Tentang Merumuskan Ide Riset yang Penting (dan Meyakinkan, dan Menarik)

Standard

Hal yang perlu diingat dalam merumuskan suatu ide riset adalah bahwa ide tersebut harus penting, meyakinkan, dan sekaligus menarik. Setidaknya ini simpulan saya selama lebih dari 10 tahun mondar-mandir di dunia riset, baik secara mandiri atau kelompok, di lingkungan akademik, organisasi masyarakat sipil, pemerintah maupun korporat, baik itu riset akademik maupun konsultansi, dan baik itu riset literatur, empirik maupun lapangan. Sebuah ide riset harus memiliki unsur penting dalam artian ia memiliki urjensi untuk dikaji. Urjensi ini bisa berbeda-beda dari segi jenisnya: untuk riset akademik, urjensinya harus pada signifikansi temuannya pada kebaruan konsep atau teoritis; untuk riset konsultansi, urjensinya harus pada perumusan kebijakan strategis maupun taktis; dan untuk riset sosial, urjensinya harus pada implikasi akan perumusan strategi dan praksis transformasi sosial.

Unsur meyakinkan merupakan efek/hasil dari kesan yang didapat orang saat terpapar, mendengar atau mebaca elaborasi ide riset tersebut. Sebuah riset itu meyakinkan pertama-tama saat ia dapat menjelaskan dengan lancar, dengan logika yang runut, dan juga dengan argumen yang tertata secara sistematis. Presentasi ide riset yang meyakinkan harus dapat mengirimkan pesan dan kesan bahwa sang periset benar-benar tahu apa yang ia riset, dan bahwa ia memang adalah orang yang tepat untuk meriset itu. Kesan tersebut didapat saat jelas termaktub hal-hal seperti: apa fokusnya, apa yang harus dicari, tahapannya bagaimana, indikator apa, data dari mana, dst. Hal kedua untuk menjadi meyakinkan bisa didapat dari wawasan suatu riset akan kondisi terkini tentang kerja-kerja riset di seputar tema serupa (state of the art). Saat suatu riset mampu memetakan pendekatan-pendekatan yang saat ini ada mengenai suatu topik, maka ia dapat memberi kesan meyakinkan ini pada pembacanya.

 

 

Hal ini sekaligus menampik kekeliruan terfatal dan terparah abad ini dalam dunia riset, yaitu anggapan bahwa kita meriset karena kita tidak tahu. SALAH BESAR! Jika kita tidak tahu, maka sebaiknya cari tahu dulu lewat ensiklopedia. Karena yang benar adalah sebaliknya: kita meriset untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baru dari yang sudah diketahui. Artinya, mustahil meriset jika kita belum atau tidak tahu apa-apa tentang apa yang akan kita riset.

Beda dengan unsur penting dan meyakinkan, unsur menarik nampaknya hanya ada di dunia akademik, dan bahkan akademik yang cenderung snob. Perusahaan atau pemerintah yang menyewa kita sebagai konsultan riset tidak peduli riset ini menarik atau tidak; yang penting ia bisa memecahkan masalah. Demikian pula bagi tujuan transformasi sosial, menarik atau tidak bukanlah soal selama ia mampu berokontribusi bagi praksis di lapangan. Ke-menarik-an dari suatu riset didapat dari bagaimana ia mampu menawarkan sesuatu yang tidak hanya baru, melainkan juga yang lain, yang berbeda, yang unik, bahkan yang kontroversial dalam kaitannya dengan upaya pengkajian suatu obyek kajian namun tetap dalam koridor dan prosedur keilmuan yang logis.

Tips & Trik Perumusan

Tulisan singkat saya ini mencoba membagikan tips dan trik dari pengalaman saya yang mungkin belum cukup lama ini dalam merumuskan ide riset yang menarik, namun tetap memiliki bobot penting dan meyakinkan. Saya akan khususkan untuk membahas perumusan ide riset akademik saja di sini—itulah mengapa unsur menarik juga saya masukkan. Hal lain yang perlu diperhatikan juga terkait kemenarikan ide riset akademik, yaitu pada karakternya yang berhubungan dengan peer review akademik—khususnya yang lebih memiliki wewenang untuk “memutuskan nasib” riset kita—misalnya: supervisor, promotor, dan pengulas artikel jurnal. Saat syarat ke-penting-an atau urjensi penelitian sudah dipenuhi, maka unsur ke-menarik-an yang akan menjadi penentu. Saat saya sebagai editor disuruh memilih satu dari dua artikel yang sama-sama penting dan meyakinkan, maka saya akan memilih yang paling nyeleneh—semata-mata karena ia lebih menarik.

Namun demikian, sebelum lebih lanjut, saya perlu sampaikan pernyataan sanggahan ini: mengikuti saran tulisan saya tidak serta merta menggaransi ide dan abstrak riset anda diterima oleh supervisor, promotor, atau editor/pengulas tulisan anda. Tulisan ini bertujuan membantu, dan bukan menjamin.

Mari kita lanjutken. Perumusan ide mensyaratkan setidaknya tiga rantai proses kerja:

  • Gestasi/ideasi, atau proses peneluran ide;
  • Penulisan abstraksi;
  • Penulisan garis besar/

Penulisan proposal tidak termasuk di kelompok rantai kerja perumusan ide, karena ia sudah mulai masuk ke rantai berikutnya, yaitu rantai implementasi ide dalam rancang-bangun/desain penelitian. Yang terakhir ini akan di bahas di postingan berikutnya (AMIN!). Untuk kali ini, saya akan fokus pada pertanyaan: bagaimana menemukan ide riset yang penting, tampak meyakinkan, namun juga menarik? Atau, lebih detilnya: bagaimana merumuskan suatu ide yang otoritatif, memiliki signifikansi dan urjensi yang “mengigit” sekaligus memiliki aura yang atraktif dan memancing rasa penasaran yang tinggi bagi kolega akademik kita?

Sampai saat ini saya masih berpegang pada pendapat saya bahwa tingkat ke-penting-an suatu riset ada pada kekuatannya dalam “mengancam.” Misalnya, dengan mengatakan bahwa urjensi riset ini adalah bahwa tanpanya kita tidak akan pernah memahami karakter X yang sesungguhnya sampai kapanpun; atau bahwa pertaruhan riset ini punya implikasi pada pemahaman kita akan X. Singkatnya, atau dengan bahasa lebay-nya, kita harus mampu kirimkan sinyal bahwa tanpa riset ini, anda akan menyesal seumur hidup! Ya, saya berlebihan, tapi semoga anda menangkap maksudnya.

Lalu tingkat ke-menarik-an suatu riset terletak pada seberapa jauh ia bersifat nyeleneh.” Artinya, semakin konvensional dan tertebak suatu riset, maka semakin ia tidak menarik (walaupun, mungkin, penting). Konvensionalitas ini bisa diterobos dengan upaya menggunakan pendekatan lain yang tidak biasa: bisa dari disiplin lain yang umumnya tidak terpikirkan, atau dengan mendaur ulang pendekatan yang secara umum sudah dianggap tidak terpakai lagi, atau bisa juga dengan menggunakan argumen yang selama ini dikira kontra dengan cara menunjukkan bahwa ia bisa secara argumentatif dipelintir untuk argumen pro. Riset itu menarik kalau ia juga kontroversial, apalagi sensasional.

Tips Penahapan

Untuk kepentingan ilustrasi, saya akan fokuskan pada spesies riset literatur (literature research), yang umumnya menggunakan metode seperti systematic review, meta-analisis dan studi kepustakaan. Riset ini penting dibahas terlebih dahulu karena riset ini umumnya menempati tahap ke-0 dari suatu riset, alias riset preliminer, atau “riset untuk riset.” Tujuan utama riset literatur adalah mendapatkan wawasan dan pemetaan yang memadai mengenai pengetahuan yang sudah ada terkait apa yang hendak kita teliti. Adalah keluasan wawasan dan peta pengelompokkan yang jelas yang menjadi kekuatan utama riset literatur. Seringkali, sukses tidaknya riset literatur ini punya dampak krusial bahkan bukan hanya pada penting dan menariknya suatu riset, melainkan juga pada layak tidaknya suatu riset untuk dikerjakan. Lebih menyedihkan lagi, tanpa riset preliminer sebuah riset hanya akan dipenuhi dekorasi common sense, penalaran umum, buai-buaian normatif nan moralis yang amat-sangat bias subyektif (bahkan bias identitas, ras, jender, dan kelasnya)… singkatnya: s a m p a h!

Berikutnya saya ingin mengusulkan langkah-langkah kongkrit mengerjakan tiga rantai kerja yang sudah disinggung sebelumnya. Hanya saja karena keterbatasan waktu (dan banyaknya deadline), saya hanya akan bahas dua rantai pertama saja: peneluran ide dan penulisan abstrak. Sebenarnya, abstrak adalah manifestasi dari peneluran ide, karenanya ia tidak terpisah. Sebelum tahapan kongkrit, kita perlu memahami dahulu bahwa suatu abstrak riset literatur yang baik setidaknya harus memuat hal-hal sbb.:

  • Problem dan fokus kajian (apa yang mau diriset, apanya dari hal tersebut yang mau dikaji, dan yang juga penting: apa yang bukan hendak dikaji)
  • Urgensi penelitian (apa implikasi dan signifikansinya secara akademik—teoritik, konseptual, metodologis, dst.)
  • Literatur tentang apa saja yang akan diriset (literatur di seputar problem/pertanyaan apa yang akan dibahas)
  • Kerangka argumen pengulasan literatur (apa saja yang akan di bahas dari literatur-literatur tersebut)

Lalu tahapan kongkrit yang saya usulkan, dan yang biasanya saya pakai untuk tahapan gestasi/ideasi adalah sbb.:

  1. Memilih satu peristiwa kongkrit yang memantik hasrat meriset kita.
  2. Menentukan tema dan topik yang akan dipakai untuk mengkaji peristiwa kongkrit tersebut, dan akan dikaji kira-kira dengan konsep/teori apa, atau dengan pemikiran siapa, atau dengan paradigma apa.
  3. Memasukkan kata-kata kunci terkait peristiwa kongkrit tersebut ke mesin pencari (Google misalnya), dan membaca sebanyak mungkin berita atau konten yang muncul. Tujuan tahap ini adalah familiarisasi isu.
  4. Mendaftar pertanyaan-pertanyaan apa yang muncul semakin jauh dan banyak kita membaca tentang isu tersebut. Dari pertanyaan tersebut, rangkum ke satu pertanyaan besar. Jika tidak bisa, kita bisa coba memilih pertanyaan yang paling dalam, paling mendasar, dan paling membuat penasaran. Pertanyaan bisa muncul apabila kita dapat sensitif meraba dan mengendus anomali, kontradiksi, paradoks, kejanggalan, keanehan, diskrepansi, dan ironi dari informasi yang kita baca.
  5. Memasukkan tema dan konsep/teori/tokoh/paradigma ke mesin pencari di portal-portal jurnal artikel. Beberapa yang sering saya pakai (diurutkan berdasar favorit saya), sbb.:
    Taylor & FrancisSAGEProjectMuseCambridge Journal

    ScienceDirect

    Willey

    Oxford Journal

    Emerald

    Palgrave

    Springer Link

    Duke Journal

    Chicago Journal

    Brill

    Guilford

    Lawrence & Wishart

    De Gruyter

    IEEE Xplore

    Informit

    IngentaConnect

    JSTOR       

    Seminim-minimnya, setiap artikel yang relevan yang muncul dibaca abstraknya, jika tidak dibaca seluruhnya. (Membaca artikel di portal-portal ini memang mahal, sebaiknya tagih pemerintah anda untuk menggratiskan). Tujuan tahap ini adalah familiarisasi dengan khazanah riset terdahulu yang memiliki kemiripan dengan riset yang sedang kita pikirkan. Dengan begini, kita bisa tahu, “oh ada yang merisetnya dengan cara ini,” “oh ada yang mendekati problem ini dengan cara itu,” “oh ternyata ada yang berkesimpulan begini,” dst.

  6. Menimbang-nimbang apa yang kira-kira masih luput dibahas dari riset terdahulu, apa yang belum terpikirkan, atau bahkan apa yang keliru dari semuanya, apa yang disepakati secara bersama oleh berbagai riset yang berbeda ini, dst. Intinya, kita mencari celah kekosongan untuk kita isi dengan tawaran ide riset kita yang mudah-mudahan penting dan menarik itu. Untuk ini kita harus sensitif meraba, mencari dan mengendus anomali, kontradiksi, paradoks, kejanggalan, keanehan, diskrepansi, dan ironi di tumpukan riset-riset yang barusan atau sedang kita baca.
  7. Berpikir, bermeditasi dan berkontemplasi. Tunggu momen eureka! Eureka, itu arti sederhananya: “OOO AKU TAHU!!” (I’ve found it!!) Rata-rata momen eureka saya pribadi saya dapat pada saat boker dan nyetir. Orang lain kebanyakan saat di kamar mandi. INTERMEZZO: jika anda tanya kenapa pada saat-saat seperti ini? Jawabannya adalah karena saat-saat seperti inilah otak kita tenang dan rileks, dan saat otak kita tenang dan rileks, ia lebih berpeluang menciptakan dan menemukan ide baru dan kreatif. Kata neurosaintis, semakin otak kita sibuk, panik, dan gak santai; semakin jauhlah ide-ide baru nan segar. (Cek juga di sini; di sini diceritakan secara sederhana bagaimana otak kita bertingkah saat kita berkreasi, mengkreasi dan menjadi kreatif).
  8. Mendiskusikan problem, serpihan ide, potongan konsep, dan benang-benang merah yang masih kusut dengan teman, atau peer akademik kita akan amat-sangat membantu. Teman kita bisa saja melihat dengan cara lain, menyatakan dengan cara berbeda, atau menunjukkan kepada bukti atau informasi yang lain. Namun demikian, dan ini PENTING: jangan dulu berdikskusi dengan peer anda kalau anda belum menyelesaikan tahapan ke 1-6. Dengan kata lain, jangan ajak orang diskusi kalau anda tidak tahu mau mendiskusikan apa. (Karena ini bukan hanya bikin anda makin pusing, tapi anda juga mendzalimi teman anda—apalagi jika anda tidak mentraktirnya makanan enak #LOL).

 

Setelah dapat ide dan problemnya, maka kita bisa maju ke tahap berikutnya, yaitu menuliskan ide tersebut ke dalam format abstrak. Tidak ada format dan susunan universal, namun intinya setidaknya ada empat komponen yang saya sampaikan di atas: problem/fokus, urgensi, rencana literatur yang akan dibahas, dan kerangka pembahasan literaturnya. Lalu di mana kah tiga unsur di atas—penting, meyakinkan, menarik—dapat masuk? Jawabnya adalah bisa dikeseluruhan komponen abstrak tersebut. Karena urutannya bisa acak, dan memang saya tidak menganut satu format urutan yang baku (tergantung strategi naratif dan retoris saya di situ), maka saya hanya bisa mewanti-wanti beberapa hal berikut:

  1. Pastikan problem dinyatakan dengan jelas S-P-O-K-nya, begitu juga pertanyaan penelitiannya—menggunakan struktur S-P-O-K. Kalimat harus efektif, lugas dan tidak berbelit-belit seperti usus anda. Usahakan anak kalimat satu saja paling banyak. Malah, kalimat bercucu adalah haram.
  2. Pastikan urjensi yang ditawarkan benar-benar signifikan dan mendesak. Tips saya: mulai dengan hal yang tidak dipungkiri lagi, namun akhiri dengan sesuatu yang tidak terbantahkan. Urjensi ini akan memiliki bobot akademik apabila ia mampu berangkat dari satu pandangan yang umum diterima dan digunakan kebanyakan teori/penelitian, lalu kemudian mendakwa pandangan umum tersebut (semakin keras [dan kasar alias mengolok-olok] dakwaannya, semakin bagus #LOL), dan mengatakan kurang lebih: kalau dakwaan saya tidak dipertimbangkan maka semua teori anda menjadi invalid dan self-contradictory.
  3. Coba untuk memberi selayang pandang awal akan literatur apa saja yang akan anda ulas melalui riset. Akan lebih baik apabila anda sudah bisa mengelompokkan, bahkan melabel-labelinya (tentu dengan argumen yang bisa dipertanggung-jawabkan).
  4. Rumuskan kerangka pembahasan yang akan anda gunakan untuk mengulas literatur-literatur tersebut. Misalnya, akan difilter berdasar kesamaan asumsi dasarnya, berdasar keberpihakannya, berdasar tempat dan tahun kajian, dst. Tips saya: pengelompokkan yang meyakinkan adalah pengelompokkan berdasar asumsi dasar, karena untuk ini kita disyaratkan bisa menyelami pikiran para penulis yang kita kelompokkan—suatu keterampilan tersendiri tentunya.
  5. Nyatakan argumentasi umum anda di abstrak tersebut. Argumentasi ini berfungsi sebagai aspirasi anda bahwa seluruh kajian literatur anda nantinya akan memberi landasan kokoh bagi klaim argumen anda. Sama!—klaim argumen juga harus tersusun secara efektif alias berstruktur S-P-O-K yang jelas. Argumen harus jumawa, penuh keberanian, ketegasan maksimal, percaya diri, bahkan jika perlu “arogan”—(saya benar, yang lain salah). Jangan salah, arogansi ini harus dibangun diatas argumentasi yang kokoh, namun terlebih dan teramat dan tersuper penting: berani bertanggung jawab. Bahkan berani mencabut argumennya saat ia terbantahkan.

 

Untuk abstrak, saya akan contohkan salah satu abstrak panjang (extended abstract) riset literatur saya yang paling saya banggakan sejauh ini. Abstrak ini diterima dan didanai oleh pusat riset studi keamanan yang paling saya puja-puja dan elu-elukan sebagai seorang akademisi HI dan penstudi keamanan strategis (PRIO—Peace Research Institute Oslo, di Norwegia) untuk dipresentasikan di jejaring peneliti, lagi-lagi yang amat saya cintai, Social Studies of Finance (SSF) Network (SSFN). Waktu itu (2015), SSF masih baru banget terbentuk, dan saya amat bangga bisa tergabung di sana. Sekarang, SSF sudah punya jurnal yang bagi saya sangat keren, Finance & Society. Juga karena abstrak ini saya diajak seorang kawan untuk meng-convene sebuah konferensi SSF di kampusnya di London, Inggris. (Yang tentu saja tidak bisa saya iyakan karena problem finansial). Yasudahlah, kembali ke tujuan postingan ini.

Lagi-lagi, abstrak yang akan saya contohkan bisa jadi bukan secangkir teh hangat bagi reviewer jurnal anda atau promotor anda; jadi jangan terlalu dijadikan acuan. Saya akan bedah anatomi abstrak saya tersebut. File bisa diunduh di sini.

Saya sadar abstrak ini tidak sesempurna itu. Bahkan saya tidak menampik itu, khususnya setelah membaca abstrak ini lagi tiga tahun kemudian. Namun demikian, abstrak ini sudah cukup memuat komponen-komponen utama dalam suatu abstrak panjang (extended abstract). Nanti jika ada waktu saya tambahkan abstrak pendek. Semoga berguna! [HYP]

Advertisements

Omnivora, atau Semiovora?

Standard

Omnivora, atau Semiovora?
Dari Rantai Makanan ke Rantai Penandaan Makanan (dan Melampauinya)

 

Konon salah satu aspek yang membedakan manusia dari binatang adalah dari cara makannya. Seekor kera tidak akan repot-repot meletakkan pisangnya ke dalam piring kecil, melumurinya dengan saus krim, menaburi bubuk coklat, menancapkan astor diatasnya, apalagi menamai “prakarya”-nya itu banana split (bdk. Gambar 1) Begitupula seekor singa tidak akan menyuruh burung-burung berkicau merdu dan kunang-kunang untuk berputar-putar terbang diatasnya sembari ia mengajak betinanya untuk menyantap menu makan malam antelopnya dengan harapan memperoleh suasana “romantis” (bdk. Gambar 2). Demikian pula seekor tikus tidak akan melakukan keabsurdan seperti melakukan ritual-ritual tertentu, menyanyikan lagu tertentu, atau mengkomat-kamitkan mantra tertentu saat ia melihat keju di rumah seorang Pastor yang sedang memimpin misa suci (bdk. Gambar 3) Hanya manusia yang melakukan ini semua. Makanan, bagi manusia, nampaknya bukan hanya persoalan masuk-memasukkan sesuatu ke dalam mulut untuk menepis rasa lapar. Makanan tidak pernah sesederhana urusan biologis bagi manusia. Keterlibatan manusia di siklus rantai makanan justru membuat siklus itu menjadi mega-kompleks saat ia memasukan estetika di dalamnya. (Entah manusia patut berbangga atau miris dengan fakta ini).

(1)

(2) (3)
 1  2  3

(4)

(5)
 4  5

Gambar A. Manusia dan makanannya

Mencoba memahami kompleksitas rantai makanan di atas, pendekatan antropologi linguistik bertaruh spekulasi. Ada dua pendekatan yang penulis coba bahas di sini: semiologi strukturalis Ferdinand de Saussure dan semiotika pragmatik Charles Sanders Peirce. Meskipun berasal dari dua daerah yang berbeda—Saussure dari Swiss, Peirce dari Amerika—keduanya melihat dunia dan hal-hal yang terjadi di dalamnya melalui perspektif tanda. Sistem tanda yang mereka lihat ini berasal dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang ber-Bahasa (‘B’ besar). Bahasa merupakan korelat dari logika mediasi; untuk memahami sesuatu, ia harus dibubuhi ‘kata’ untuk kemudian dicerap makna yang telah terlebih dahulu dibubuhi di ‘kata’ tersebut. Tanpa bahasa, maka manusia tidak memiliki akses ke realitas. Ini yang nampaknya melandasi kedua pemikir besar tersebut. Kembali ke rantai makanan. Apabila diintegrasikan dengan logika mediasi tanda, maka penulis kira kita bisa menyebut kombinasi ini sebagai ‘rantai penandaan makanan’.

Rantai Penandaan: semiologi vs semiotik[1]

Basis dasar bangunan semiologi strukturalis de Saussure adalah dua sisi tanda yang saling bertolak belakang: penanda (signifier), atau bahasa de Saussure, ‘citra akustik’, merupakan segala sesuatu yang yang tersaji untuk dicerap oleh indra manusia, sementara petanda (signified) merupakan segala sesuatu yang muncul dibenak kepala saat seseorang dihadapkan pada suatu penanda; referensi petanda yang muncul dibenak kepala itulah yang disebut petanda. Relasi yang kemudian terbentuk antara penanda/petanda inilah yang dimengerti sebagai ‘makna’.[2] Hal penting untuk ditekankan terkait relasi maknawi ini, yaitu sifatnya yang merupakan konvensi sosial. De Saussure menyebut relasi ini ‘arbitrer’ dalam artian sewenang-wenang: maksudnya, tidak ada hukum langit yang mengatakan bahwa apa yang kita sebagai sebuah benda hidup berbentuk menyerupai manusia hanya saja lebih kecil, lebih berambut dan bertangan lebih panjang dari kaki, adalah ‘m-o-n-y-e-t’. Penanda ‘m-o-n-y-e-t’ diberikan secara sewenang-wenang kepada petanda yang dideskripsikan barusan oleh para pendahulu kita, lalu disepakati, dan selanjutnya diteruskan turun-temurun.

Namun apabila diperhatikan lebih seksama, kesebangunan penanda/petanda ini, yang seolah-olah stabil, ternyata sangatlah cair. Semisal, dalam gambar 2 dan 5. Keduanya sama-sama sedang akan makan malam, hanya saja di tempat dan dengan suasana berbeda. Lantas apa dan mengapa harus dibedakan? Marshall Sahlins akan mengatakan bahwa perbedaan tersebut berakar dari logika kelas, atau yang disebutnya “pensée bourgeoise.”[3] Logika ini beroperasi dengan memodifikasi barang secara fisik, mengembangkan variasi dan mereproduksinya sebagai komoditas untuk kemudian di jual. Perbedaan, menjadi tujuan dari proses produksi dan komodifikasi, dan ‘kelas’ menjadi dasar pembedaan tersebut. Persis di sinilah modus produksi kapitalisme bertumpu.

Dari sini terlihat jelas bahwa terdapat dimensi kesengajaan untuk menempatkan suatu makanan tidak hanya di rantai makanan, melainkan juga di rantai penandaan makanan. Makanan seperti no. 4 tidak akan disajikan pada suasana pada no. 2. Demikian pula orang berpakaian seperti pada no. 5 akan diusir di depan restoran no. 2. Semenjak orang-orang yang makan di angkringan (no. 5) tidak banyak yang berekonomi menengah-atas, maka kecil kemungkinan mereka untuk bisa memajang senyum seperti terlihat pada pasangan borjuis kecil (petty bourgeoise) di gambar no. 2. Begitu juga sebaliknya, pasangan di no 2 kemungkinan besar akan tidak berselera saat ia harus makan nasi tumpang (no 4.) di warung angkringan (no. 5). Persepsi dan selera, akhirnya dideterminasi aspek kultural/kelas.[4]

Rantai penandaan makanan ini seakan-akan menjadi grammar yang menyelaraskan penanda ‘makanan’ – ‘pakaian’ – ‘suasana’ – ‘kelas’ – dst.; berada di rantai penanda makanan membuat manusia menjadi makhluk pemakan tanda, semiovora. Posisi seseorang dalam rantai penandaan dengan demikian berperan signifikan bagi pilihan menu tanda mana yang dapat dimakannya di rantai penandaan makanan. Kenyataan bahwa manusia adalah omnivora, tidak serta merta menjadikannya omni-semiovora. Semiovora berkaitan erat dengan logika kelas.

Berbeda dengan semiologi strukturalis yang mencoba mencari grammar, meta-bahasa, atau aspek prinsipil yang menata semesta rantai penandaan, semiotik pragmatik sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada hal tersebut. Seperti label ‘pragmatik’-nya, semiotika ini lebih memusatkan upaya teoritiknya pada aspek praktis dan penggunaan sehari-hari.

Apabila semiologi memahami tanda sebagai suatu flip-side diadik, maka semiotika melihatnya sebagai segitiga tripartit. Ketiga unsur tersebut adalah  representamen (R), obyek (O), dan interpretant (I).  Representamen merupakan tanda yang dicerap oleh indera manusia; Obyek merupakan referensi yang dibuat oleh sang manusia berkaitan dengan represntamen yang tersaji di depannya; Interpretan merupakan hasil penafsiran dari obyek tersebut melalui kognisis manusia. Ketiga proses inilah yang disebut Peirce sebagai semiosis. Jadi, berbeda dari semiologi, tanda dalam horizon semiotika pragmatik Peircean ini tidak mengacu pada sesuatu yang diatur oleh meta-bahasa, melainkan pada suatu obyek yang ada di keseharian manusia tersebut. Tanda, dengan demikian, semata-mata adalah “something that represents something else.”[5] Lalu sampai kapan dan di mana something else dalam proses semiosis ini berhenti? Tidak akan. Rangkaian proses semiosis ini akan bersambung terus-menerus sampai tak terhingga.[6]

Jadi saat suatu representamen selesai dikaitkan dengan suatu obyek tertentu, maka interpretan yang dihasilkan akan langsung berubah menjadi representamen baru, yang akan dikaitkan dengan obyek lain, dan interpretan baru tercipta, dan begitu seterusnya. (Lihat ilustrasi gambar B.)

 Gambar B. Rantai Abadi Semiosis[7]

            Menerapkan ini pada rantai penandaan makanan, saya akan mencontohkan pengalaman pribadi saya dengan pepaya. Sewaktu kecil, saya sangat suka pepaya. Tapi sekarang, jangankan memakan, membayangkan saja sudah mual. Semuanya, sejauh ingatan saya, bermula saat saya, waktu itu berumur sekitar lima tahun, sedang asik makan semangkuk pepaya dengan tangan sambil duduk di lantai. Orang-orang, yang saat itu sedang ada acara arisan ibu saya, sibuk hilir mudik di ruang makan sementara saya asyik dengan pepaya saya. Lalu saat saya mengambil sepotong pepaya, entah karena terlalu keras menggengamnya atau bagaimana, buah itu menyelip dan jatuh ke lantai. Seketika itu pula seorang tamu menginjak buah tersebut, “cret!”, buah pepaya tadi remuk dan meluber di sekitar lantai. Sebagian menempel di sepatu kotor tamu tadi, sementara lainnya semburat di lantai yang tak kalah kotornya. Imaji ‘jijik’ membuat Yosie lima tahun seketika itu pula meletakkan mangkuk pepaya dan pergi.

Sampai hari ini, setiap kali ‘pepaya’ (R) tampak di depan saya, maka imaji-imaji ‘pepaya di sepatu kotor’ dan ‘pepaya yang bersemburat di lantai kotor’ (O) segera muncul. Akibatnya kembali terbayang di benak saya asosiasi ‘hal menjijikkan’ (I). Saya kira ini semiosis yang linier dan biasa. Namun menjadi unik saat saya mengetik esai ini, dan saya tersenyum-senyum sendiri saat menuliskan cerita ini. Bagaimana hal ini dijelaskan secara semiotik Peircean?

Urutannya seperti ini: seluruh cerita yang saya rangkumkan dalam semiosis di atas, dengan sendirinya bertransformasi menjadi representamen baru, katakanlah, ‘cerita Yosie dan pepaya’ (R’). Mengingat R’ ini berikutnya membawa saya untuk mengaitkannya dengan kejadian selanjutnya, ‘saya dimarahi tante saya yang galak karena tidak menghabiskan pepaya’ (O’). Efek dari pengaitan ini membangkitkan ‘kerinduan saya pada masa kecil’ (I’). Seketika itu pula ‘imaji-imaji masa kecil’ (R’’) tersaji di benak saya, mengingatkan saya pada ‘suasana rumah di masa kecil’ (O’’), yang berikutnya membuat saya ‘berhenti mengetik dan membuka folder-folder foto keluarga di notebook saya’ (I’’). I ini akan menjadi R lagi, yang akan dikaitkan dengan O, dst., dst. … dan jika proses semiosis ini diteruskan, maka saya tidak akan mengerjakan tugas-tugas dan makalah yang lain. Satu hal yang konstan dalam setiap I dari proses yang saya lakukan, adalah bahwa ia menghasilkan efek “senyum-senyum sendiri” (I, I’, I”).

Melampaui Semiologi-Semiotik

Jauh dari lelucon dan tidak serius, hal ini memberikan implikasi teoritis bagi semiotika Peircian. Saat saya menyebutkan kata “jijik,” “membangkitkan,” “senyum-senyum sendiri,” maka bisa dilihat bahwa hal-hal ini merupakan fenomena-fenomena pra-bahasa. Sebenarnya Peirce sendiri sempat menyadari ini melalui konsep “kepertamaan” (firstness)-nya—yaitu suatu sensasi murni yang serta-merta dibangkitkan oleh suatu representamen.[8] Fenomena pra-bahasa ini mencakup dimensi afeksi, emosi, mentali, hasrat dan ketidak-sadaran. Apa artinya? Analisis semiotik harus memperhitungkan analisis-analisis non-semiotik (non-representatif, non-mediasi, non-tanda) yang secara imanen terdapat dalam proses semiosis itu sendiri. Sayangnya, baik Peirce maupun de Saussure, dan banyak pengikut mereka, masih belum menyadari hal ini. Adalah Félix Guattari yang pertama kali menunjukkan bahwa tanda memiliki dua mekanisme kerja: pertama, memproduksi representasi, penandaan, makna, dst.; kedua, menangkap (capture) dimensi pra-individual dan pra-subyektif manusia.[9] Dimensi kedua inilah yang banyak luput diperhitungkan. Maurizzio Lazzarato mengungkapkannya dengan baik,

Linguistic theories and analytical philosophy fail to understand the existence of these semiotics and how they operate; they assume that the production and circulation of signs and words is an essentially human affair, one of semiotic “exchange” between humans. They employ a logocentric conception of enunciation whereas a growing proportion of enunciations and circulating signs are being produced and shaped by machinic devices (television, cinema, radio, Internet, etc.).[10]

Tanpa memahami hal ini, maka semiotik hanya akan berakhir sebagai perkakas periklanan dan strategi kampanye politik murahan untuk memanipulasi orang banyak. Urgensi politik pemahaman ini juga mengedepan, semenjak kapitalisme hari ini mempekerjakan tanda—semiokapitalisme, bahasa Bifo—untuk mengekploitasi umat manusia. [HYP]

[1] Sebenarnya tidak ada perbedaan dari kata ‘semiologi’ dan ‘semiotika’ apabila dilihat hanya dari segi etimologisnya. Namun seiring perbedaan substansial di antara Peirce dan de Saussure, maka kedua kata tadi juga terstereotipekan ke masing-masing pemikir: Peirce dengan semiotika; de Saussure dengan semiologi.

[2] Benny H. Hoed, Getok Tular: Semiotik Gosip (2011), [segera terbit], hal. 3.

[3] Sahlins memang tidak membahas susana makan di angkringan dan restoran berbintang, namun saya kira logika ‘pensée bourgeiose’-nya bisa diterapkan di sini. Sahlins memodifikasi ‘pensée sauvage’-nya Claude Lévi-Strauss. Mashall Sahlins, “Food as Symbolic Code,” dlm. J.C. Alexander & S. Seidman, peny., Culture and Society: Contemporary Debates (Cambridge Uni Press, 1990), hal 100.

[4] Seperti kata Jandt, “[C]ultures affect what people sense, but they have a much greater influence on perceptions.” Fred E. Jandt, An Introduction to Intercultural Comunication: Identities in a Global Community, ed. Keempat (SAGE, 2004), hal. 66.

[5] Dikutip dari Hoed, Getok Tular, hal. 4.

[6] Ibid. Hal. 6.

[7] Gambar dikutip dari Paul Cobley & Litza Jansz, Semiotics for Beginners (Icon Books, 1997), hal. 25-6.

[8] Kekeduaan (secondness) kemudian adalah upaya mendeskripsikan dalam bentu bahasa dan/atau konsep tentang kepertamaan tadi. Lalu keketigaan (thirdness) mencoba memberi argumentasi rasional atas kekeduaan tadi. Terlihat jelas bahwa kepertamaan berkaitan erat dengan representamen; kekeduaan, obyek; keketigaan, interpretan.

[9] Félix Guattari, Molecular Revolution: Psychiatry and Politics, terj. R. Shed (Penguin Books, 1984), hal. 73-82.

[10] Maurizzio Lazzarato, “’Semiotic Pluralism’ and the New Government of Signs: Homage to Félix Guattari,” Europan Institute for Progressive Cultural Politics, 1 (2006). Bifo mengembangkan ini melalui teori semiocapitalism-nya. Lihat Franco “Bifo” Berardi, Precarious Rhapsody: Semiocapitalism and the Pathologies of the Post-Alpha Generation (Minor Composition, 2009).

Tentang Tuan tanpa Kepala (Refleksi tentang bentuk baru Koperasi Riset Purusha)

Standard

Saya ingin memberi refleksi terkait perkembangan terkini dari koperasi saya, Koperasi Riset Purusha. Pandangan ini tentu saja dari perspektif personal saya. .. Tentunya saya bisa bilang “personal saya” dengan santai karena personalitas saya sudah tidak lagi disandangi predikat ketua koperasi :p

 

krp

Unit-unit usaha dan gerakan di dalam Koperasi Riset Purusha (rancang-ulang o/ Cecil Mariani).

Di Rapat Anggota Tahunan (RAT) kemarin, kami melakukan suatu terobosan historis terkait eksperimentasi bentuk organisasi yang kooperatif. Di RAT kemarin kami mengakhiri dan membubarkan struktur kepengurusan dan kepengawasan organisasi. Refleksi yang muncul adalah bahwa sedari struktur tersebut, imajinasi kolektif kita sudah terbatasi: ‘pengurus’ mengasumsikan ada yang ‘diurus’ dan ‘mengurusi’; hal ini yang nyatanya berlawanan dengan ide otonomi yang disepakati menjadi corak bersama. Otonomi – dan bukan individualisme – adalah kondisi yang mana seseorang memiliki kuasa atas pilihan-pilihan kreatifnya; kolektif yang otonom tentunya mutlak mensyaratkan inisiatif kreatif dari para anggotanya yang otonom. (Tentu problem otonomi ini tidak akan selesai dengan arsitektur organisasi; faktor modal yang memungkinkan seseorang menjadi otonom dan kreatif tentu di-address dengan program/metode lain juga).

Mencoba mengatasi hal tersebut kami menjajal ide tentang struktur sentral yang “tanpa kepala” namun memiliki banyak organ yang ad-hoc. Dikatakan sentral karena ia mencakup visi besar dan master-plan gerak strategis koperasi ke depannya; proses penentuannya tersentral di Rapat Anggota. Ia tanpa-kepala, karena cockpit “kepemimpinan” di kepengurusan kami urai sedemikian rupa sehinnga ia menampakkan natur sesungguhnya sebagai kerja administratif dan manajerial, alias kerja “rumah tangga” organisasi (atau bahasa beratnya, ‘kerja reproduktif’), yaitu kerja-kerja di “belakang layar” (yang erat kaitan sejarahnya dengan kerja-kerja unpaid, non-heroik dan cenderung “feminin”).

Tidak hanya itu, untuk menjamin bahwa tidak ada yang terbelenggu kerja-kerja dapuran ini (yang disejarahnya telah membelenggu salah satu jender, sehingga melemahkan dan menyita kesempatannya untuk mengakses kerja produktif dan akumulasi potensi kreatifnya), maka kami menggilir kerja adminisitratif manajerial ini dengan metode piket. Posisi kelompok piket ini, yaitu pengganti “pengurus,” kami sebut Kolegial Kolektif atau sok keminggrisnya, Collective-Collegials (CC). CC ini akan piket bergilir selama tiga bulan sekali untuk menangani perkara kesekretariatan, kebendaharaan, kehumasan dan keorganisasian. Karakter CC yang berpiket secara bergilir ini adalah untuk menjamin supaya sentralisasi proses strategis Koperasi tidak lantas sama dengan sentralisasi proses tersebut ke seorang ketua/master (yang menjadi undangan terbuka bagi akumulasi dan eksploitasi kekuasaan personal). Dengan struktur berbasis CC ini, posisi master (visi, strategi, corak, prinsip, planning) tetap ada, hanya saja ia kini tanpa kepala.

Dengan struktur berbasis CC ini, posisi master (visi, strategi, corak, prinsip, planning) tetap ada, hanya saja ia kini tanpa kepala.

 

main-qimg-6e48de10f3fee51597cc14845fb0f69c

“Execution of Louis XVI” – German copperplate engraving, 1793, by Georg Heinrich Sieveking (Gambar dari Wikipedia)

 

Lalu belajar dari gagap dan lambatnya suatu struktur dan proses hirarkis (apalagi yang sok demokratis) secara praktis di lapangan, ditambah kondisi anggota kami di megalopolitan yang mana semua orang mau nggak mau harus sibuk dengan deadline-deadline-nya dalam ekonomi prekariat.. eh ekonomi kreatif.. ditambah lagi macet yang menyedot asa dan chakra dan menyulap kami jadi males-gerak, maka kami mencoba bentuk kerja yang lebih fleksibel, agile, dan – ini penting – ad hoc. Kerja-kerja produktif koperasi – yi. event, riset, jasa, workshop, diskusi, dst., dsb. – kini dijalankan oleh badan yang swa-inisiasi, swa-organisasi dan ad-hoc bernama Inisiatif Kerja atau yang lagi-lagi keminggrisnya adalah Working Initiatives (WI).

WI-WI bisa terbentuk dengan berapapun anggota, kapanpun dan untuk kerja apapun atas nama Koperasi: mulai dari diskusi santai sampai proyek riset multi-tahun, mulai dari workshop editing sampai bikin akademi/sekolah. WI-WI ini hanya perlu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan CC yang sedang giliran piket. Dengan begini, harapannya, ide-ide kegiatan/kerja/riset yang selama ini berkeliaran bisa langsung segera diimplementasikan: dapet ide, cari 2 atau 3 teman/anggota lainnya, langsung eksekusi. Secara keorganisasian, luaran-luaran kerja dari WI ini akan mengisi “portfolio” unit-unit usaha kami yang sudah ada – Owl House, Pusel, Minerva, Playbour, Forks, Riskon, Gereks dan Prakerti (dan unit penerbitan yang sudah disepakati namun belum bernama) – yang kini semuanya adalah organ-organ transparan yang seluruh denyut kehidupannya ditentukan oleh inisiatif dan kerja anggota. Hanya saja, unit yang sudah memiliki basis produksinya sendiri – kedai dan klinik terapi – masih tetap dipertahankan bentuknya yang “berpenghuni”. Sementara unit lain, sama seperti organisasinya, kini berubah menjadi tubuh-tubuh yang tanpa kepala. ‘Tanpa kepala’ tidak lantas berarti absennya kepala, melainkan ia harus diartikan sebagai suatu posisi yang mana banyak kepala bisa hilir mudik di tubuh itu. Siapapun dan WI apapun bisa menjadi unit manapun.

‘Tanpa kepala’ tidak lantas berarti absennya kepala, melainkan ia harus diartikan sebagai suatu posisi yang mana banyak kepala bisa hilir mudik di tubuh itu. Siapapun dan WI apapun bisa menjadi unit manapun.

 

Platform, Organisasi dan Mesin

Sedikit refleksi filosofis organisasi. Struktur master tanpa kepala ini saya kira adalah bentuk hakiki dari apa yang secara serampangan dan asal aja kita sebut ‘platform’. Platform bisa saja memiliki nama, namun karakter dasarnya adalah suatu jejaring sirkuit: jejaring yang mengkoneksikan ide, tubuh dan kerja; dan ruang sirkuit yang dimungkinkan oleh aransemen (admin/manajerial), arsitektur dan infrastruktur. Platform ini bersifat mesinik (machinic) dalam artian ia ada untuk suatu tujuan yang adalah keberlanjutan dari upaya menggapai tujuan itu sendiri; platform tidak memiliki tujuan akhir yang ideal dan abstrak. Yang belakangan ini selalu adalah milik manusia-manusia yang ada di dalamnya. Persis seperti seterika yang tujuan objektifnya bukan supaya pakaian kita halus, melainkan adalah mempertahankan performanya untuk bisa terus memanaskan lempeng besinya secara proporsional.

Artian lain dari mesinik, terkait platform, adalah bahwa ia tersusun atas komponen-komponen spesifik yang memiliki logika dan mekanikanya sendiri dalam beroperasi. Logika dan mekanika ini obyektif sifatnya; tidak peduli di tangan Kivlan Zen, Fahira Idris ataupun Pramoedya Ananta Toer, sebuah seterika tetap hanya akan memproduksi panas kalau kabelnya dicolok ke steker. Mengapresiasi aspek mesinik dari suatu organisasi, maka konsekuensinya seluruh anggota harus mampu mengonfrontasi setan-setan di hal-hal detil (‘cause devil is in the detail). Soalnya, layaknya mesin, tidak akan kita mampu menggunakan apabila kita tidak memahami fungsi-fungsi operasional dari setiap fiturnya. Tidak hanya itu, akan mustahil juga bagi kita untuk memprogram atau memformatnya apabila kita memiliki pengetahuan dan keterampilan terkait prinsip-prinsip umum beroperasinya mesin itu.

Hal-hal detil ini, sayangnya, teramat minuskul, menjemukan dan sampai titik tertentu monoton – dan tambahkan ‘tidak populer’ yang membuat banyak orang besar organisasi (pentolan, pemimpin, pemikir, bos, dst.) ogah untuk menyentuh dan cenderung mempercayakan (baca: lempar tanggung jawab) ke orang lain (dan bisa ditebak, jender orang lain ini biasanya …….). Susah tentu membayangkan ketua konfederasi pekerja besar harus tahu cara me-maintain pencatatan double book-keeping di tabel-tabel Excel, atau seorang pimpinan besar partai tahu teknik-teknik pengarsipan dan penomoran surat, atau dewa pengawas koperasi untuk meng-update laman website. Supaya “dapur” organisasi mengepul, tidak hanya butuh uang untuk membeli bahan makanan, namun membutuhkan keterampilan teknis khusus agar proses pengolahan bahan makanan tersebut menghasikan kepulan asap sedap, dan bukan asap kebakaran.

cmcc-ci-femaleautomechanics

Foto Collin McConnell, Toronto Star; diambil dari thestar.com

Memang pekerjaan dapur organisasi ini cenderung trivial dan tidak-heroik, apalagi macho. Namun tanpa pekerjaan ini, sudah pasti suatu organisasi akan kacau balau. Sialnya, kerja-kerja dapuran ini sering dipandang sebelah mata dan ditakar separuh harga, yang akhirnya banyak dikerjakan setengah hati. Satu-satunya solusi pragmatis (yaitu supaya tidak ada yang perlu mengerjakan ini) yang benar-benar mengafirmasi aspek mesinik dari platform organisasi adalah mengotomasikan sebanyak mungkin kerja dapuran ini. Sehingga waktu, jiwa, dan tenaga yang tadinya terrantai di pekerjaan-pekerjaan ini, kini bisa dialihkan ke kerja-kerja lain yang berdimensi produktif sesuai visi dan rencana-rencana strategis organisasi. Namun demikian otomasi ini harus muncul sebagai semangat kolektif, dan bukan semangat egois; yaitu supaya tidak ada orang lain yang harus terpental ke dapur, dan bukan supaya menyelamatkan dirinya sendiri dari neraka kerja reproduktif dengan menunggangi slogan tekno-modernis dan kolektivitas.

Itulah mengapa agenda otomasi harus dilihat dari sudut pandang pekerja dapuran/reproduktif ini (dan bukan sekedar sudut pandang efisiensi kerja yang sangat ala-ala pengusaha yang cari untung sendiri dengan buntungin pekerjanya): yaitu di satu sisi membebaskan kita semua dari kerja rumahan, dan di sisi lain memberi kita lebih banyak waktu, jiwa dan tenaga untuk mengerjakan – heroic trigger warning (!) – kerja-kerja repolusioner untuk menggembosi rezim kerja upahan di luar organisasi. Mungkin saat ini otomasi total masih belum dimungkinkan secara kapasitas dan kapital koperasi kami. Namun demikian, prinsip-prinsip otomasi ini bisa mulai dilakukan dengan pembakuan SOP-SOP (standard operating procedures) organisasi dan digitalisasi data dan arsip koperasi.

 

Akhir kata, …

Saya, dan – berani taruhan – semua kawan-kawan saya di Purusha, belum memiliki gambaran mengenai luaran dan capaian dari eksperimentasi koperasi untuk “memenggal kepala organisasi” ini. Saya pribadi antusias bercampur penasaran akan apa yang akan terjadi kepada dan dijadikan oleh Koperasi ini. Saya juga ingin tahu sejauh mana struktur headless master ini mampu membuktikan pada dunia (#tsahh) tentang (mitos, atau okelah, hipotesis) kreativitas, otonomi, dan vitalitas manusia-pekerja. Namun satu yang pasti, apabila eksperimen ini gagal – seperti kegagalan-kegagalan sebelumnya – ia adalah suatu rencana programatik dengan capaian-capaian terukur yang bisa didiagnosis, bisa dievaluasi, dan yang paling penting bisa dipertanggung-jawabkan: secara prinsipil, secara teoritis, dan secara praksis perjuangannya. Eksperimentasi bukan persoalan asal coba; eksperimentasi adalah selalu kerja tekun, sistematis dan prosedural di satu sisi, dan di sisi lain, ia mengandung resiko pertaruhan yang tinggi. [HYP]

Financialising Biopower (3): Financialisation’s Double-Bind

Standard

# This is a work in progress, please consult the author for citation #

Part 1 | Part 2 | Part 3

I offer alternative way to overcome the mere analogy between financialisation in economic realm and in social/societal realm, which as I argued before hinders us in seeing a purposeful gradual restructurisation of power in sustainability era. The idea is to reverse the analysis of financialisation of daily life to the analysis of the daily life of financialisation. By the latter, I will emphasise the quotidian and micro dynamics within the financialised life while not neglecting its global biopolitcial intervention. The alternative consists of two moves. The first is to see biopolitical financialisation as double-binded. The second is to take the problem of financialisation seriously in its economic terms. The two will converge around a model to specifically deals with the kind of society that dwells a redoubled financialised life, a society that I will call ‘the society of anticipation’.[1]

Gabriel-Metsu-xx-Usurer-with-a-Tearful-Woman-1654
(Sumber: Usurer with A Tearful Woman, Gabriel Metsu (1654); worldofcoins.eu)

First, on the double bind logic of biopolitical financialisation. To account for the double bind feature, I follow the contextual logic already worked out (and continue to do so) by the Paris school of insecuritisation theory.[2] Drawing from Foucault’s (mostly later) works on governmentality, this school argues that when security concerns are declared, uttered, framed or simply announced, a sphere of insecurity is at the same time created. In other words, the practice of security affects the context within which it emerges and constitutes the society to which it addresses.[3] The two happen simultaneously and thereby cannot be disentangled from each other; Didier Bigo uses the metaphor of Möbius ribbon to accentuate this inseparable of security/insecurity.[4] (The Copenhagen school of securitisation theory, this school criticises, neglects this very consequence of the securitising move). It is this contextual logic of insecurity that my initial theorisation of financialisation’s double bind draws inspiration from.

Second, on the economy of financialisation. Financialisation must be seen as a form of accumulation of capital, or in the French Régulation school, an accumulation regime—that is a long-term trajectory of profit growth.[5] Financialisation marks a new mode of accumulation away from real economy (production by means of material production) to that of finance economy (production of money by means of circulation of money). This is still the old one. The newer one, that is the biopolitical financialisation which targets the life itself, tries to convert every aspect of life into asset/capital to generate a long-term steady amount of profit. Financialisation, in its biopolitical version, then involves a kind of capitalisation process. However, this time, I argue, that this kind of financialisation is also outdated. The latest form of financialisation is no longer the biopolitical financialisation, but rather the financialisation of biopower. In it, the power to permanently financialise every aspect of life becomes the subject of financial investment. This way, the investment is done not for a money profit in return, but for the sustainable process of financial investment itself.

The novelty of this kind of financialisation rests in its attempt to render the biopower itself a collateral. This means to subject the entire ensemble of institution, knowledge and expert that rule over the conception of life to financial logic. By this, the entire ensemble of biopower will be treated as something that is exposed to risk. This gesture might be call a ‘riskification’.[6] This riskification gesture will read biopower in terms of risk. Specifically, the “riskifying actor would need to point convincingly not to a specific and existing threat, but to the existence of conditions of possibility or ‘permissive causes’ of future possible harmful events.”[7] After being subjected to a riskification move, the ensemble of biopower is securitised. Securitising a biopower entity must be seen as reinforcing its modalities in order that it be tougher, more prepared, readier to survive should any risk materialised and to mitigate it.  So, here we have three steps in finansialising biopower: capitalisation, riskification and securitisation.

If the two moves are combined, then we will have a model of analysis sufficient to map out the new biopolitical diagram of the financialisation of biopower. This combination will apply the first move to the second. The three steps financialisation of biopower, insofar it is a financialisation, also has a double-bind feature. When a biopower entity is financialised, then it constitutes the context and the society on which it excercises its power. So the three steps must be added with a mirroring three steps. My proposal would be: proletarianisation, precarisation and insecuritisation. Along with the capitalisation of biopower, proletarianisation happens on the side of the society under the sphere of biopower. This society will be deprived of its access to and autonomy towards capital, which is the life itself.[8] When the biopower is riskified, the society will be precaritised in that it will be exposed to the condition of being unsure, uncertain, and unstable.[9] Lastly, when securitisation reinforces and reinstates the power apparatus to biopower entity, then the society will be powerless and thus exposed to the ever-present danger and enveloped in fear. These three processes will then result in a new kind of society specific to the age of financialised biopower, that is a society of anticipation. People in this kind of society are confronted with permanent feeling of uncertainty, powerless, fear and risk, and would do anything they could to anticipate and to ensure their survival and well-being. Randy Martin rightly points out that “the consequence of risk acceptance is that the actions of others take hold of your fate.”[10]

Aims and Methods

The analytical model outlined above will then be employed in the course of the research. In so doing, I designate three aims for the study. Firstly, I will do a brief genealogy of the biopower before and aftermath of the 2008 crisis. The Foucauldian method of problematisation will be at work. The emergence of any biopower, in the light of this method, will be seen as a specific solution to a specific mode of problematic. So, in the context of this research, I will trace every effort to pose a problem for the former biopolitical aparatus before the crisis and carefully see how a specific mode of biopower came to be the answer to the crisis, while not the other. More specifically, I willl detect a shift of biopower discourse articulating around and during the crisis. In so doing, I will focus on the various discourse, statement, initiative, pamphlet, report, rhetorics, speech, program, rundown event arrangement, invited guest, conference design, etc., articulated by leaders, world figures, top CEOs, experts, etc., in the World Economic Forum (WEF) from around 2008-2013. Specifically, it is on how they responded to the crisis and related it to the problem of governance. The merit of beginning with the WEF is its informal and non-binding nature. The Forum gathers, invites, converses, discusses, provokes, and speculates on the ideas that are relevant for the contemporary situation at time. In 2008-2013, of course, recovery from crisis has seized the main agenda of the forum. Thus, we can get a hint about the form of governance (or biopolitics) in gestation. The aim is to properly contextualise the rise of the new biopilitics, i.e. the financialisation of biopower.

Secondly, I will further elaborate on the detail of the thesis of the new biopolitics. The model of financialisation’s double bind already outlined above will be developed further by bringing it to the dialogue with the existing breadth of academic intervention in the field. To develop the capitalisation/proletarianisation part, I will enter into dialogue with the theorisation of post-Autonomist Marxist scholar on the way in which contempary capitalism, or in their word “cognitive capitalism,” has successfully put every aspect of life to work for the permanent reproduction of capital. For the riskification/precarisation part, I will invite the risk-IR and risk-society theorists into the discussion on the one hand, and relate it to what has been done by some feminist post-Autonomist marxist on the problem of precarity, precarisation, and precariat. Lastly, for the securitisation/insecuritisation part, I will engage the (European) non-traditional security theories, mainly of securitisation (Copenhagen school) and of insecuritisation (Paris school). By the end of the chapter, this research is ready to draw the diagram of the new biopolitics.

Drawing the diagram of the new biopolitics will be the third aim of the study. In doing so, this research will focus on the biopolitical shift of paradigm manifested in the discourse of Post-2015 UN Development Agenda. The shift from the Millennium Development Goals to the Sustainable Development Goals, the rise of the so-called green and blue economy, the food security discourse, biotechnology business, etc., will be put under scrutiny by the analytical model of financialisation’s double bind. To look at the societal context of the enactment of the new biopolitics, this research will compare societal impact of the program on Indonesia, especially through its MP3EI program—The Masterplan of Acceleration and Expansion of Indonesian Economic Development, with the same impact on another country.[11] For Indonesia case, I will focus on the Masterplan document—its truth-knowlege claim, its supporting academic/expert report, its derivative acts (legal and institutional) from the national up to the county/village level, and its network of consultant/trusteeship/NGOs. Some semi-structured interview will be conducted to two groups of informants: decision makers (national to local) and representatives of society. Some prospective targets (but yet still tentative) are: the UKP4 (Presidential Working Unit for Supervision and Management of Development)—which consists of experts (and all of them are outsorced “worker”!), the BAPPENAS (National Development Planning Agency)—which consists of technocrats, the Trade Ministry, and Industrial Ministry, but also the Education Ministry that I claim plays a central role in orienting the country’s orientation of education. With regard to the Post-2015 UN Development Agenda, Indonesia is a unique case due to its being one of the three co-chair (along with Liberia and United Kingdom) specially appointed by the Secretary General to prepare and conceptualise the post-2015 agenda, and to represent the voice of developing countries therein.

Finally, the research will then discuss the findings and draw the theoretical implication for the understanding of both biopolitical financialisation and financialisation of biopower, and explore the possibility to carry on Foucault’s call to defend the society in the wake of the new and contemporary biopolitcs. The new call might be: society’s future must be defended. [HYP]

Read the rest of this entry

Financialising Biopower (2): The Rise of the New Biopolitics

Standard

# This is a work in progress, please consult the author for citation #

Part 1 | Part 2 | Part 3

According to its conceptual inventor, Michel Foucault, biopolitics designate every political strategy that aims at governing, administering, modifying, directing, and modeling the life itself through intervention of it by means of truth-knowledge, practice, institution, and law. So far as life concerns, it is not only human that is in the scope of biopolitics, but rather the entire living being. Biopolitics, then, must be seen as targeting not only population, but also ecosystem.[1] Biopolitics assume a special kind of power which rule over life. Foucault calls this biopower.

Biopower is marked by the power ‘to make live and let die’[2] or a ‘right of death and power over life’[3]. Accordingly, Foucault sees two forms of biopower: the first deals with the maximization of the anatomy of living-body into productive or profitable use, while the second deals with the regulatory control of species-body within a set of population/ecosystem. In other words, the former deals with the ‘management of force-of-life’, the latter deals with the ‘manipulation of form-of-life’.[4] The first might be well approached by the political economy analysis, while the second by political sociology analysis. The two cannot be separated as one overdetermines the other in a dialectical relation.[5] The management of force-of-life must be conditioned by an already designed manipulation of form-of-life. The political economy, insofar the productivities of life are concerned, must presuppose a specific social relation that conceived in a specific form-of-life as its condition of possibility.[6]

maxresdefault
(Source: screen-capture from Pasolini’s film, Salo, 120 Days of Sodom)

In this line of reasoning, financialisation becomes a form of biopolitics when it touches upon the productivities of life. It transforms every productive aspect of life force into market share. It draws out the pattern of productivity, making a forecast, illustrate it in an elusive company portfolio to attract as much investment as possible.[7] In short, financialisation extracts profit not only of the actual productivity of life, but also, and most importantly, of its potential ones.

This kind of financialisation has much been discussed. The most obvious work on this is Randy Martin’s Financialization of Daily Life. In this book, Martin develops a stimulating account on how to perceive the prevalence of financial logic in our day to day activities. He laments that today we are witnessing more and more the expansion of financial logic of virtual economy—that is, of selling and buying stock, of speculating, of predicting, etc.—to the domain of what was not economic like house, school, etc. The society has been “financialised” in that it has to be subjected to the rules like the ones governing the Wall Street: dealing with uncertainty, playing with probability, speculating on prediction, gambling on a perceived long term gain, etc. Consequently, people will arrange their life in such a way that it be ready to confront the uncertain future; they insure everything they can afford to insure, equip themselves with as many skills to be compatible with as many job opportunity they could find, invest their kids with education to ensure their future, save money for future unfortunate event, etc. In short, what the financialised society cares so much in their daily life is only one: risk.[8]

The notion of risk plays a significant role in Martin’s financialised society. The central feature of risk is uncertainty, and to cope with it, a risk-taker has to play speculation and probability game. Risk is a kind of imagined future that effectively structures the present. It is “a rhetoric of the future that is really about the present” and also at the same time “a means of price setting on the promise that a future  is attainable.”[9] Risk management is then about how to deal with the uncertain future by anticipating it with a routinised and permanent measure in the present. Later in his Empire of Indifference, Martin expands this understanding to explain how the United States’ military conquest through the so-called “global war on terror” also adopts this financial logic of risk management.[10] Martin tells us that waging the expensive war on terror, for US, is not meant to achieve the old ideal of sovereignty claim, but instead merely to ensure its ability to circulate. By the Bush Doctrine of pre-emptive action, the US has abandoned a traditional conception of threat that is well-defined in a framework of friend-enemy distinction. Threat is now understood as, dubbing Rumsfeld’s famous ramble, an “unknown unknowns” which is not clearly defined, in fact is not clear enough whether it exists or not. The US overseas military deployment, then, could be read as an effort to simply patrol, circulate, and and be prepared to pre-emptively exterminate the supposedly source of terror before it fully materialises.

Martin’s account of financialisation stretcthing from daily life to the US imperial war on terror perfectly tells the story of biopolitics, or one could say, of biopolitical financialisation.[11] But despite his thought-provoking account, a critical examination would conclude that Martin’s move to extend the financialisation to daily life is a metaphorical one. The relation between the financial market and the financialised daily life of society is merely an analogy. According to the schema of biopolitics outlined above, Martin has done a good service to map out the two side of biopower diagram—the political economy of the financial market and the political sociology of the financialised daily life of society. However, he is still unable to see the two beyond analogical relations. As a result, he overlooks the novel dimension of what is it like to have our daily life financialised. Namely that the procession of society toward a financialised one is necessarily a political project which, in Martin’s account, appears only as a coincidental extension or consequence. The analogy has blinded Martin to see the gradual restructurisation of biopower which, I argue, arrives its moment after the crisis erupted.

In this research, I argue for the need to read the financialisation of daily life as a correlate (or abstraction in Marx’s term), and not as an analogy, of the financial economy. To reformulate it in the schema I outlined before, the financialised form-of-life/society is a condition of possibility for the financialised force-of-life/economy. Failure in seeing these two as political, will hinder analysis in recognising an active intervention at the two. In fact, such analysis will stand no chance to have a faintest idea about what is being the focus of this present research, that is the new biopolitics that aims not only at financialising the daily life, but also most importantly at financialising the biopower to sustainably finansialise the daily life. This failure will also, most importantly, close analysis to any possibility to change the situation. Here, I resonate Foucault’s call to defend the society through our academic engagement.[12]

NB: this is a fragment of my paper presented in the Research Course on Interconnections of Finance and Security, Peace Research Institute Oslo (PRIO), Oslo, Norway, 8-10 Oct 2015.

[1]I must say, my definition of biopolitics is quite different from the sense Foucault himself has in mind. See his The History of Sexuality, vol 1, trans. R. Hurley (NY: Pantheon Books, 1978), Part V. The definition presented here has close affinity with the posthumanist and animal studies scholars like, among many, Cary Wolfe. See his What is Posthumanism (London, Minneapolis: Univ of Minnesota Press, 2010).

[2]Michel Foucault, Society Must Be Defended, trans. D. Macey (NY: Picador), p:241.

[3]Idem., The History of Sexuality, vol 1, Part V.

[4]On the concept of form-of-life, see Giorgio Agamben, “Form-of-life,” in P.Virno & M.Hardt, eds., Radical Thought in Italy (London, Minnapolis: Univ. Of Minnesota Press, 1997).

[5]Stefano Lucarelli has succinctly elaborated this in “Financialization as Biopower,” in A. Fumagalli & S. Mezzadra (eds.), Crisis in the Global Economy, trans. J.F. McGimsey (LA: Semiotexte & Ombre Corte, 2010), pp:119-138.

[6]Treatment of the the dual character of biopower has also done elsewhere, albeit with different conception. Michael Hardt & Antonio Negri, Commonwealth (Cambridge, Mass.: Harvard Univ Press, 2009), pp:56-63.

[7]Foucault has actually seen this coming but did not elaborate it further. See Foucault, Society Must Be Defended, p:246.

[8]Randy Martin, Financialization of Daily Life, (Philadelphia: Temple University Press, 2002), p:34.

[9]Idem., p:105.

[10]Randy Martin, An Empire of Indifference: American War and the Financial Logic of Risk Management (Durham and London: Duke University Press, 2007).

[11]Martin actually also quotes Foucault.

[12]Lipschutz has made a similar call to the reader of International Political Sociology. See Ronnie D. Lipschutz, “Call for Strategy and Action in IPS,” International Political Sociology, 2, 1 (2008).

Financialising Biopower (1): The New Logic of Financialisation in the Era of Sustainability

Standard

# This is a work in progress, please consult the author for citation #

Part 1 | Part 2 | Part 3

The primary objective of this research is to attempt at constructing a model to understand and to map out the contemporary diagram of biopolitics in the aftermath of crisis. By this, I seek to tease out the novelty of the new diagram of biopolitics that slowly but surely emerges in the post-crisis world (by crisis I refer to the precise event of global financial crisis of 2008). The novel biopolitical diagram concerned is what will be called as the financialisation of biopower. If the modern gesture of financialisation[1] was one towards the financialisation of every aspect of life,[2] then the new one, I argue, is the financialisation of the power to sustainably financialise every aspect of life. While the former implies only the present or short-term concern, the latter accentuates a long-term future, even permanent, ambition. In what follows I will elaborate on the idea.

future_painting-cropped-small
(Source: dustinmetz.com)


Sustainability and the rise of the new financial logic

To grasp the new gesture of financialisation mentioned before, one only has to look at the outcome document of the UNCSD 2012 Rio+20 conference entitled The Future We Want, and its subsequent post-2015 UN Development Agenda. Cynics would see the document merely as a statement of commitment to renew commitment, or as an agreement to hold next conferences. No significant agreement made with regard to the core agenda. But a closer and more serious look might notice the prognostic of a new gesture of financialisation within.

Beside what cynics might have it, the Future document also urges for a higher degree of policy coherence at the global, regional, national and local level. In order to do this, the effort must be inclusive to every stakeholder of the program. The idea is to share the stake of the environmental concern to as many parties as possible. Hence, ‘global partnership’ has then become one of the buzzword of the post-2015 agenda. Business entity is seen to have an important role in this global partnership since it has the ability to invest, and thus fuels (read: finances) sustainable development projects. The stake is high, the document implies, as the sustainability of the development itself that is being concerned. No sustainability, then no business. So, if business wants to keep going, then a “not-business-as-usual” effort must be done—this is what the document whispers in silence. Here, development must be seen as the very condition of possibility for business. A paradox is quick to arise: if not-business-as-usual efforts are made to guarantee the business-as-usual, then the not-business-as-usual cannot be seen as one that does not yield profit; the very profit of the not-business-as-usual efforts is the sustainability of the business-as-usual itself, and thereby making it itself a business-as-usual!

Starting off from this paradox one must ask: cannot the sustainability project of the post-2015 agenda be seen as a new political project to securitise sustainability itself? Affirmative answer would bring one to see the novelty of the project: the inclusive strategy of global partnership in undertaking the post-2015 sustainability agenda is less a strategy to achieve the sustainable development goals, than to ensure that the sustainability of the project itself be sustainable. Here, we must not fail to notice that there are two layers of sustainability. Global partnership of stakeholders to embark on a not-business-as-usual project must then be seen as a form of collective intervention on the very condition for the sustainable development project to continue—that is to be sustainable. The aim, then, is not directly towards the success of the project, but rather merely in securing its longevity and continuity. This way, we could see the concrete project of, for example, food security is not to achieve a secure supply chain of food, but to secure the future business of securing food. In other words, the sustainable development project first imagined as outside of business-as-usual, is now slowly but surely being dragged back to the sphere of business-as-usual. The post-2015 agenda is the moment when the sustainable development agenda made business by way of its securitisation.

But for my part, I am not content with such conclusion—which perhaps might do well to some environmental critics. My aim is to draw out the implication further towards our understanding of power. The first move then is to construe the gesture of making business out of sustainable development project, as a gesture towards financialisation of the future. As many have noted, the sustainable development project first imagines a specific  (ideological) form of future, and then invites investment. This is how they financialise the future. The “future we want” could only then be achieved through business. (This way, the Future We Want might sound like the Future the Business Wants). But this is not novel enough, or at least not according to what I think is. What is absolutely new is the gesture of making business out of the effort to securitise the sustainable project itself. It seeks not only to financialise the future, but it also seeks to financialise the very condition needed to sustainably financialise the future.

But, some would ask, what is future? What does future comprise? According to the Future document, ‘the future’ encompasses poverty, food, agriculture, water, sanitation, energy, tourism, transportation, city, settlement, health, employment, social protections, oceans, seas, disaster, climate, forest, biodiversity, land, mountains, chemicals, waste, mining, education, and gender. In short: everything that constitutes life itself. Financialisation of the future, then, entails the financialisation of every aspect that constitutes life in the future. Life, even the preservation of it, becomes a commodity for business, and sustainable development programs provide justification for this. Thus said, the sustainable development agenda must be seen as a correlate of power that ensures the smooth functioning of business agenda. In addition, along the post-2015 development agenda, a new form of power gives rise. Its reach covers not only the already existing (business) process of financialising every aspect of life at present and in the future, but now has expanded to cover the condition under which the future of the (business) process of financialising life’s future might be secured. Since this process of securing—i.e. securitisation of financialisation through sustainable development agenda—significantly involves another financial scheme, the one must not also fail to notice two layers of financialisation. It is this redoubling of financialisation that I call the new financial logic in sustainability era.

Conceptually, the new financial logic is manifested in what I will call the financialisation of biopower, and which at the same time marks the birth of the new biopolitics. So, in what way does the financial logic relate to biopower and biopolitics? Next section will discuss this.

NB: this is a fragment of my paper presented in the Research Course on Interconnections of Finance and Security, Peace Research Institute Oslo (PRIO), Oslo, Norway, 8-10 Oct 2015.

 

[1] Braudel has argued that the gesture towards financialisation is not a new phenomena. It always occurs every time trade in real commodity declines. Fernand Braudel, Civilization and Capitalism 15th-18th Century, Vol III: The Perspective of the World, trans. S. Reynolds (London: Collins, 1984), pp: 241-7.

[2]Efforts to document the issue is abound, among the bold ones are: Randy Martin, Financialization of Daily Life (Philadelphia: Temple University Press, 2002); Randy Martin, An Empire of Indifference: American War and the Financial Logic of Risk Management(Durham and London: Duke University Press, 2007); Andrew Leyshon and Nigel Thrift, “The Capitalization of Almost Everything: The Future of Finance and Capitalism,”Theory, Culture & Society, 24, 7–8 (2007), pp: 97–115; Christian Marazzi, The Violence of Financial Capitalism, New Edition, trans. K. Lebedeva & J.F. Mc Gimsey (LA: Semiotexte, 2011).

Mengeskplisitkan asumsi kita tentang mengapa uang bukanlah uang pada dirinya sendiri? (1)

Standard

Apakah kita benar-benar percaya uang yang kita pakai untuk membeli suatu barang adalah benar-benar mampu menilai barang tersebut? Lalu apakah kita benar-benar percaya bahwa uang itu adalah memang uang—bukankah ia cuma kertas yang bisa saja saya cetak dengan printer saya di rumah? Tulisan ini mungkin bisa mencoba memberi jawaban. Bukan melalui buku teks dan teori-teori besar. Tapi cukup dengan logika sederhana. Soalnya, hal ini sudah selalu kita asumsikan dalam tindakan kita sehari-hari. Yang perlu kita lakukan kalau begitu cuma satu: ikuti logika kita pelan-pelan dan sabar. Ya, pelan-pelan, soalnya hari ini kita sudah terlatih untuk berpikir instan dan ogah yang panjang-panjang. Terimakasih untuk cwider, detik.com dan sejawatnya. Juga sabar, karena kali ini kita yang akan berpikir sendiri, bukan seperti kebiasaan kita melempar tanggung jawab berpikir ke orang-orang yang kita coblos, atau kita bayar, atau kita perentahken. LOL.

 

 

coin owl

 

Oke, mari bayangkan keadaan sebelum ada uang. Saat orang masih bertukar barang satu sama lain. Sampai suatu hari, muncul permasalahan: misalnya, saya yang bertarung mati-matian dengan babi hutan, merasa tidak rela menukarkan sebagian buruan saya itu dengan setangkup beras; sederhana saja, saya merasa itu tidak sebanding. Kesebandingan inilah yang membuat sistem tukar menukar ini menjadi bermasalah. Orang kesulitan menakar nilai baik barangnya sendiri maupun barang yang mau dipertukarkan dari orang lain. Belum lagi saya menakar nilai kerja saya untuk membantu tetangga saya membangun rumah, dan hanya diberi ucapan terima kasih bersenyumkan simpul. Di sinilah perlahan muncul kebutuhan dan akhirnya inisiatif untuk memulai standarisasi “nilai” barang, sedemikian rupa sehingga setiap barang bisa mendapatkan acuan nilai yang sama dan akhirnya bisa diperbandingkan.

Standar ini biasanya adalah barang berharga. Atau apapun yang disepakati (sebagai berharga) oleh orang-orang yang nantinya terikat dengan standar tersebut.  Batu berkilau, daun berurat zig-zag, mungkin.. atau perak dan emas. Dengan bersepakat menaksir babi hutan senilai 5 butir kelereng emas, maka teman saya bisa menukarkannya dengan 5 tangkup beras yang satu tangkupnya ditaksir 1 butir. Atau, apabila ia memiliki kelereng emas yang cukup, ia bisa memberikan saya langsung kelereng emas sebanyak 5 buah tersebut. Demikianlah alat tukar menjadi solusi bagi problem pertukaran. Setidaknya untuk sementara waktu.

Sebelum meneruskan cerita pertukaran itu, dari solusi ini saja sebenarnya kita bisa simpulkan beberapa hal terkait pertukaran ini, entah para petukarnya, lalu alat tukarnya, dan sesuatu yang dipertukarkan dengan alat tukar. Pertama, bahwa solusi tersebut sebenarnya menumpang pada dasar yang bukan miliknya. Jika kita cermati dalam proses pertukaran tadi, ada suatu mekanisme kesepakatan yang harus dicapai di antara pihak-pihak yang akan bertukar barang tersebut. Ada kesepakatan mengenai: 1) standar tukar yang diacu; 2) taksiran nilai dari barang masing-masing berdasarkan standar tadi.  Tanpa ada kesepakatan-kesepakatan ini sebagai dasar, maka mustahil pertukaran terjadi.  Ini memunculkan masalah baru, yaitu seputar apa yang membuat orang punya posisi tawar untuk bersepakat. Karena kemampuan orang untuk menyepakati sesuatu akan ditentukan dari posisi tawarnya; bisa saja orang terikat kesepakatan meski ia tidak ingin bersepakat, namun karena posisi tawarnya lemah, maka ia terpaksa bersepakat . Kedua, sistem ini disandarkan pada kesalingpercayaan timbal balik di antara pihak. Saya harus percaya bahwa orang lain yang kita akan ajak bertukar benar-benar telah bersepakat; begitu juga orang lain terhadap saya. Kesepakatan umum boleh ada, tapi yang terlebih penting adalah saat saya hendak bertukar dengan seseorang, maka ia harus menjalankan kesepakatan itu. Ini pun memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana seseorang di satu sisi bisa dipercaya atau tidak (trust-worthiness), dan di sisi lain bisa meyakinkan orang lain untuk memercayai dirinya atau tidak (convincability).

Sekarang, kita alihkan pandangan kita dari para manusia-manusia petukar ini, ke arah alat tukar mereka. Pula masih dalam skema solusi ini, kita bisa simpulkan beberapa hal. Pertama, alat tukar yang dipakai, apapun itu bentuknya, sebenarnya hanya bisa menjadi dan diterima sebagai alat tukar sejauh ia disepakati; tanpa ada kesepakatan mengenai kebutuhan akan alat tukar, maka jangankan nilai taksiran, keseluruhan sistem pertukaran dengan standar baku tadi tidak akan pernah ada. Di sini, emas, perak dan benda apapun yang menjadi alat/standar tukar tidak serta-merta menjadi alat tukar; ia harus diletakkan, dimaknai dan dimanipulasi di dalam dan melalui suatu problematik sosial tertentu, yaitu ketidaksebandingan pertukaran. Ini sekiranya bisa menjadi pemanasan untuk kita memahami ‘uang’ yang layaknya seluruh alat tukar, bukanlah uang pada dirinya sendiri. Kedua, ada sesuatu dalam spesifisitas atau kerincian yang unik dari suatu alat tukar (apapun bentuknya) sehingga menarik para manusia untuk menjadikannya alat tukar. Maksudnya, bisa saja kita memilih pasir, atau helai rambut, atau kotoran kadal, misalnya, tapi mengapa kita memilih emas sebagai alat tukar? Sesuatu yang ada dalam emas namun yang melebihi emas itu sendiri inilah yang memungkinkan sang emas untuk bisa dijadikan suatu alat tukar. Tanpa sesuatu itu, ia tidak akan bisa menjadi alat tukar. Tapi apakah ‘sesuatu’ yang ada dalam emas namun melebihi emas itu sendiri ini? Untuk sementara kita sebut sesuatu ini sebagai ‘obyek X’.

Masih belum waktunya kembali menoleh ke manusia petukar, sekarang kita perlu perhatikan implikasi solusi tadi kali ini pada apa-apa yang dipertukarkan oleh manusia dengan alat tukar. Apa-apa ini, saya kira tidak berlebihan kalau sudah bisa kita sebut sebagai ‘komoditas’. Simpulan sementara yang bisa ditarik dari solusi tadi terkait komoditas, antara lain: pertama, kalau kita bersepakat bahwa sistem standar tukar ditopang oleh kepercayaan dan kesepakatan, dan kalau kita juga bersepakat bahwa ada obyek X dalam alat tukar yang memungkinkannya bisa diperbandingkan secara umum dengan komoditas-komditas tukar yang bermacam-macam, maka nilai tukar dari suatu komoditas tidak datang dari dirinya sendiri. Banyak persyaratan rumit yang membuat suatu komoditas menjadi layak tukar dan karenanya memiliki nilai tukar yang bisa diperbandingkan dengan komoditas lainnya melalui suatu standar tukar hasil kepercayaan dan kesepakatan manusia. Lagi-lagi, ini bisa menjadi pemanasan untuk kita nantinya memahami istilah lainnya, ‘harga’. Kedua, ada hal lain dari suatu komoditas yang membuatnya jadi menarik untuk dipertukarkan. Atau dengan kata lain, nasib suatu komoditas tentunya tidak terus menerus menjadi sesuatu yang dipertukarkan selamanya. Setelah ditukar, pastilah ia akan dipakai, dipergunakan, atau singkatnya dikonsumsi. Hal lain yang membuatnya diinginkan untuk dikonsumsi ini tidak lain adalah nilai gunanya, singkatnya kegunaan praktisnya sehari-hari. Sehingga pertanyaan baru yang akan lahir adalah seputar asal-usul kemunculan nilai guna ini pastinya.

Kemunculan aspek kegunaan dari suatu komoditas tentunya tidak tiba-tiba turun dari langit. Prakondisinya adalah adanya suatu kebutuhan yang persepsi akan pemenuhannya dilihat di komoditas tadi. Artinya apabila saya tidak melihat setangkup beras sebagai mampu memenuhi kebutuhan saya akan makanan pokok misalnya, maka sudah pasti beras tadi tidak akan memiliki kegunaan bagi saya, dan saya tidak akan repot-repot menyepakati dan memercayai suatu sistem standar tukar, dan akhirnya berpartisipasi dalam aktivitas pertukaran beras dengan orang lain. Lalu, persepsi ini datang dari mana?—pertanyaan baru lagi seketika muncul. Dari manapun itu, yang pasti ia sifatnya sosial dan kultural; dalam artian ia adalah hasil suatu pemaknaan (kultural) akan kebutuhan berikut pemenuhannya, yang muncul sebagai hasil dari interaksi bersama (sosial). Alhasil, lagi-lagi muncul faktor lain yang memungkinkan seseorang bisa mendominasi interaksi dan mengarahkan pemaknaan, yang kemudian membuat persoalan persepsi ini menjadi lebih kompleks lagi. Bisa kekuasaan, karisma, pengetahuan, atau kekerasan. Apapun itu, kita kesampingkan dulu; tetap fokus ke komoditasnya. Prakondisi lainnya adalah kenyataan bahwa komoditas tukar tadi tidak saya ciptakan sendiri—entah karena tidak mau, malas, tidak bisa, tidak mampu, dst. Artinya saya butuh orang lain untuk menciptakan komoditas yang saya persepsikan mampu memenuhi kebutuhan saya tersebut. Proses penciptaan komoditas inilah yang kita sebut-sebut dengan ‘kerja’.

Dan, dengan disebutkannya istilah yang terakhir ini, penjelasan akan semakin bertambah kompleks, bungbro dan jengsis! Karena artinya di dalam penilaian akan suatu komoditas, kita juga ikut menaksir nilai kerja yang terkandung di dalam komoditas tersebut. Maka secara otomatis, ‘kerja’ inipun ikut-ikutan menjadi komoditas itu sendiri! Kerja ini memiliki nilai tukar dan nilai kegunaan yang kemudian ditaksir dengan standar nilai tadi, dst., dsb.  Lagi-lagi masalah taksiran siapa yang dipakai dan taksiran siapa yang diabaikan akan muncul. Begitu pula dengan hal-hal lain seperti posisi tawar, kekuasaan, karisma, pengetahuan, atau kekerasan, yang membuat kita bisa menjadi juara dalam kontes penaksiran tersebut. Dan “berita baiknya” hal-hal ini pun bisa ikut-ikutan menjadi komoditas!!!

Sebelum makin melebar kemana-mana, kita kembali ke simpulan yang bisa ditarik dari solusi sistem tukar dalam kaitannya dengan komoditas. Sekarang simpulan ketiga. Memang nilai tukar dan nilai guna komoditas ditentukan oleh hal-hal yang berada di luarnya (nilai tukar: persepsi akannya, kesebandingannya dengan komoditas lain; nilai guna: nilai kerja si pencipta komoditas), tapi sebenarnya itu semua tetap harus bersama-sama mendarat dan berjumpa di spesifisitas dan kerincian kongkrit dari sang komoditas. (Antropolog hari-hari ini menyebutnya ‘materialitas’). Karena aspek kerincian inilah yang menjadi sasaran proyeksi persepsi kebutuhan kita, menjadi justifikasi dan aspek pembeda dari komoditas lainnya, dan juga menjadi sasaran/tujuan seseorang bekerja menciptakannya. Aspek kerincian ini adalah properti obyektif dari sang komoditas itu sendiri, dan bukan sesuatu yang ditambahkan kemudian oleh subyektivitas manusia (persepsi, satuan ukuran pembeda; taksiran nilai).

Lalu pertanyaannya kemudian, apakah dengan suatu barang menjadi komoditas lantas hal itu berarti seluruh kerinciannya menjadi obyek si pencipta komoditas dan obyek konsumsi sang konsumen? Sayangnya tidak. Karena kerincian komoditas itu adalah sesuatu yang obyektif, artinya manusia harus berusaha menggapai itu. Manusia pertama-tama harus menyadarinya dahulu, lalu mencaritahu tentangnya, kemudian menggali dan mengolahnya dengan kerja, lalu menaksirnya dengan harga, lalu mempertukarkannya dan akhirna menggunakannya. Inilah rantai panjang yang menghubungkan kerincian obyektif dari komoditas dengan subyektivitas manusia yang diarahkan ke komoditas tersebut. Namun, bukan berarti dengan panjangnya rantai penghubung lantas menjamin 100% kerincian obyektif sang komoditas telah terjembatani dengan sempurna. Tentunya tidak. Beras yang saya tukarkan dengan kelereng emas, memang telah disadari sebagai pemenuh kebutuhan di kala lapar, ia telah diketahui khasiatnya, dan kerja-kerja penciptaannya telah dilakukan dengan berbagai cara. Buktinya saya bisa menemukan beras diciptakan oleh orang-orang lain. Tentunya orang-orang tersebut juga menyadari dan mengetahui hal yang sama dengan saya. Bagaimanapun juga, tetap ini tidak menjamin bahwa keseluruhan kerincian beras sudah dijembatani secara absolut. Soalnya, tiba-tiba, kerabat saya membuat istana-istanaan dari beras, dan saya dengar tetangga saja membunuh penggoda suaminya dengan menimpuki dengan beras belasan karung. Artinya, dengan segala kerinciannya beras ini mungkin untuk melakukan, menjadikan mungkin, menghasilkan, dst., efek lain, selain yang saya sadari, ketahui dan kerjakan selama ini! Kerincian komoditas dengan demikian adalah selalu berupa potensialitas terbuka yang hanya bisa secara sebagian dijembatani oleh manusia. Ia tidak mungkin secara total dijangkau oleh seluruh upaya-upaya dan subyektivitas manusia.

Perlu catatan sedikit di sini. Apakah dengan dikatakan “secara sebagian dijembatani manusia” itu artinya manusia memang telah berhasil menjemput sebagian dari kerincian komoditas tersebut?—sehingga kita bisa semacam mencicil sedikit demi sedikit untuk mengevakuasi seluruh kerincian tersebut. Mari kita cermati lebih dekat lagi. Dan kali ini sebaiknya dengan lebih merendahkan hati manusia kita. Karena selama kita selalu mengukur obyektivitas dengan ukuran-ukuran kita, maka selamanya kita hanya melihat diri kita di obyek-obyek itu. Apakah berat dari satu kilo beras adalah benar-benar satu kilo? Yang benar saja: ‘kilo’ adalah satuan yang kita ciptakan lalu kita kenakan ke si beras; si beras itu sendiri tentunya tidak tahu menahu dan tidak ada urusannya dengan kilo-kiloan itu. Jadi, pada dasarnya, dengan mengetahui, menyadari, mempekerjakan, dan menukarkan kerincian komoditas, kita sebenarnya tidak menyentuh apapun dari kerincian obyektif komoditas. Yang kita lakukan adalah menerjemahkannya, membahasakannya, memaknainya dan merekayasanya seturut subyektivitas kita. Tidak lebih. Kerincian komoditas akan selalu menjadi potensialitas terbuka.

Catatan ini, walaupun kecil, amat penting. Karena ini akan membantu kita juga dalam memahami cara kerja alat tukar dalam memperbandingkan dan menyebangunkan dirinya dengan rupa-rupa komoditas ini. Karena yang coba diakses oleh alat tukar ini sebenarnya bukanlah kerincian obyektif dari komoditas tersebut, melainkan subyektivitas manusia yang diproyeksikan ke kerincian komoditas tersebut melalui proses kesadaran, pengetahuan, kerja dan pertukaran. Paradoks, alat tukar mencoba mengukur sesuatu yang tidak terukur! Bisakah potensialitas terbuka diukur, disebangunkan dan diperbandingkan? Bisa saja; karena toh ukuran dan kesebangunan tersebut adalah bisa-bisanya subyektivitas manusia. Dan kita juga sangat tahu bagaimana itu ditentukan oleh banyak faktor seperti posisi tawar, kekuasaan, dst. Namun, dengan penjelasan saya tadi, kini kita bisa tahu pasti bahwa sebenarnya pengetahuan itu bukanlah tentang si komoditas itu sendiri, melainkan pengetahuan yang kita susun mengenainya. Tapi tenang saja, ada satu cara untuk bisa setidaknya mencicipi pengetahuan obyektif ini. Yaitu saat pengetahuan kita akan komoditas itu gagal: gagal mengukur, gagal menyebangunkan, gagal memperbandingkan. Artinya saat rezim pengetahuan dan pengukuran komoditas itu roboh, maka kita dapati pengetahuan obyektif mengenai komoditas berikut kerinciannya: yaitu ia tidak terukurkan. Sehingga di sini akan mencuatkan pertanyaan lainnya: apa yang membuat suatu rezim pengukuran nilai komoditas bisa ada dan langgeng sekalipun sang komoditas itu sendiri pada dasarnya adalah tak terukurkan?

Setidaknya melalui solusi standar tukar sederhana ini kita bisa mendapat hal-hal fundamental mengenai dinamika dan komponen-komponen yang terlibat dalam pertukaran itu sendiri yang padahal sebenarnya sudah kita lakukan sehari-hari. Yang kita perlu adalah mengikuti dan mengamati logika rasional kita saja. Dengan memahami ini, maka kita bisa bersiap untuk memahami standar tukar berikutnya yang bisa jadi lebih kompleks, yaitu dengan uang yang kita praktikkan sehari-hari. Yap, uang dan uang-uangan lainnya (cek, saham, sekuritas, sekuritisasi, reksa dana, derivatif, obligasi, kontrak berjangka, dst.). [PFH]