Catatan tentang Rasionalitas Teori Permainan dan Kritik Amartya Sen

Standard

Asumsi mendasar dari teori permainan adalah bahwa subyek-subyek yang dikaji berpemikiran rasional, dalam artian mementingkan-diri sendiri, bahkan sampai titik tertentu, egois. Asumsi ini melandasi analisis-analisis behavioral teori permainan ini. Logika yang dipakai adalah logika konsekuensi (ketimbang logika kepantasan [appropriateness] yang lebih konstruksionis) yang merupakan turunan dari etika konsekuensialis dari filsafat utilitarianisme. Logika ini akan menilai segala sesuatu berdasarkan konsekuensi atau efek yang tampak. Prilaku, dengan demikian, dilihat sebagai rentetan prilaku yang mengikuti alur kausalitas: A, disebabkan oleh B, B disebabkan C, dst.; sehingga agar subyek mau melakukan A, maka manipulasi perlakuan (treatment) B harus dilakukan.

Dalam ilmu ekonomi dan politik, instrumen perlakuan tersebut pada umumnya berupa rupa-rupa insentif. Insentif menjadi semacam “umpan” bagi subyek untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Artinya, prilaku tertentu yang diharapkan oleh yang analis inilah yang ingin diprediksikan oleh teori permainan. Akumulasi prilaku ini, atau bahkan pengaplikasiannya ke seluruh domain sosial, akhirnya menarik bagi para pengambil kebijakan. Karena metode ini tentu akan memudahkan mereka untuk mempertimbangkan (manipulasi, baik arti positif maupun negatif) kebijakan seperti apa yang dapat mereka lakukan. Metode agregasi yang dikritik Amartya Sen, saat diimplementasikan ke kebijakan publik, sering kali juga menggunakan pendekatan teori permainan.

Sayangnya, pendekatan ini mengasumsikan universalitas rasio bagi subyek. Tidak semua subyek memiliki standar rasionalitas yang sama. Pendekatan ini abai sama sekali terhadap kekuatan sejarah dalam membentuk tekstur rasionalitas ini. Akibatnya, di pertengahan abad 20, pendekatan ini perlahan-lahan menyaksikan ketidak-relevanannya karena ia harus mengurusi pengecualian-pengecualian yang semakin banyak. Namun para analis permainan ini tidak menyerah, mereka semakin mempercanggih teori mereka dengan melengkapinya dengan teori kompleksitas dan bahkan, teori kaos (chaos). Di kubu ekonomi, pendekatan rasionalis (yi. pilihan rasional [rational choice]) ini justru dipaksakan secara global melalui rupa-rupa teori, dan bahkan berikutnya diperkuat oleh kebijakan negara-negara kuat,              neoliberalisme.[1] Gagasan mendasar dari ekonomi neoliberal ini adalah mengkespansi logika ekonomi ke domain-domain yang tadinya bukan domain ekonomi: pendidikan, sosial, kebudayaan, dst. Yang pada efeknya, bahkan tanpa disadari oleh para ekonom tersebut, semakin merambah ke: pertemanan, pacaran, pernikahan, sampai ke pandangan mengenai diri (sekolah sebagai investasi; tidur sebagai investasi tenaga untuk kerja, dst.) Logika ekonomi, melalui neoliberalisasi, menjadi semakin intrusif, intim dan menyeruak ke seluruh ruang-ruang kehidupan.[2] Inilah inti dari ekonomi neoliberal (dan bukan semata-mata absennya pemerintah bla..bla..sebagaimana diiterasikan terus menerus oleh opini publik kita). [HYP]


[1] Ekonom yang saya maksudkan di sini, antara lain, Milton Friedman, Theodor Schultz, dan terutama Gary Becker.

[2] Uraian ini didasarkan dari studi saya tentang pemikiran Gary Becker. Lihat, misalnya, pidato Becker yang disempurnakan: Gary Becker, “Nobel Lecture: The Economic Way of Looking at Behavior,” The Journal of Political Economy, 101, 3  (Jun., 1993). Bagi saya pribadi, justru lebih menarik judul versi yang belum direvisi—“The Economic Way of Looking at Life”—karena lebih menunjukkan bahwa sasaran dari ekonomisasi itu adalah hidup itu sendiri.

Advertisements

About postfordisthighway

Researcher at PURUSHA Research Cooperatives (http://purusha.id) and Member of Editor Collectives at Jurnal IndoProgress (http://indoprogress.com/). My current researches are: - Financial geo-monetary-politics - Method and practice of cooperativization - Interrogating hypnotic subconscious' status in Lacanian psychoanalytic unconscious

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s