nasional. Hal inilah yang justru membuat perekonomian Indonesia relatif stabil dan tidak terkena dampak yang begitu parah saat badai krisis finansial global 2008 lalu, yang notabene melanda negara-negara yang menjadikan ekonomi virtual di pasar modal/bursa efek sebagai penopang ekonomi nasionalnya.”

Metode

Menggabungkan kajian Hubungan Internasional dan Kajian Budaya (cultural studies). Kajian tentang globality dalam disiplin Hubungan Internasional juga berimplikasi pada praktik-praktik kultural kemasyarakatan, dalam hal ini budaya populer (pop culture). Karena semenjak globality merupakan “meta-struktur” atau “struktur dari segala struktur” (structure of structures), maka struktur yang mempolakan kegiatan kultural di masyarakat banyak, juga merupakan implikasi dari globality. Singkatnya, globality adalah apa yang membuat ‘yang global’ dan ‘yang populer’ itu ada. Hal ini membuat konvergensi akademik di antara keduanya akan menghasilkan suatu kolaborasi yang tidak hanya unik, namun juga lebih tajam.

Untuk melihat cara kerja Kapitalisme di masyarakat, penelitian ini akan menggunakan metode-metode yang belakangan marak dikalangan kritisi budaya seperti psikoanalisis, hermeneutika, dan genealogi. Karena Kapitalisme di tingkat mikro beroperasi di luar kesadaran manusia, maka metode penelitian yang akan dipakai adalah dengan menggabungkan pembacaan ala psikoanalisis, yaitu pembacaan simptom, dan hermeneutika pengalaman (erfahrung) terhadap common-sense (rasio) dan para-sense (selera) masyarakat populer. Kedua bentuk sense ini didapat melalui dokumentasi forum-forum di internet, wawancara sejumlah populasi berdasarkan kalangan (masyarakat, media, tokoh/artis, produsen). Genealogi akan dipakai untuk melihat bagaimana suatu selera bisa diciptakan melalui ide/pengetahuan dan institusi, dan bagaimana selera tersebut direproduksi secara massal dan “demokratis” (–dalam artian tidak terdikte secara sentral). Untuk membuktikan salah-persepsi di kalangan pemerintah dan akademisi, penelitian ini akan menganalisis sejumlah hasil wawancara dengan pejabat dan analis/akademisi terkait. Studi dokumen juga dilakukan terhadap komunike pemerintah dan publikasi akademis.

PS: Studi ini sedang ongoing, untuk pengutipan pos ini silakan menghubungi penulis. Saran, kritik, dan arahan untuk suksesnya studi ini dapat disampaikan kepada penulis atau melalui yosieprodigy@gmail.com.

Daftar Pustaka

Deleuze, Gilles. (1994) Difference and Repetition, terj. Paul Patton. NY: Columbia University Press.

Deleuze, Gilles & Felix Guattari. (1984) Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia,vol. I, terj. Robert Hurley, Mark Seem dan Helen Lane. London: The Athlone Press.

Deleuze, Gilles & Felix Guattari. (1987) A Thousand Plateus: Capitalism and Schizophrenia,vol. II, terj. Brian Massumi. London; Continuum.

Butler, Judith. (1997). Excitable Speech: A Politics of The Performative. NY: Routledge.

“Fondasi Ekonomi Kuat,” Kompas 13/10/2008

Gammon, Earl. (2007). Discerning the Unconscious of Capitalist Sovereignty: An Introduction to Deleuze and Guattari’s Programme of Schizoanalysis. Makalah konferensi International Studies Association, Chicago.

Lapid, Yosef & Friedrich Kratochwil. (1996). The Return of Culture and Identity in IR Theory. London: Lynne Riener.

Lebow, Richard Ned. (2008). A Cultural Theory of International Relations. Cambridge: Cambridge University Press.


[1] Layangan merupakan permainan yang biasanya dimainkan anak-anak kampung, sehingga anak layangan juga berarti anak kampungan.

Advertisements